USD Akreditasi A Alumni Email USD

Delegasi USD Menanam Harapan dan Menumbuhkan Persaudaraan di AJCU-AP Service Learning Program 2025

diupdate: 5 bulan yang lalu

Delegasi USD di SLP 2025 Ateneo de Naga, Filipina (dok. SLP-BKHI)

USD - Universitas Sanata Dharma (USD) mengirimkan enam mahasiswa dan satu dosen pendamping untuk mengikuti Association of Jesuit Colleges and Universities in Asia Pacific (AJCU-AP) Service Learning Program (SLP) 2025 di Ateneo de Naga University, Naga City, Filipina, pada 2-16 Agustus 2025.

Program bertemakan "One with Nature" ini mempertemukan mahasiswa dari delapan institusi yang tersebar di lima negara. Delegasi USD terdiri dari Rafael Nugroho Putra Susanto (Sastra Inggris), Sebastianus Gaga Bani (Sastra Inggris), Edward Vito Brata Yuwana (Informatika), Gabriela Selomita Rumondor (Pendidikan Matematika), Aileen Komala Widjaja (Psikologi), Gabriela Yohan Enggalim Kobak (Farmasi), dan Intan Putri Hapsari sebagai dosen pendamping dari Program Studi Pendidikan Biologi.

Pengalaman Lintas Budaya

Program ini mengajak partisipan merasakan pengalaman lintas budaya sambil memperdalam panggilan sosial, spiritual, dan kepedulian terhadap lingkungan. Para peserta berasal dari Indonesia, Filipina, Jepang, Thailand, dan Timor Leste.

"Perasaan cemas, takut, bimbang, hilang seketika ketika kita semua disatukan dengan rasa hangat, rasa ingin tahu, rasa untuk saling mengenal satu sama lain," kata Rafael Susanto, menceritakan pengalaman awal pertemuan dengan delegasi dari negara lain saat makan siang di Short Highland Park.

Aktivitas Immersion dan Konservasi

Kegiatan immersion yang mengharuskan peserta tinggal bersama keluarga lokal di Balatasan dan Punta Tarawal memberikan pembelajaran berharga tentang kesederhanaan hidup. Gabriel Yohan mengingat kehangatan sambutan warga yang mampu tersenyum dan penuh kehangatan meskipun hidup sederhana.

"Mereka tetap mampu tersenyum, tetap ramah, dan penuh kehangatan meskipun hidup dalam kesederhanaan," ungkap Gabriel Yohan.

Program ini juga melibatkan aktivitas konservasi langsung seperti "Forest in Our Midst/Tree Nurturing" dan "Mangrove Planting". Rafael menulis refleksi tentang pengalaman menanam mangrove pertama kalinya di luar negeri, yang membuatnya bertekad melanjutkan aksi serupa di Indonesia.

Momen Refleksi di Alam
Kunjungan ke Malabsay Falls menjadi salah satu momen paling berkesan. Edward Vito menuliskan pengalamannya, "Felt like being hugged with nature... we seem so small compared to the fall," yang mengingatkan posisi manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.

Delegasi USD di SLP 2025 Ateneo de Naga, Filipina (dok. SLP-BKHI)

Aileen Komala Widjaja juga menemukan ketenangan di halaman luas Sacred Heart Formation Centre, tempat peserta menginap. "Setelah kegiatan selesai, saya bisa berjalan kaki mengelilingi biara sambil menikmati udara segar dan ketenangan lingkungan sekitar," katanya.

Transformasi Personal

Sebastian Gaga Bani menilai SLP sebagai "perjalanan batin" yang membuatnya lebih peka terhadap suara alam dan sesama. "SLP bagi saya bukan sekadar program pengabdian, melainkan sebuah perjalanan batin yang membentuk kesadaran baru bahwa alam bukan sesuatu di luar diri saya, melainkan bagian dari diri saya sendiri," tuturnya.

Para peserta SLP 2025 Ateneo de Naga, Filipina (dok. Facebook page of The official digital media network of the department of media, Ateneo De Naga)

Gabriela Selomita Rumondor merasakan energi yang membuatnya merasa hidup kembali. "Kegiatan seperti SLP membuatku merasa hidup kembali dan dari air terjun mengajakku untuk mencintai lagi lebih dalam dan mensyukuri akan segala hal yang ada," ungkapnya.

Program AJCU-AP Service Learning Program 2025 tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan kesadaran lingkungan bagi para peserta. Setiap delegasi pulang dengan membawa harapan, persahabatan baru, dan tekad untuk hidup selaras dengan alam.

(SBG/GSR-SLP-BKHI)

  kembali