
USD – Proses verifikasi klaim BPJS Kesehatan di rumah sakit kerap kali dihadapkan pada tantangan administratif yang kompleks serta penyesuaian dengan regulasi yang terus berkembang. Merespons tantangan tersebut, Dosen Program Studi Teknologi Elektromedis, Fakultas Vokasi Universitas Sanata Dharma (USD), Bernardinus Sri Widodo, menginisiasi program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk membantu RSU Santa Maria Pemalang dalam mengoptimalkan sistem informasi manajemen mereka.
Program pengabdian ini sekaligus menjadi wujud nyata kelanjutan kerja sama yang telah terjalin lama antara Fakultas Vokasi USD dan RSU Santa Maria Pemalang. Kemitraan strategis ini sebelumnya telah mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), tata kelola peralatan medis, hingga teknologi informasi. Secara khusus, pemilihan topik PkM mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan ini tidak terlepas dari langkah inovatif Bimo Ajie Nugroho, Kepala Sub Bagian Teknologi Informasi RSU Santa Maria Pemalang, yang telah melakukan studi awal untuk mengimplementasikan teknologi tersebut di rumah sakit.
Kegiatan pendampingan ini diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom Meeting pada tanggal 22 dan 25 Juli 2026. Sesi berbagi pengetahuan (sharing session) ini dihadiri secara antusias oleh 7 perwakilan kunci rumah sakit, mulai dari Direktur RSU Santa Maria, Komite Medis, divisi Keperawatan, SDM dan Keuangan, Sarana dan Prasarana, Teknologi Informasi, hingga perwakilan dari Yayasan Mediatrix selaku badan pengelola rumah sakit.
"Untuk menjawab kendala klaim yang sering tertahan (pending), kami memperkenalkan potensi penerapan sistem Retrieval-Augmented Generation (RAG) dan Agentic-RAG berbasis Large Language Model (LLM). Berbeda dengan AI umum yang kerap berhalusinasi, sistem ini dirancang untuk menarik informasi langsung dari dokumen sumber regulasi sehingga jawaban lebih akurat dan terstandardisasi," papar Bernardinus Sri Widodo.
Sebagai wujud nyata pengenalan teknologi ini, tim pengabdi mendemonstrasikan kapabilitas sistem menggunakan platform Google NotebookLM dengan mengunggah dokumen regulasi dasar (seperti ICD-10 dan Panduan INA-CBG) sebagai basis pengetahuan. Salah satu skenario utama yang disorot secara detail adalah penanganan kasus pasien Acute Appendicitis (usus buntu) dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga proses akhir klaim.
Sebagai wujud nyata pengenalan teknologi ini, tim pengabdi mendemonstrasikan kapabilitas sistem menggunakan platform Google NotebookLM dengan mengunggah dokumen regulasi dasar (seperti ICD-10 dan Panduan INA-CBG) sebagai basis pengetahuan. Salah satu skenario utama yang disorot secara detail adalah penanganan kasus pasien Acute Appendicitis (usus buntu) dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga proses akhir klaim.
Menariknya, demonstrasi ini memperlihatkan cara kerja Agentic-RAG secara komprehensif, di mana AI diprogram untuk memerankan empat agen spesifik secara berurutan. Pertama, AI bertindak sebagai AI Clinical Assistant yang menganalisis kondisi awal pasien di IGD guna memastikan indikasi rawat inap dan keperluan tindakan operasi. Kedua, sistem beralih peran menjadi AI Internal Verifier untuk mengevaluasi kelengkapan dokumen pasca-operasi secara otomatis dan mengeluarkan Claim Readiness Score (Skor Kesiapan Klaim).
Pada tahap selanjutnya, AI berperan layaknya AI Coder dan Tim Casemix yang bertugas menentukan kode presisi ICD-10 dan ICD-9-CM berdasarkan resume medis guna mencegah sengketa (dispute) koding. Puncak demonstrasinya, sistem menyimulasikan diri sebagai Verifikator BPJS yang melakukan pengecekan menyeluruh untuk memberikan keputusan final: apakah berkas 'Layak Diklaim', 'Perlu Perbaikan', atau 'Berpotensi Ditolak'.
Pemaparan mengenai alur kerja AI ini membuka ruang diskusi yang konstruktif bersama jajaran pimpinan rumah sakit. Penggunaan teknologi semacam ini dinilai memiliki potensi sebagai alternatif untuk membantu efisiensi kerja administratif, dengan catatan bahwa keputusan dan validasi akhir tetap berada di tangan tenaga profesional medis. Sebagai tindak lanjut dari sesi berbagi pengetahuan ini, muncul wacana untuk melakukan penjajakan lebih lanjut, termasuk rekomendasi pelaksanaan uji coba terbatas (pilot project) secara internal menggunakan data klaim anonim.
Penjajakan teknologi digital ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pihak rumah sakit dalam upaya adaptasi terhadap kemajuan teknologi kesehatan, sejalan dengan visi mereka untuk terus menghadirkan pelayanan yang mandiri dan bermutu.
Humas USD
Humas USD




