USD - Implementasi kerja sama internasional antara Universitas Sanata Dharma dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL) kembali diwujudkan melalui kuliah umum dan sekaligus open house Program Studi Magister Sastra Fakultas Sastra USD dengan tajuk "Membaca Identitas, Merancang Masa Depan: Budaya dan Sastra Timor-Leste dalam Perspektif Poskolonial". Kegiatan yang berlangsung Sabtu (23/5/26) di Ruang S302 Gedung Fakultas Sastra USD, Mrican, Sleman, DI Yogyakarta tersebut menghadirkan dua akademisi dari Timor-Leste, yakni Nuno da Silva Gomes, Ph.D. selaku Kaprodi Pendidikan Bahasa Tetun UNTL dan Prof. Vicente Paulino., Ph.D., Visiting Professor UNTL. Kegiatan ini dimoderatori oleh Prof. Novita Dewi. M.A. (Hons), Ph.D. dan dihadiri sekitar 50 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, serta peserta dari dalam maupun luar USD. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Alumni C. Tutyandari dan Dekan Fakultas Sastra sekaligus Kaprodi Magister Sastra Dr. Tatang Iskarna.


Kuliah umum ini merupakan implementasi lanjutan (Implementation Arrangement/IA) dari Memorandum of Understanding (MoU) antara USD dan UNTL yang telah ditandatangani pada 26 Oktober 2022. Sebelumnya, implementasi kerja sama tersebut telah diwujudkan melalui kuliah umum tentang sastra digital yang disampaikan Dr. Tatang Iskarna di UNTL pada 5 Desember 2025. Dalam sambutannya, C. Tutyandari, Ph.D. menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak boleh berhenti pada dokumen formal, tetapi harus diwujudkan dalam pertukaran akademik konkret yang memperkaya wawasan lintas budaya dan memperkuat jejaring internasional kedua institusi.
Dalam presentasinya yang berjudul "Identitas, Representasi dan Poskolonialistas dalam Budaya Timor-Leste", Prof. Vicente Paulino menguraikan bagaimana identitas Timor-Leste dibentuk melalui sejarah kolonialisme Portugis, pendudukan Jepang, invasi Indonesia, hingga perjuangan panjang menuju kemerdekaan. "Identitas Timor-Leste bukanlah konstruksi yang lahir semata-mata akibat kolonialisme, melainkan telah ada jauh sebelum kedatangan Portugis", tegasnya. Dengan mengutip pemikiran Xanana Gusmão, Vicente menegaskan bahwa masyarakat Timor sejak awal telah memiliki entitas budaya, sejarah, dan kosmologi sendiri yang kemudian dinegosiasikan kembali dalam konteks kolonial dan pascakolonial.
Lebih jauh, Vicente menjelaskan bahwa Timor-Leste merupakan negara yang sangat kaya secara linguistik dan kultural. Dalam presentasinya, ia menunjukkan bahwa Timor-Leste memiliki beragam kelompok etnolinguistik dengan sedikitnya 16 bahasa utama yang masih hidup hingga kini. Bahasa Tetun dan Portugis kemudian diposisikan sebagai bahasa resmi negara, sementara bahasa-bahasa lokal tetap menjadi penanda identitas etnis dan memori budaya masyarakat Timor-Leste.
Paparan Vicente juga menyoroti berbagai representasi identitas budaya Timor-Leste, mulai dari uma-lulik (rumah suci), tradisi barlaque atau hafolin dalam relasi keluarga, kain tenun tais, hingga tarian dan ritual masyarakat Timor-Leste. Menurutnya, rumah suci bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat memori kolektif, kelanjutan kehidupan, dan identitas etnis masyarakat Timor-Leste. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana budaya lokal tetap bertahan sekaligus bernegosiasi dengan modernitas dan negara-bangsa pascakolonial.
Sementara itu, dalam presentasinya bertajuk "Sastra Indigenous Timor-Leste: Dulu, Sekarang, dan Proyeksi ke Depan", Nuno da Silva Gomes memfokuskan pembahasannya pada tradisi sastra lisan Timor-Leste yang diwariskan secara turun-temurun. Ia menjelaskan bahwa sastra indigenous Timor-Leste didominasi oleh bentuk-bentuk lisan seperti Ai-Knanoik (cerita rakyat dan mitos), Dadolin (nyanyian rakyat), dan Hamulak (doa naratif ritual). "Tradisi sastra lisan tersebut berfungsi sebagai penyimpan pengetahuan kolektif masyarakat, sejarah asal-usul suku, nilai adat, hingga kosmologi lokal", tandas Kaprodi Pendidikan Bahasa Tetun yang akrab dipanggil Nuno.


