USD Akreditasi A Alumni Email USD

Berkontribusi Nyata untuk Masyarakat: Kisah Menarik Guru Besar Baru Universitas Sanata Dharma

diupdate: 1 bulan yang lalu

gubes

Pada hari Jumat 21 November 2025, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta kembali menorehkan prestasi dan mencatat sejarah penting dengan mengukuhkan dua Guru Besar baru. Mereka adalah Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. (Guru Besar Teori Sastra) dan Prof. Dr. Josephine Wuri (Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Internasional). Para Guru Besar baru, masing-masing memberikan kisah inspiratif yang menyentuh, unik, dan memberikan bukti bahwa perjuangan akan ketekunan akan membuka jalan bagi seseorang yang memiliki daya juang.

Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum: Dari Lembata Menuju Puncak Ilmu Sastra

gubes

Di usia 60 tahun, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, akhirnya mencapai puncak karier akademiknya; dilantik sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Sastra Universitas Sanata Dharma. Namun, bagi beliau jabatan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan wujud dari kesetiaan panjang terhadap dunia sastra dan pendidikan.

“Semua profesi itu bermula dari satu titik tertentu sampai kepada satu puncak dan berakhir. Puncak karir seorang dosen, adalah guru besar. Puncak ini bagi saya adalah penanda bahwa saya telah cukup setia dan memiliki dedikasi di bidang ilmu yang saya geluti,” ucapnya.

Perjalanan Prof. Yapi dimulai dari desa kecil di kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, yaitu desa Ataili. Prof. Yapi dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga guru. Ayahnya merupakan seorang guru yang berdedikasi tinggi. Dari sosok ayah tersebut cintanya kepada pendidikan bertumbuh.

gubes

“Sehabis sekolah saya sering diajak Ayah saya ke gunung-gunung mencari anak-anak yang tidak bersekolah. Ayah saya pergi mencari seperti itu meski tidak dibayar, apalagi saat itu masih tahun 70’ an dan di daerah 3T seperti Flores. Saya berpikir gaji ayah itu dibayar 3 bulan sekali, tapi ayah pengorbanannya segitu besarnya mencari anak-anak untuk sekolah padahal tidak dibayar. Saya belajar dari ayah saya itu makna sejati dari pendidikan. Pendidikan itu adalah panggilan. Mengajar adalah bentuk cinta yang bisa mengubah manusia,” jelas Prof. Yapi.

Setelah menemukan minatnya pada bidang pendidikan, Prof. Yapi mulai tertarik pada ilmu sastra. Prof. Yapi meyakini bahwa sastra dan imajinasi adalah penggerak perubahan. Didorong oleh keyakinan tersebut, Prof. Yapi akhirnya menempuh pendidikan tinggi di IKIP Sanata Dharma dengan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kemudian dilanjutkan di Universitas Gadjah Mada dengan program studi Sastra Indonesia dan Jawa serta program studi Ilmu-Ilmu Humaniora. Dalam jenjang pendidikan tersebut, Prof. Yapi juga mengisi kesibukan dengan melakukan penelitian-penelitian sastra, khususnya dalam bidang teori sastra.

“Di bidang Ilmu Teori Sastra, sastra adalah keajaiban dunia manusia dan teori sastra adalah kunci untuk membuka keajaiban itu. Jadi, teori memberi perangkat supaya kita bisa mengungkap lapisan lapisan makna yang tersembunyi. Teori sastra itu seperti lentera yang menuntun kita dalam kegelapan. Tanpa teori, kita tidak mengerti tapi dengan teori ada yang bisa saya pahami. Jadi, bagi saya teori adalah jantung ilmu sastra, tanpa memahami teori sastra, kita bisa pincang dan cacat,” ungkapnya.

Selain diterbitkan dalam bentuk jurnal dan artikel-artikel ilmiah, beberapa penelitian Prof. Yapi juga digunakan untuk membentuk peraturan-peraturan daerah. Contohnya seperti penelitiannya pada tradisi “Muro” yang diangkat menjadi Peraturan Daerah Nusa Tenggara Timur serta penelitiannya tentang ekonomi biru di Lembata yang dikembangkan bersama pemerintah daerah sebagai proyek percontohan.

Kini, sebagai Guru Besar Teori Sastra, Prof. Yapi berencana untuk melanjutkan pengembangan buku teori sastra yang sudah dipublikasikannya. Prof. Yapi melakukannya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat dan sebagai guru besar di bidang sastra. Jadi, meskipun telah memperoleh gelar Guru Besar, Prof. Yapi tetap meyakini bahwa dirinya masih dan tetap harus berkembang demi pendidikan bangsa.

***


Prof. Dr. Josephine Wuri, M.Si: Pantang Menyerah dalam Tantangan Memperjuangkan Impian

gubes


Perjalanan panjang dalam dunia akademik yang didedikasikan untuk ilmu pengetahuan dan kontribusi nyata terhadap masyarakat telah mencapai tonggak penting. Prof. Dr. Josephine Wuri, M.Si., atau yang akrab disapa Prof. Vivin, lahir pada 24 September 1970 di Karawang, Jawa Barat. Sejak awal, minat Prof. Vivin terhadap ilmu ekonomi telah tertanam kuat.

