USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Membongkar Hubungan Pembangunan-Lingkungan Orde Baru dalam Sastra Indonesia Kontemporer

diupdate: 8 bulan yang lalu

Kuliah Umum Sastra

Yogyakarta, 29 September 2025 - Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma menggelar kuliah umum bersama David Rawson. Calon doktor dari Universitas Tasmania, Australia, dengan disertasi berjudul "Representasi Hubungan Pembangunan-Lingkungan dalam Sastra Kontemporer Indonesia". Dalam presentasinya, David membongkar narasi politik dan sastra terkait pembangunan dan lingkungan pada masa Orde Baru. Kuliah umum yang dilaksanakan di ruang S.303 ini dihadiri oleh dosen-dosen Fakultas Sastra serta beberapa mahasiswa.

Peran Sastra Belum Optimal
Dalam sambutannya, Dekan Falultas Sastra, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum mengungkapkan pentingnya kuliah umum ini dengan menyoroti belum optimalnya peran sastra dalam masyarakat Indonesia.

“Di negara-negara lain, jika sebuah issu atau persoalan memasuki wilayah cultural production atau produk budaya kreatif seperti karya sastra, itu menandakan persoalan itu sudah memasuki kesadaran manusia. Contohnya di Jerman, persoalan pembantaian orang Yahudi oleh regim NAZI di sana telah memasuki wilayah sastra kreatif. Selain muncul karya-karya sastra yang berusaha membangunkan kesadaran melawan lupa (Gegen das Vergessen), terbentuk pula karakter bangsa Jerman yang menolak untuk terlibat dalam perang dan pembunuhan. Kita tahu, mereka menolak terlibat dalam Perang Teluk,” ujar Yapi. “Akan tetapi, di Indonesia kesadaran tentang perubahan iklim sebagai sebuah ancaman global yan gdisebabkan oleh ketidak pedulian terhadap lingkungan, tidak memasuki kesadaran masyarakat, sekalipun karya sastra sudah banyak menyoroti dan mengingatkan persoalan ini,” lanjutnya.

“Ketidak-pedulian ini barangkali disebabkan karena selama ini sastra hanya dipandang sebagai the mirror (cermin – yang secara pasif memantulkan persoalan masyarkat) dan the lamp (lampu –yang secara aktif memberi suluh bagi pejalan malam). Saya pikir, sudah saatnya sastra didefinisikan pula sebagai the hammer (palu –yang mendobrak ketidakpedulian masyarakat),” ungkap Yapi sambil menambahkan,  “Karena itu, kuliah umum hari ini penting bagi kita semua untuk merefleksikan kembali persoalan relasi antara Pembangunan dan Lingkungan dan menemukan posisi kita dan jalan untuk memperbaikinya."

Narasi Politik dan Narasi Sastra
David Rawson mengawali presentasinya dengan membongkar aspek politik dan sastra yang saling terkait dalam narasi pembangunan dan lingkungan pada era Orde Baru. Ia menyoroti bagaimana naratif politik yang tertuang dalam pidato-pidato Presiden Soeharto menggambarkan pembangunan sebagai amanah untuk memperbaiki kegagalan pembangunan masa Orde Lama dan mengangkat ekonomi bangsa.

Sementara itu, sastra kontemporer menggambarkan sisi gelap pembangunan melalui narasi yang mengkritisi kerusakan lingkungan akibat eksploitasi hutan dan sumber daya alam yang tak terbayar dengan hilangnya ekosistem penting. Konflik antara naratif politik dan sastra ini mengungkapkan perspektif baru soal ongkos ekologis pembangunan.
Metode analisis naratif digunakan untuk menelaah fabula dan perspektif narator dalam teks politik dan sastra, sehingga muncul kontras antara narasi politik dan sastra. David menekankan bahwa sastra menghadirkan kritik mendalam yang memperkaya pemahaman terhadap pembangunan-lingkungan di masa Orde Baru.
 Kuliah Umum Sastra

"Aktor Orba ada amanah membangun negara yang berhasil membangun negara namun setiap aktor harus melakukan perannya dan pembangunan juga harus dilakukan sesuai dengan 

ideologi-ideologi yang ditentukan. Ada aktor yang mengancam pembangunan tetapi lagi diwaspadai. Lingkungan harus dikuras lebih cepat demi percepatan pembangunan namun bisa diperbaiki nanti dan masih ada sisa untuk angkatan penerus. Aktor asing ada tanggung jawab menyelesaikan masalah lingkungan. Aktor (Soeharto) ada kemampuan untuk melakukan reformasi yang dituntut rakyat tetapi dukungan politik hilang." paparnya.
 
David juga mengutip puisi “Zamrud di Khatulistiwa” karya Sitor Situmorang. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan naratif di puisi ini berkontestasi dengan naratif politik yang berkisar tentang hilangnya suatu lingkungan yang tak ternilai dan yang tak bisa diganti. Meskipun begitu ada bagian naratif yang sejalan dengan naratif politik yaitu kerusakan ini merupakan bagian sistem kapitalis global dan pembelinya dari negara maju. Dalam puisi ini ada representasi pembangunan berdasarkan eksploitasi hutan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat luas dan parah. David Rawson, yang juga seorang peneliti sastra berpengalaman dengan latar belakang interdisipliner, dinilai mampu memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi sastra Indonesia.

Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya Fakultas Sastra dalam mengembangkan kajian sastra yang kritis dan multidisipliner, serta sebagai kesempatan bagi mahasiswa dan akademisi untuk mendalami isu penting yang masih relevan hingga saat ini. Dalam konteks Universitas Sanata Dharma, isu lingkungan merupakan salah satu issu penting. Tahun 2015, Paus Fransiskus mengeluarkan Ensiklik Laudato Si yang menekankan pentingnya merawat lingkungan hidup. Tahun 2019, Serikat Jesus (SJ) sedunia mengumumkan empat arah misi utama dalam Universal Apostolic Preferences (UAP) yang salah satunya adalah ‘merawat rumah kita bersama.’ Preferensi ini merupakan “kompas rohani” yang membantu para Jesuit dan kolaboratornya untuk melayani Gereja dan dunia sesuai kehendak Allah.






AHC - Sastra Indonesia

  kembali