Nuno menunjukkan bahwa sastra lisan Timor-Leste memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat. Dadolin, misalnya, dinyanyikan dalam berbagai peristiwa kehidupan seperti panen jagung, penerimaan tamu, hingga ritual kematian. Sementara Hamulak dipahami sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan tiga kekuatan supranatural, yakni Maromak (Tuhan), Kukun (leluhur), dan Rai-na’in (alam). "Dalam perspektif antropologi sastra, tradisi tersebut memperlihatkan bahwa sastra tidak dipisahkan dari ritual, alam, dan sistem kepercayaan masyarakat", tambahnya.
Selain membahas bentuk dan fungsi sastra lisan, Nuno juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi sastra indigenous Timor-Leste pada era modern. Menurutnya, globalisasi dan media digital menyebabkan generasi muda semakin jauh dari tradisi lisan dan bahasa-bahasa lokal. Penutur asli serta tetua adat semakin berkurang, sementara dokumentasi terhadap sastra tradisional masih terbatas. Namun demikian, berbagai penelitian dan upaya pelestarian terus dilakukan agar tradisi sastra indigenous Timor-Leste tidak hilang ditelan modernisasi.
Diskusi berlangsung dinamis dan reflektif. Salah satu pertanyaan diajukan oleh C. Tutyandari, Ph.D. mengenai kemungkinan resistensi ketika bahasa Tetun dijadikan bahasa nasional Timor-Leste. Menanggapi hal tersebut, Prof. Vicente Paulino menjelaskan bahwa penetapan Tetun sebagai bahasa nasional berlangsung melalui proses sejarah dan dialog sosial yang panjang. Di tengah keberagaman bahasa lokal serta pengaruh bahasa Indonesia dan Portugis, Tetun dipilih sebagai simbol pemersatu identitas nasional Timor-Leste. Ia juga menjelaskan bahwa bahasa Tetun berkembang melalui interaksi panjang dengan bahasa Portugis yang kini menjadi bahasa resmi negara bersama Tetun.
Pertanyaan lain diajukan oleh Sri Mulyani, Ph.D. terkait kemungkinan adanya kesenjangan sosial akibat penggunaan bahasa Portugis dalam pendidikan dan pemerintahan. Menjawab hal tersebut, Nuno da Silva Gomes menjelaskan bahwa masyarakat Timor-Leste hidup dalam realitas multibahasa. Bahasa Portugis memang memiliki fungsi formal dalam administrasi dan pendidikan, tetapi Tetun tetap menjadi bahasa yang paling dominan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, relasi antara Tetun dan Portugis tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai bentuk dominasi satu bahasa terhadap bahasa lain, melainkan sebagai proses historis pembentukan identitas linguistik nasional Timor-Leste yang terus berkembang.


Selain sebagai ruang pertukaran akademik internasional, kegiatan ini juga menjadi bagian dari open house dan promosi Program Studi Magister Sastra Fakultas Sastra USD yang saat ini membuka penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2026. Melalui kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada orientasi kajian Magister Sastra USD yang mengembangkan teori sastra kritis, sastra digital, budaya, dan humaniora kontemporer dalam konteks global.
Kuliah umum ini menunjukkan bahwa sastra dan budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan ruang penting untuk membaca identitas, memahami sejarah, dan merancang masa depan. Melalui dialog akademik lintas negara ini, Fakultas Sastra USD kembali menegaskan komitmennya untuk membangun ruang humaniora yang kritis, kreatif, humanis, dan terbuka terhadap percakapan global di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks.
Kaprodi Magister Sastra - Dr. Tatang Iskarna
Editor - Jean Pierre
Editor - Jean Pierre




