USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kuliah Umum Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma "MANUSIA, NALAR, AGAMA, DAN KEKUASAAN"

diupdate: 1 jam yang lalu

1

USD - Program Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma (USD) bekerjasama dengan Selaras Arts Space and Forum, menyelenggarakan kuliah umum bertajuk Manusia, Nalar dan Agama, dan Kekuasaan, pada 20 Oktober 2026. Bertempat di Ruang Kadarman, Gedung Pusat USD, Yogyakarta, kegiatan ini mengundang Prof. Dr.Phil. H. Al Makin, M.A., Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, untuk membahas buku beliau yang berdudul "Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar dan Agama, dan Kekuasaan."

Diskusi dipandu oleh FX. Bambang K. Prihandono, S.Sos., M.A., dosen Sosiologi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang sedang menempuh studi S3 di Program Doktor Kajian Budaya USD. Direktur Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Profesor Paulus Sarwoto, Ph.D., dalam sambutannya menilai buku tersebut menarik karena menelusuri perdebatan gagasan sejak masa Yunani hingga polemik kebudayaan di Indonesia. Ia menyinggung perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane mengenai orientasi kebudayaan Barat dan Timur sebagai salah satu contoh pergulatan intelektual dalam merumuskan identitas Indonesia. Sarwoto menegaskan, apa yang kita pelajari dari perdebatan gagasan adalah, tidak seharusnya kita mengkriminalisasi gagasan yang berbeda. Diskusi menyoroti pembentukan identitas Indonesia melalui perjumpaan tradisi agama dan pemikiran, sekaligus mempertanyakan kemampuan masyarakat mempertahankan daya kritis terhadap kekuasaan.

2

Dalam pemaparannya, Al Makin mengungkapkan bahwa buku tersebut berangkat dari pertanyaan mendasar tentang siapa sebenarnya "kita" sebagai orang Indonesia. Menurutnya, identitas Indonesia terbentuk melalui perjumpaan berbagai tradisi, termasuk Hindu, Buddha, Islam, dan pengaruh Eropa. Proses tersebut melahirkan adaptasi dan koeksistensi yang membentuk corak kebudayaan Nusantara. "Buku ini berangkat dari keresahan pribadi tentang pertanyaan, siapa sebenarnya 'kita' (orang Indonesia)," ujar Al Makin. Namun, kemampuan beradaptasi dan hidup berdampingan tidak sertamerta menjamin integritas, demokrasi, maupun hubungan yang sehat antara masyarakat dan kekuasaan.

Al Makin menilai kecenderungan untuk terus menyesuaikan diri dapat melemahkan daya kritis apabila tidak diimbangi keberanian mempertanyakan kebijakan negara. “Ketika semuanya itu berusaha untuk adaptasi, kritik kita terhadap negara itu lemah,” katanya. Krisis nalar politik tersebut, menurut Al Makin, juga tercermin dalam kecenderungan perubahan sikap politik tanpa argumentasi yang konsisten. Ia membandingkan perdebatan intelektual pada masa sebelumnya, ketika tokoh-tokoh seperti Soekarno dan Mohammad Hatta mempertahankan pandangan melalui argumentasi, dengan situasi saat ini yang dinilainya memperlihatkan lemahnya konsistensi gagasan. Ia turut menyoroti pernyataan politik rezim pemerintah saat ini yang saling bertentangan, di antaranya, ketika komitmen terhadap lingkungan tidak sejalan dengan kebijakan yang disampaikan.

3

Selain relasi agama dan kekuasaan, Al Makin menyoroti keterputusan tradisi intelektual Indonesia. Ia menilai pemikiran para pendahulu kerap tidak dilanjutkan melalui dialog kritis oleh generasi berikutnya. Dalam dunia akademik, penggunaan teori asing tanpa menelusuri kontribusi pemikir Indonesia sebelumnya dinilai menghambat kesinambungan pengetahuan. Padahal, tradisi intelektual membutuhkan proses saling menanggapi, menguji, dan mengembangkan gagasan. Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa pertanyaan mengenai siapa "kita" tidak hanya berkaitan dengan asal-usul agama dan kebudayaan, tetapi juga dengan cara masyarakat membangun kehidupan politik. Adaptasi memungkinkan beragam tradisi hidup berdampingan, tetapi tanpa nalar kritis, kompromi berisiko melemahkan pengawasan terhadap kekuasaan.




Raihan Athaya Mustafa - Mahasiswa S2 Kajian Budaya
Editor : Jean Pierre

  kembali