
YOGYAKARTA - Perpustakaan Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar Lib-USD Berbagi #6, sebuah workshop Training of Trainers (ToT) bertema "Literasi Informasi Berbasis AI: Membangun Penelitian Etis dan Cerdas di Era Kecerdasan Buatan" pada Sabtu 28 Maret 2026 di Ruang Workstation Perpustakaan USD Mrican.
Kegiatan ini menghadirkan FX. Risang Baskara, M.Hum., Ph.D., dosen Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma yang juga merupakan kolaborator riset Oxford University dan penerima Distinguished Faculty Award 2025, sebagai narasumber. Workshop ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan pustakawan baik dari USD maupun luar USD (Anggota FPPTI DIY dan IPI DIY). Peserta workshop harapannya dapat dipersiapkan menjadi trainer, dengan tujuan membagikan ilmu literasi AI di lingkungan masing-masing.
Sepanjang workshop, Risang membawa peserta memahami bahwa era AI telah mengubah cara kita bekerja dengan informasi. Jika dulu tantangan utama adalah menemukan referensi yang relevan, kini tantangannya adalah memilah, memvalidasi, dan mensintesis informasi dari berbagai sumber yang dihasilkan mesin.
Ia juga membedakan dua jenis AI yang perlu dipahami akademisi. Pertama, Generative AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude yang berfungsi sebagai "otak kreatif" untuk membantu ideasi, brainstorming, dan penyusunan draf. Kedua, Semantic Search seperti Perplexity, Consensus, dan Scite yang berperan sebagai "pustakawan digital" untuk mencari fakta ilmiah dengan akurasi berbasis rujukan.

Ia mengenalkan konsep Human-in-the-Loop, di mana AI ditempatkan sebagai co-pilot yang membantu tugas-tugas teknis seperti merapikan daftar pustaka atau menyusun draf. Sementara manusia tetap menjadi pilot yang memegang kendali penuh atas argumen, kesimpulan, dan kebenaran data.
Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah teknik Prompt Engineering dengan kerangka R-O-C-E (Role, Objective, Context, Execution). Lewat kerangka ini, peserta diajarkan menyusun instruksi yang lebih presisi agar hasil dari AI benar-benar sesuai kebutuhan akademik.
Tidak hanya teori, workshop ini juga menghadirkan sesi praktik yang disebut The Hallucination Lab. Dalam sesi ini, peserta mencoba langsung menanyakan hal-hal yang sangat spesifik kepada AI generatif dan menyaksikan sendiri bagaimana AI bisa "berhalusinasi"-mengarang fakta yang terdengar meyakinkan namun tidak nyata. Pengalaman ini menjadi pengingat kuat bahwa AI tidak bisa begitu saja dipercaya tanpa verifikasi.
Peserta pun dibekali protokol verifikasi yang ketat. Salah satunya adalah Aturan Satu Kesalahan, jika AI terbukti melakukan satu kesalahan dalam ekstraksi data, maka seluruh data wajib diperiksa ulang secara manual. Para peserta juga diingatkan untuk selalu mengecek ulang angka-angka statistik yang dihasilkan AI, serta menyimpan referensi yang telah divalidasi ke Zotero atau Mendeley. Yang tidak kalah penting, penggunaan AI dalam penelitian wajib dideklarasikan secara jujur dalam bagian Metodologi atau Acknowledgment.


Dengan bekal yang diperoleh dari workshop ini, para peserta diharapkan mampu menjadi garda depan dalam membangun budaya akademik yang produktif, kritis, dan etis di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Di akhir sesi, peserta diminta untuk membagikan pengalaman selama workshop. Mereka meyakini bahwa kegiatan ini memberikan manfaat yang sangat besar dan berkomitmen untuk menularkan ilmu yang diperoleh kepada dosen, mahasiswa, serta pustakawan lainnya dengan penuh semangat.
PS - PUSD