Ia menempuh seluruh jenjang pendidikannya di Yogyakarta, mulai dari Sekolah Dasar hingga pendidikan tinggi. Karier akademiknya berlanjut di Universitas Gajah Mada, sebuah institusi yang menjadi rumah bagi pendidikan Sarjana, Magister, hingga Doktoralnya, di jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Konsistensi ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikannya memang dari awal telah terfokus pada bidang ekonomi, didorong oleh minat tersendiri yang akan terus Prof. Vivin jalani.

Dedikasinya di dunia pendidikan tinggi dimulai sejak Agustus 1994, ketika Prof. Vivin diterima mengajar di Universitas Sanata Dharma pada program studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi. Prof. Vivin menjadi sosok akademisi yang cenderung berfokus pada ekonomi yang berdampak dan berkaitan pada kebijakan publik.

“Ya, minat karena fokus mengembangkan sehingga tertarik untuk bisa berbagi ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dan masyarakat, supaya lebih memahami karena penting untuk kedepan.”

Prof. Vivin dikenal sebagai dosen mata kuliah kuantitatif seperti Statistik, Matematika, Ekonometrika, Ekonomi Internasional (Moneter), dan Ekonomi Indonesia. Meskipun bidang yang diajarkan cukup kompleks, beliau selalu berusaha menyesuaikan pendekatan pengajarannya agar mahasiswa dapat memahami dengan mudah dan merasa dekat dengan pengetahuannya. Beliau percaya bahwa mengajar bukan hanya tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang memotivasi semangat belajar mahasiswanya.

Selain menjadi pengajar, Prof. Vivin juga terlibat aktif di bidang penelitian untuk pengembangan ekonomi yang inklusif. Berbagai karya ilmiah yang beliau hasilkan mencerminkan pandangan yang luas serta kepeduliannya terhadap isu-isu global. Beliau aktif menulis karya tentang isu-isu ekonomi internasional, pembangunan berkelanjutan, dan rantai nilai global. Beberapa karya ilmiahnya berhasil diterbitkan di jurnal bereputasi internasional dan terindeks Scopus, di antaranya seperti Journal of Applied Economic Sciences, Economies (MDPI), dan Heliyon (Elsevier). Dalam tulisan-tulisannya, Prof. Vivin menyoroti peran negara-negara ASEAN dalam rantai pasok global serta dinamika ekonomi makro di masa pandemi.

gubes

Selain itu, Prof. Vivin juga berhasil mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai simbol penghargaan atas pemikirannya dalam pemberdayaan masyarakat dan ekonomi terapan. Beberapa karya beliau yang mendapatkan HKI di antaranya meliputi:
  • Manajemen Keuangan Keluarga bagi Kepala Sekolah dan Ketua Komunitas Sekolah Kanisius Cabang Yogyakarta (2024)
  • Pendampingan Literasi Keuangan Keluarga bagi Kepala Sekolah dan Ketua Komunitas Sekolah Kanisius Cabang Yogyakarta (2024)
  • Studi Dampak Kebijakan Energi Terbarukan pada Global Value Chains: Pendekatan Global Trade Analysis Project – Energy Model (2024)
  • Pengaruh Teknologi Finansial, Literasi Finansial, Gaya Hidup, dan Konformitas Teman terhadap Perilaku Konsumtif Remaja Era 5.0 dengan Kontrol Diri sebagai Intervening (2025)
  • Platform E-Commerce bagi UMKM (2025)
Namun, di balik keberhasilan yang sekarang beliau peroleh, tersimpan juga tantangan yang dalam memperjuangkan pencapaiannya saat ini. Beliau menyampaikan bahwa mengejar program doktoral sambil tetap aktif mengajar bukanlah hal yang mudah. Selain itu, keterbatasan sumber daya dan waktu juga menjadi tantangan tersendiri untuknya. Semua tantangan tersebut berhasil beliau lewati, tak luput berkat dukungan keluarga dan orang sekitarnya. Bagi beliau, keluarga menjadikan api semangatnya tetap menyala.

Prof. Vivin berpesan pada generasi muda, khususnya mahasiswa yang memiliki cita-cita menjadi akademisi, dengan menegaskan pentingnya semangat dan pantang menyerah dalam memperjuangkan keinginannya dengan hati yang bahagia.
“Tetap semangat, fokus, jangan mudah menyerah. Terus belajar, jalin relasi, dan kerjakan semuanya dengan hati yang bahagia,” ujarnya.

Bagi Prof. Vivin, dunia akademik bukan sekadar ruang untuk berpikir, tetapi tempat untuk menyalakan api pengetahuan, berbagi makna, dan membangun masa depan bersama.

***
Kisah dengan semangat baru dua Guru Besar menorehkan banyak pesan dan kesan yang bermakna dalam dunia pendidikan yang akan mengalami revolusi, dengan segala pengalaman yang diberikan harapannya para pendidik sejati juga memiliki tekad untuk berkembang untuk membangun masa depan negara secara bersama.




Penulis:
Jean Pierre Ben Benedict
Sheila Hendyana Putri
Alfa Rida Corin Manurung
Andrea Kasih Anggita Simarmata

Editor: 
Eleonora Severin

  kembali