
USD - Kongres World Union of Jesuit Alumni (WUJA) XI resmi dibuka pada Kamis, 30 Juli 2026, bertempat di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Acara berskala internasional ini dihadiri oleh delegasi terdaftar dari berbagai negara, menjadikannya salah satu pertemuan alumni Jesuit terbesar yang pernah tercatat. Kongres yang diawali dengan pemukulan gong ini diharapkan menjadi wadah bagi para alumni untuk menanam "benih masa depan", di mana dialog dan harmoni menggeser hukum rimba dalam dinamika dunia saat ini.
Pemilihan Auditorium Driyarkara sebagai lokasi hari pertama memiliki makna filosofis yang mendalam. Nama gedung ini diambil dari Nicolaus Driyarkara, SJ, seorang filsuf yang menekankan kemampuan manusia untuk melampaui batas dan membangun hubungan yang lebih dalam dengan sesama serta lingkungan demi kebaikan bersama. Dalam sambutannya, Romo Albertus Bagus Laksana, SJ, S.S., Pd.D., selaku Provinsial Jesuit Indonesia sekaligus Rektor Universitas Sanata Dharma, menyampaikan rasa bangganya atas kehadiran para alumni di kampus yang ia sebut sebagai kota budaya dan pendidikan.
Romo Bagus menyoroti tantangan dunia modern yang ia sebut sebagai "Babel Syndrom", sebuah kondisi di mana kekuasaan terkonsentrasi pada keuntungan dan efisiensi semata, yang seringkali mereduksi manusia hanya menjadi data. Ia mengajak seluruh jejaring alumni Jesuit global untuk melawan tren ini dengan memperkuat persatuan dan menerapkan semangat sinodalitas, yaitu proses mendengarkan dan membedakan roh secara bersama-sama dalam setiap kepemimpinan dan tata kelola.


Selaras dengan hal yang disampaikan Romo Bagus, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam sambutannya memaknai Yogyakarta sebagai “pendhapa” atau paviliun bagi warisan pendidikan Jesuit. Sultan menghubungkan tema kongres, "United in Spirit, Leading with Purpose", dengan filosofi Jawa Sastra Gendhing. Menurut beliau, bersatu dalam semangat ibarat gendhing (irama musik gamelan) yang menuntut keharmonisan tanpa harus meniadakan perbedaan nada.
Sultan juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan hati nurani dan nilai-nilai utama (kebajikan). Beliau mengajak peserta untuk merefleksikan filosofi “Hamemayu Hayuning Bawana”, yaitu semangat untuk menghormati kehidupan dan menjaga keindahan alam semesta, yang selaras dengan tradisi Ignasian dalam membedakan panggilan pengabdian dari ambisi pribadi.


Dalam pembuka kongres ke-11 WUJA 2026 ini, diisi dengan pidato kunci dari Fr. Arturo Sosa, SJ, Superior General Serikat Yesus. Menyesuaikan dengan tema besar kongres, Fr. Sosa menekankan bahwa tujuan bersama seluruh alumni adalah rekonsiliasi dalam Kristus. Ia memaparkan enam poin utama sebagai bahan refleksi bagi para peserta, yakni Misi Apostolik Universal, Menghadapi "Frontier" Baru (Kecerdasan Buatan), Menjadi rekan dalam misi rekonsiliasi dan keadilan, Semangat Sinodalitas, Interkulturalitas Mengenai Batas dan Anugrah, dan Tradisi Pendidikan Jesuit.
Harapannya Kongres WUJA ke-11 menjadi suatu benih untuk masa depan, dengan menjadikan perjalanan semua orang yang dapat menjadi benih akan hal apa saja yang datang di masa mendatang. Hukum yang paling kuat adalah terbuka pada dialog bersama, perdamaian, dan keharmonisan umat manusia.
Humas USD
Humas USD




