
USD - Pengelolaan sampah yang efektif membutuhkan data yang akurat agar upaya pengurangan dan pengolahan sampah dapat dievaluasi secara terukur. Untuk mempelajari penerapan teknologi yang mendukung kebutuhan tersebut, Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSL USD) sejumlah 8 dosen dan 2 mahasiswa peneliti, melaksanakan studi tiru ke Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Selasa, 20 Oktober 2026. Kegiatan ini berfokus pada pembuatan dan pengembangan timbangan sampah berbasis Internet of Things (IoT) yang digunakan untuk memantau timbulan sampah secara digital dan real-time.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ir. Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng., IPP, menjadi narasumber yang menjelaskan teknologi timbangan sampah IoT, mulai dari komponen perangkat, mekanisme penimbangan, hingga pemanfaatan data melalui sistem dashboard. Pemaparan ini memberikan gambaran tentang bagaimana teknologi dapat mendukung pencatatan dan pemantauan sampah secara lebih sistematis.
Timbangan sampah IoT yang dikembangkan di UGM dirancang untuk mengukur berat timbulan sampah di titik pengumpulan (pick-up point). Hasil penimbangan terhubung dengan sistem digital sehingga data dapat digunakan untuk memantau volume sampah, melihat riwayat timbulan, menganalisis tren, serta mendukung evaluasi dan perencanaan kebijakan pengelolaan sampah.
Mengintegrasikan Penimbangan Sampah dengan Teknologi Digital

Salah satu aspek yang dipelajari dalam studi tiru ini adalah integrasi perangkat penimbangan dengan sistem Internet of Things. Berbeda dari pencatatan berat sampah yang hanya mengandalkan pengukuran dan rekapitulasi manual, sistem ini memungkinkan hasil penimbangan dikirimkan ke server untuk diolah dan ditampilkan melalui dashboard berbasis web.

Salah satu aspek yang dipelajari dalam studi tiru ini adalah integrasi perangkat penimbangan dengan sistem Internet of Things. Berbeda dari pencatatan berat sampah yang hanya mengandalkan pengukuran dan rekapitulasi manual, sistem ini memungkinkan hasil penimbangan dikirimkan ke server untuk diolah dan ditampilkan melalui dashboard berbasis web.
Berdasarkan materi yang dipaparkan Thomas Oka Pratama, perangkat timbangan menggunakan sensor load cell tipe strain gauge dengan kapasitas sensor 150 kilogram dan resolusi sekitar 0,1 kilogram. Sistem perangkatnya memanfaatkan mikrokomputer Raspberry Pi serta komponen pendukung untuk menjalankan proses penimbangan dan menghubungkan perangkat dengan jaringan.
Data hasil penimbangan dikirimkan ke server dan ditampilkan melalui dashboard yang menyajikan informasi berat sampah, riwayat timbulan, serta grafik tren. Dengan demikian, data tidak berhenti pada angka hasil penimbangan, tetapi dapat diolah menjadi informasi yang membantu pengelola memahami kondisi sampah di lingkungan yang dipantau.
Sistem tersebut juga memungkinkan pencatatan berdasarkan lokasi asal sampah dan klasifikasi jenis sampah. Dalam materi pelatihan, kategori yang digunakan meliputi sampah organik atau sisa makanan, sampah daur ulang atau anorganik, residu, serta sapuan berupa daun dan sampah dari area dalam maupun luar ruangan. Pengelompokan ini membantu penyediaan data yang lebih terperinci mengenai komposisi sampah.
Selain itu, mekanisme penimbangan membedakan sampah yang masuk dan keluar dari lokasi pengelolaan. Informasi tersebut dapat membantu pengelola memantau aliran sampah, termasuk sampah yang masuk ke fasilitas pengolahan dan sampah yang keluar dari lokasi asalnya. Pencatatan berdasarkan lokasi dan kategori juga membuka peluang untuk melakukan evaluasi yang lebih terarah.
Dashboard untuk Memantau Timbulan dan Komposisi Sampah

Bagian penting lainnya dari sistem ini adalah dashboard pemantauan. Melalui dashboard, data hasil penimbangan dapat disajikan dalam berbagai bentuk visualisasi, antara lain komposisi sampah masuk dan keluar pada setiap fakultas, jumlah timbulan sampah, tren harian, serta timbulan sampah per kapita per hari.

Bagian penting lainnya dari sistem ini adalah dashboard pemantauan. Melalui dashboard, data hasil penimbangan dapat disajikan dalam berbagai bentuk visualisasi, antara lain komposisi sampah masuk dan keluar pada setiap fakultas, jumlah timbulan sampah, tren harian, serta timbulan sampah per kapita per hari.
Penyajian data tersebut memungkinkan pengelola melihat pola timbulan sampah dalam rentang waktu tertentu dan membandingkan kondisi antarlokasi. Informasi mengenai komposisi sampah juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui jenis sampah yang paling banyak dihasilkan dan menentukan prioritas penanganannya.
Data timbulan sampah per kapita per hari, misalnya, dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk memahami hubungan antara jumlah pengguna suatu kawasan dan sampah yang dihasilkan. Dengan dukungan data semacam ini, perencanaan program pengurangan sampah dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang terukur, bukan hanya perkiraan.
Namun, manfaat sistem digital tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan. Ketepatan pemilihan lokasi, konsistensi klasifikasi sampah, keteraturan proses penimbangan, serta kedisiplinan pencatatan tetap menjadi faktor penting agar data yang terkumpul dapat dimanfaatkan secara optimal.
Menjadi Referensi Pengembangan Pengelolaan Sampah di USD

Bagi USD, studi tiru ini menjadi kesempatan untuk mempelajari penerapan teknologi dalam mendukung pengelolaan sampah di lingkungan perguruan tinggi. Pengalaman UGM memberikan referensi mengenai kemungkinan integrasi antara perangkat penimbangan, jaringan komunikasi, server penyimpanan data, dan dashboard pemantauan dalam satu sistem.

Bagi USD, studi tiru ini menjadi kesempatan untuk mempelajari penerapan teknologi dalam mendukung pengelolaan sampah di lingkungan perguruan tinggi. Pengalaman UGM memberikan referensi mengenai kemungkinan integrasi antara perangkat penimbangan, jaringan komunikasi, server penyimpanan data, dan dashboard pemantauan dalam satu sistem.
Pembelajaran tersebut relevan bagi upaya membangun pengelolaan sampah kampus yang lebih terukur. Data yang tercatat secara konsisten dapat membantu universitas memetakan timbulan sampah, mengevaluasi proses pemilahan dan pengolahan, serta mengidentifikasi peluang untuk mengurangi sampah yang berakhir sebagai residu.
Meskipun demikian, penerapan teknologi serupa di USD memerlukan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan kampus, kondisi fasilitas pengelolaan sampah, infrastruktur jaringan, serta kesiapan sumber daya manusia yang akan mengoperasikan sistem. Penyesuaian tersebut penting agar teknologi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pengelolaan sampah di lingkungan USD.
Melalui studi tiru ini, USD memperluas referensi mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan lingkungan. Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan sistem pengelolaan sampah yang lebih sistematis, berbasis data, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mewujudkan lingkungan kampus yang lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.
YWA – Staf WR3
Editor : Jean Pierre
Editor : Jean Pierre




