USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Nobar dan Bincang Film "Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita"

diupdate: 1 bulan yang lalu

Persiapan Nobar

USD - Program Magister Kajian Budaya dan Program Doktor Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan Center for Restoration and Regeneration Studies (Cerres Indonesia) serta Simpul Papua menyelenggarakan kegiatan "Nobar dan Bincang Film Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita" pada tanggal Jumat, 29 Mei 2026 pukul 14.00 WIB, di ruang Kadarman, Gedung Pusat Lt. 4, Kampus-2 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sebanyak 60 penonton memadati ruang kegiatan yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.

Jasmina Zahra, mahasiswa Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma membuka acara ini dan dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Prof. Paulus Sarwoto, Ph.D.. Menjelang pemutaran dan bincang film bertajuk “Kolonialisme di Zaman Kita”, Prof. Sarwoto menyoroti bagaimana praktik kolonialisme tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi masih dapat dirasakan dalam berbagai bentuk pada masa kini. Ia menyinggung pemikiran Frantz Fanon tentang jebakan kesadaran nasionalisme pascakolonial, serta gagasan Gayatri Chakravorty Spivak mengenai representasi dan suara kelompok subaltern yang relevan pada kondisi saat ini. Ia berharap acara ini menjadi ruang refleksi kritis untuk membahas representasi dan persoalan keadilan.

Sesi diskusi

Setelah mendengarkan sambutan acara dilanjutkan dengan pemutaran film dan bincang bersama. Diskusi menghadirkan Ida Saraswati sebagai moderator dan empat narasumber pembahas yaitu Almonika CF Sari, Ferdinand S. Yokit, Dhuha Ramadhani, dan Zuhdi Siswanto.

Narasumber pertama yaitu Dhuha Ramadhani sebagai sineas yang memiliki latar belakang bidang kriminologi, berpendapat film ini membuka ruang percakapan baru, namun tetap perlu dibaca secara kritis karena narasi yang disajikan tidak lepas dari representasi dan sudut pandang sutradara film. Narasumber kedua Almonika CF Sari yang merupakan dosen fakultas hukum UGM menyoroti adanya perkebunan di tanah Papua menghilangkan solidaritas adat sehingga rasa komunal dan kolektif tidak lagi terasa. Narasumber ketiga Ferdinand S. Yokit, sebagai Pegiat Literasi Simpul Papua dan merupakan masyarakat adat asli Papua, memberikan catatan penting terhadap kata “pesta babi” yang digunakan dalam film tersebut, dimana kata pesta dirasa kurang tepat untuk mendefiniskan ritual masyarakat yang direpresentasikan dalam film ini. Narasumber keempat Zudhi Siswanto yang merupakan mahasiswa S3 Kajian Seni dan Masyarakat melihat film ini menggunakan bahasa semacam iklan, perlu lebih cermat memahami memahami konteks Papua.

Sesi foto bersama

Diskusi disambut dengan baik oleh penonton. Beberapa penonton memberikan pendapat dan pertanyaan mereka, salah satunya Dr. Katrin Bandel, dosen Pascasarjana Kajian Budaya Sanata Dharma, menceritakan kesan yang dialami setelah menonton film ini. Ia menyoroti dua elemen penting, yang pertama film ini menampilkan hasil investigasi jenis kolonialisme baru yang terjadi, kemudian yang kedua film ini mengkombinasikan kehidupan tokoh dan masyarakat adat suku tertentu. Ia mengingatkan perlunya perhatian khusus tentang etika dan mengutamakan keselamatan para narasumber, mengingat film ini menuai banyak kontroversial.

Melalui pemutaran film dan bincang bersama ini, para peserta diharapkan dapat membangun ruang dialog yang terbuka dan kritis mengenai Papua, kolonialisme zaman ini representasi, serta relasi kuasa yang hadir dalam kehidupan masyarakat saat ini. Bersama dengan Simpul Papua dan Cerres Indonesia, kegiatan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan kesimpulan tunggal, melainkan menjadi wadah untuk saling bertukar pandangan, memperluas perspektif, dan mendorong lahirnya pemahaman yang lebih reflektif terhadap berbagai persoalan yang diangkat dalam film Pesta Babi.




Gita - Mahasiswi S3 Kajian Budaya
Editor : Jean Pierre

  kembali