USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

GiSi 2026: Suara Mahasiswa untuk Menentukan Pendidikan di Masa Depan

diupdate: 2 jam yang lalu

USD – Gelar Gagasan Kritis kembali diselenggarakan pada Sabtu, 31 Oktober 2026 di Ruang Drost, Kampus 3 Universitas Sanata Dharma. GiSi (Get it Share it) tahun ini mengangkat topik Pendidikan Masa Depan Siapa yang Menentukan Kita Harus Jadi Apa? "Membaca Kritis Kebijakan Pendidikan, Kepentingan, dan Suara Mahasiswa."
 
1

GiSi 2026 yang berkolaborasi dengan Pusat Studi Ignatian dihadiri oleh 278 mahasiswa. Kegiatan ini menjadi salah satu bagian dari FCH 3: Self-Actualization. Dr. Yohana Titik Kristiyani, M.Psi., selaku WR 3 USD, menjelaskan bahwa kegiatan ini disiapkan sebagai ruang aktualisasi diri bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan berpikir kritis dan membedah persoalan sosial di masyarakat.
"Kita sebagai mahasiswa perlu memiliki kemampuan skill berpikir kritis itu. Bagaimana kita bisa melihat segala sesuatu, mempertanyakan, mencari solusi untuk hal-hal yang tidak hanya selalu melulu kaitannya dengan diri kita, tetapi juga dengan orang lain," ujar Ibu Titik.

Dr. Lucianus Suharjanto, S.J., S.T.B., M.A. sebagai narasumber.

GiSi tahun ini menghadirkan Dr. Lucianus Suharjanto, S.J., S.T.B., M.A. sebagai narasumber. Romo Harjanto membedah tantangan struktural politik pendidikan di Indonesia. Romo Harjanto menyoroti fenomena Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda yang mencapai dua kali lipat rata-rata nasional serta masalah ketidaksesuaian bidang kerja (vertical mismatch) pada lebih dari sepertiga lulusan.
Dalam pemaparannya, Romo Harjanto mengkritik budaya safetyism atau pola perlindungan berlebihan terhadap orang muda yang dinilai merintangi proses kedewasaan. "Safetyism dan hilangnya ritus peralihan membuat orang muda kehilangan kesempatan belajar caranya menanggung risiko dan peran," tegas Romo Harjanto. Romo Harjanto menekankan bahwa sistem pendidikan nasional harus bertransformasi agar dapat memberikan ruang nyata bagi peran dan aspirasi mahasiswa.

3

Selesai pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Peserta yang terbagi ke dalam 38 kelompok, mendapatkan tiga pertanyaan yang mana masing-masing kelompok mendapatkan salah satu pertanyaan saja. Kegiatan ini diakhiri dengan pemaparan hasil diskusi kelompok serta pengukuhan jawaban dan penegasan dari Romo Harjanto yang menegaskan pentingnya kemampuan berpikir kritis sebagai landasan utama bagi individu untuk menentukan arah otonomi diri dan kesadaran kritis di tengah dinamika sosial.


CN/SCS/VN - HUMAS

  kembali