USD - Hari ketiga Kongres World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026 dibuka dengan suasana reflektif melalui doa pagi yang dipimpin oleh John Neelankavil, delegasi dari India. Agenda utama hari ini berfokus pada tantangan dan peluang yang dihadirkan oleh perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan (AI) dalam dunia pendidikan Jesuit.


Acara pada hari ini berlangsung dengan sesi diskusi pertama menghadirkan John Tan, Founding Headmaster dari Harrow Hong Kong Children School Shenzhen Qianhai, sebagai pembicara utama. Dalam presentasinya yang bertajuk "Drawing a New Map of Hope", ia mengajak para alumni untuk memikirkan kembali jenis formasi dan pendampingan yang dibutuhkan siswa di masa depan.
John Tan menekankan bahwa teknologi tidak boleh dipandang sebagai kekuatan yang memusuhi kemanusiaan. Dengan menggunakan Paradigma Pedagogi Ignasian yang mencakup Konteks, Pengalaman, Refleksi, Aksi, dan Evaluasi, pendidikan Jesuit diharapkan mampu mengubah tantangan digital menjadi peluang untuk menuju harapan yang lebih besar. Ia juga memaparkan fase-fase perkembangan AI, mulai dari sekadar bantuan (assistance) hingga AI menjadi infrastruktur yang meresap dalam kehidupan sehari-hari, di mana peran manusia akan bergeser pada tugas-tugas yang memerlukan penilaian kompleks, kreativitas, dan tanggung jawab moral.

Sesi kedua menghadirkan Martianus Ezerman, pakar kriptografi dan dosen senior di Nanyang Technological University, Singapura. Sesi ini mengeksplorasi bagaimana teknologi membentuk kembali hati nurani dan integritas di ruang publik digital.
Ezerman menjelaskan pentingnya integritas dan otentikasi dalam komunikasi digital, dengan mengambil contoh sistem perbankan daring yang mengandalkan matematika dan teknik komputer untuk melindungi pengguna. Namun, ia menekankan bahwa aspek manusiawi dalam keamanan siber jauh lebih menantang daripada aspek teknisnya.

Salah satu sorotan utama sesi ini adalah studi kasus dari Universitas Brown, di mana penggunaan AI secara masif dalam ujian take-home menyebabkan penurunan drastis performa mahasiswa saat ujian dikembalikan ke format tertulis di kelas. Ezerman berargumen bahwa pendidik memiliki tanggung jawab untuk tidak menempatkan siswa dalam "godaan" penggunaan AI yang tidak etis, mengingat godaan tersebut sangat tinggi di era kompetitif saat ini. Ia juga mencatat tren baru di mana perusahaan AI mulai banyak merekrut lulusan humaniora seperti filsuf dan psikolog karena masalah AI yang paling sulit saat ini justru berkaitan dengan masalah kemanusiaan.
Humas USD
John Tan menekankan bahwa teknologi tidak boleh dipandang sebagai kekuatan yang memusuhi kemanusiaan. Dengan menggunakan Paradigma Pedagogi Ignasian yang mencakup Konteks, Pengalaman, Refleksi, Aksi, dan Evaluasi, pendidikan Jesuit diharapkan mampu mengubah tantangan digital menjadi peluang untuk menuju harapan yang lebih besar. Ia juga memaparkan fase-fase perkembangan AI, mulai dari sekadar bantuan (assistance) hingga AI menjadi infrastruktur yang meresap dalam kehidupan sehari-hari, di mana peran manusia akan bergeser pada tugas-tugas yang memerlukan penilaian kompleks, kreativitas, dan tanggung jawab moral.

Sesi kedua menghadirkan Martianus Ezerman, pakar kriptografi dan dosen senior di Nanyang Technological University, Singapura. Sesi ini mengeksplorasi bagaimana teknologi membentuk kembali hati nurani dan integritas di ruang publik digital.
Ezerman menjelaskan pentingnya integritas dan otentikasi dalam komunikasi digital, dengan mengambil contoh sistem perbankan daring yang mengandalkan matematika dan teknik komputer untuk melindungi pengguna. Namun, ia menekankan bahwa aspek manusiawi dalam keamanan siber jauh lebih menantang daripada aspek teknisnya.

Salah satu sorotan utama sesi ini adalah studi kasus dari Universitas Brown, di mana penggunaan AI secara masif dalam ujian take-home menyebabkan penurunan drastis performa mahasiswa saat ujian dikembalikan ke format tertulis di kelas. Ezerman berargumen bahwa pendidik memiliki tanggung jawab untuk tidak menempatkan siswa dalam "godaan" penggunaan AI yang tidak etis, mengingat godaan tersebut sangat tinggi di era kompetitif saat ini. Ia juga mencatat tren baru di mana perusahaan AI mulai banyak merekrut lulusan humaniora seperti filsuf dan psikolog karena masalah AI yang paling sulit saat ini justru berkaitan dengan masalah kemanusiaan.
Humas USD




