USD – Dosen Program Studi Bimbingan Konseling (BK) Universitas Sanata Dharma, Bapak Antonius Ian Bayu Setiawan, M.Pd., menjadi salah satu tim peneliti dalam Forum Diskusi Laporan Akhir Kajian Formulasi Assessment Management Talenta di lingkup Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan menggunakan model mixed method sequential explanatory. Pak Anton berkolaborasi dengan dua rekan lainnya, yaitu Dewi Handayani Harahap, S.Psi., M.Psi., dari Universitas Proklamasi dan Dr. Muya Barida, M.Pd., dari Universitas Ahmad Dahlan. Forum tersebut diadakan pada Rabu (13/05/2026) di Diamond Meeting Grand Senyum Hotel Yogyakarta.


Forum tersebut juga dihadiri oleh Ketua Komisi D DPRD DIY, Dr. R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., dosen dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi, guru BK SMA dan SMK se-DIY sebagai audiens, serta sejumlah praktisi pendidikan. Selain itu, terdapat pula narasumber dari bidang IT dan psikologi, yaitu Ajian Kamadiva sebagai konsultan IT bidang pendidikan dan Amin Al Adib, S.Psi., M.Psi., akademisi bidang psikologi, yang turut memberikan kajian dan evaluasi terhadap model assessment management talenta yang dirancang oleh tim peneliti.
Dalam sambutannya, Ketua Komisi D DPRD DIY, Dr. R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., menekankan bahwa hasil kajian tersebut perlu ditindaklanjuti menjadi kebijakan nyata yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah dan berharap tidak hanya berhenti di sini. Beliau juga menyoroti bahwa pendidikan memiliki peran penting untuk menjawab berbagai persoalan dalam kehidupan dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. “Jadi sumbernya sebetulnya di dunia pendidikan ini, ya dia harus menghasilkan, melahirkan SDM yang mumpuni yang bisa menjawab persoalan kehidupan. Menurut saya pendidikan itu kehidupan,” tuturnya.

Sementara itu, Pak Anton dalam paparannya menyoroti pentingnya layanan BK yang dilakukan secara berkesinambungan dan tidak hanya bersifat sesaat. “Guru BK itu nanti harus memiliki timeline yang jelas. Jadi sifat layanan BK bukan sebatas one-time event,” ujar Anton. Ia juga menjelaskan bahwa selama ini pendampingan siswa di sekolah sering kali belum berjalan secara longitudinal karena pergantian guru BK setiap tahunnya, terutama saat kenaikan jenjang kelas. Akibatnya, proses pemetaan perkembangan siswa tidak terdokumentasi secara utuh. Karena itu, model assessment manajemen talenta yang sedang dirancang beliau dan tim memungkinkan guru BK dapat mendampingi peserta didiknya dengan informasi secara utuh hingga akhir jenjang mereka di SMA supaya dapat mengarahkannya ke jurusan kuliah atau bidang pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Tim peneliti kemudian merumuskan model assessment management talenta yang terdiri dari lima tahap, yakni identifikasi, pemetaan, pengembangan, aktualisasi, dan kristalisasi. Tahap identifikasi dilakukan melalui asesmen kecerdasan, minat, bakat kerja, kepribadian, dan sikap kerja siswa. Selanjutnya, guru BK mendampingi siswa dalam proses pemetaan karier, pengembangan kompetensi, hingga aktualisasi melalui kegiatan magang, sertifikasi, lomba, maupun pengembangan diri lainnya.
Melalui forum diskusi ini, peneliti berharap model yang dirancang menjadi dasar sistem asesmen talenta siswa yang lebih berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan pendidikan dan pekerjaan, khususnya di daerah DIY. Model tersebut juga dikaji dari sudut pandang IT dan psikologi oleh ahlinya langsung, yaitu Mas Ajin dan Mas Adib.
Keterlibatan Anton dalam tim peneliti tersebut juga menjadi bentuk kontribusi Universitas Sanata Dharma dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang adaptif terhadap kebutuhan siswa dan tantangan pendidikan masa kini. Hal ini menunjukkan bahwa Sanata Dharma turut ambil bagian dalam memajukan sumber daya manusia (SDM) peserta didik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
SHL/JE/WLY - Humas
Dalam sambutannya, Ketua Komisi D DPRD DIY, Dr. R.B. Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., menekankan bahwa hasil kajian tersebut perlu ditindaklanjuti menjadi kebijakan nyata yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah dan berharap tidak hanya berhenti di sini. Beliau juga menyoroti bahwa pendidikan memiliki peran penting untuk menjawab berbagai persoalan dalam kehidupan dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. “Jadi sumbernya sebetulnya di dunia pendidikan ini, ya dia harus menghasilkan, melahirkan SDM yang mumpuni yang bisa menjawab persoalan kehidupan. Menurut saya pendidikan itu kehidupan,” tuturnya.

Sementara itu, Pak Anton dalam paparannya menyoroti pentingnya layanan BK yang dilakukan secara berkesinambungan dan tidak hanya bersifat sesaat. “Guru BK itu nanti harus memiliki timeline yang jelas. Jadi sifat layanan BK bukan sebatas one-time event,” ujar Anton. Ia juga menjelaskan bahwa selama ini pendampingan siswa di sekolah sering kali belum berjalan secara longitudinal karena pergantian guru BK setiap tahunnya, terutama saat kenaikan jenjang kelas. Akibatnya, proses pemetaan perkembangan siswa tidak terdokumentasi secara utuh. Karena itu, model assessment manajemen talenta yang sedang dirancang beliau dan tim memungkinkan guru BK dapat mendampingi peserta didiknya dengan informasi secara utuh hingga akhir jenjang mereka di SMA supaya dapat mengarahkannya ke jurusan kuliah atau bidang pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Tim peneliti kemudian merumuskan model assessment management talenta yang terdiri dari lima tahap, yakni identifikasi, pemetaan, pengembangan, aktualisasi, dan kristalisasi. Tahap identifikasi dilakukan melalui asesmen kecerdasan, minat, bakat kerja, kepribadian, dan sikap kerja siswa. Selanjutnya, guru BK mendampingi siswa dalam proses pemetaan karier, pengembangan kompetensi, hingga aktualisasi melalui kegiatan magang, sertifikasi, lomba, maupun pengembangan diri lainnya.
Melalui forum diskusi ini, peneliti berharap model yang dirancang menjadi dasar sistem asesmen talenta siswa yang lebih berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan pendidikan dan pekerjaan, khususnya di daerah DIY. Model tersebut juga dikaji dari sudut pandang IT dan psikologi oleh ahlinya langsung, yaitu Mas Ajin dan Mas Adib.
Keterlibatan Anton dalam tim peneliti tersebut juga menjadi bentuk kontribusi Universitas Sanata Dharma dalam pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang adaptif terhadap kebutuhan siswa dan tantangan pendidikan masa kini. Hal ini menunjukkan bahwa Sanata Dharma turut ambil bagian dalam memajukan sumber daya manusia (SDM) peserta didik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
SHL/JE/WLY - Humas




