USD - Program S3 Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma mengadakan kuliah lapangan pada Kamis, 22 Oktober 2026, di Ruas Bambu Nusa Surodadi, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungan ke ruang eco-art ini ditujukan untuk membedah mata kuliah "Seni, Sains, dan Teknologi" serta "Estetika Sosial" secara langsung melalui objek material di lapangan.
Pemilihan Ruas Bambu Nusa bukan tanpa alasan, karena tempat ini bisa menjadi salah satu representasi teori yang dipelajari di dalam kelas sekaligus memantik imajinasi untuk melihat Yogyakarta sebagai ruang belajar ekologis.

St. Sunardi, salah satu dosen pengampu mata kuliah pada program S3 tersebut, menyoroti fenomena maraknya objek wisata yang saat ini hanya bermuara pada pariwisata massal (mass tourism). Ia melihat bagaimana lingkungan hidup kerap dieksploitasi menjadi tempat wisata dengan hanya mementingkan kepuasan manusia dan keuntungan ekonomi semata.
"Nah, begini tuh tujuannya menimbulkan minat orang-orang belajar untuk melakukan eksperimen. Yogya itu mesti menjadi sanggar raksasa, sepertinya menarik kalau seperti itu, ya," ujar Sunardi dalam diskusi hangat bersama inisiator ruang dan enam mahasiswa S3.
Visi tersebut sejalan dengan napas Ruas Bambu Nusa yang memang dikembangkan untuk tujuan interaksi seni, sosial, dan budaya yang berwawasan lingkungan. Sang inisiator sekaligus seniman ekologis, Widya Poerwoko Soegarda atau yang akrab disapa Yaya, menceritakan proses panjang mengubah lahan bekas galian yang dulunya bertanah tandus tersebut. "Karya ini (dimulai) pada tahun 2016, setelah menjalani program Magister di ISI (Yogyakarta). Saya coba garap ini," ungkap Yaya.
Menariknya, pengembangan ruang ini juga digerakkan oleh pemahaman filosofis dari seni bela diri Silat Bangau Putih. Menurut Yaya, ajaran silat ini sejatinya dapat diaplikasikan sebagai metode untuk mengasah sensibilitas dan kepekaan manusia terhadap lingkungannya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan mahasiswa juga menelusuri sejumlah fasilitas unik yang meleburkan unsur sains, seni, dan rekreasi, di antaranya Biota Gravity Lab dan Biota Trek. Biota Gravity Lab difungsikan sebagai ruang interaktif untuk mempelajari gravitasi dengan bersepeda melintasi jalur yang penuh rintangan (obstacle). Sementara itu, fasilitas Biota Trek menjadi lintasan alam yang biasa digunakan untuk ajang balap sepeda downhill (fun race).
Selain menghidupkan ekosistem kreatif melalui berbagai ruang kolaboratif—seperti listening cafe Suara Dewandaru, pemutaran film "Permata", lini literasi Ruas Pustaka, kuliner lokal "Suarasa", hingga sesi meditasi "Jeda"—identitas eco-art kawasan ini paling kental terasa pada lanskap alamnya.

Seluruh area dipenuhi tumbuhan berbagai jenis bambu. Lebih dari sekadar penopang ketahanan tanah dan kehidupan, bambu-bambu tersebut dieksplorasi sebagai karya seni hidup. Pertumbuhannya dimodifikasi menjadi kubah (dome) atau lorong rindang hanya melalui teknik penarikan dan penganyaman yang menyesuaikan batas maksimal ketinggian bambu, membuktikan bagaimana alam dapat bertumbuh selaras dengan imajinasi dan kebutuhan ruang manusia.
Raihan Athaya Mustafa
Editor: Chrisnina
Pemilihan Ruas Bambu Nusa bukan tanpa alasan, karena tempat ini bisa menjadi salah satu representasi teori yang dipelajari di dalam kelas sekaligus memantik imajinasi untuk melihat Yogyakarta sebagai ruang belajar ekologis.

St. Sunardi, salah satu dosen pengampu mata kuliah pada program S3 tersebut, menyoroti fenomena maraknya objek wisata yang saat ini hanya bermuara pada pariwisata massal (mass tourism). Ia melihat bagaimana lingkungan hidup kerap dieksploitasi menjadi tempat wisata dengan hanya mementingkan kepuasan manusia dan keuntungan ekonomi semata.
"Nah, begini tuh tujuannya menimbulkan minat orang-orang belajar untuk melakukan eksperimen. Yogya itu mesti menjadi sanggar raksasa, sepertinya menarik kalau seperti itu, ya," ujar Sunardi dalam diskusi hangat bersama inisiator ruang dan enam mahasiswa S3.
Visi tersebut sejalan dengan napas Ruas Bambu Nusa yang memang dikembangkan untuk tujuan interaksi seni, sosial, dan budaya yang berwawasan lingkungan. Sang inisiator sekaligus seniman ekologis, Widya Poerwoko Soegarda atau yang akrab disapa Yaya, menceritakan proses panjang mengubah lahan bekas galian yang dulunya bertanah tandus tersebut. "Karya ini (dimulai) pada tahun 2016, setelah menjalani program Magister di ISI (Yogyakarta). Saya coba garap ini," ungkap Yaya.
Menariknya, pengembangan ruang ini juga digerakkan oleh pemahaman filosofis dari seni bela diri Silat Bangau Putih. Menurut Yaya, ajaran silat ini sejatinya dapat diaplikasikan sebagai metode untuk mengasah sensibilitas dan kepekaan manusia terhadap lingkungannya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan mahasiswa juga menelusuri sejumlah fasilitas unik yang meleburkan unsur sains, seni, dan rekreasi, di antaranya Biota Gravity Lab dan Biota Trek. Biota Gravity Lab difungsikan sebagai ruang interaktif untuk mempelajari gravitasi dengan bersepeda melintasi jalur yang penuh rintangan (obstacle). Sementara itu, fasilitas Biota Trek menjadi lintasan alam yang biasa digunakan untuk ajang balap sepeda downhill (fun race).
Selain menghidupkan ekosistem kreatif melalui berbagai ruang kolaboratif—seperti listening cafe Suara Dewandaru, pemutaran film "Permata", lini literasi Ruas Pustaka, kuliner lokal "Suarasa", hingga sesi meditasi "Jeda"—identitas eco-art kawasan ini paling kental terasa pada lanskap alamnya.

Seluruh area dipenuhi tumbuhan berbagai jenis bambu. Lebih dari sekadar penopang ketahanan tanah dan kehidupan, bambu-bambu tersebut dieksplorasi sebagai karya seni hidup. Pertumbuhannya dimodifikasi menjadi kubah (dome) atau lorong rindang hanya melalui teknik penarikan dan penganyaman yang menyesuaikan batas maksimal ketinggian bambu, membuktikan bagaimana alam dapat bertumbuh selaras dengan imajinasi dan kebutuhan ruang manusia.
Raihan Athaya Mustafa
Editor: Chrisnina




