USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

USD-Kemensos Gagas Program Pengentasan Kemiskinan Ekstrem di Gunungkidul

diupdate: 11 bulan yang lalu

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma dengan perangkat Desa Tegalrejo, Selasa 29 Juli 2025 (dok. Tim PkM)

USD, 31 Juli  2025 – Tiga ratus rumah tidak layak huni, tingginya angka stunting, dan banyaknya keluarga tanpa Kartu Keluarga menjadi gambaran kondisi Desa Tegalrejo, Gunungkidul. Untuk mengatasi kemiskinan ekstrem ini, tim Universitas Sanata Dharma (USD) berkolaborasi dengan Kementerian Sosial mengunjungi desa tersebut pada Selasa (29/7/2025).

Kunjungan ini merupakan langkah awal pemetaan kondisi desa sebagai dasar program pengentasan kemiskinan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan.

Kepala Desa Tegalrejo, Sarjono, mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi warganya. "Pernah ada bantuan perbaikan rumah untuk 57 rumah, tetapi tantangan di lapangan sangat besar. Material harus dipikul karena akses jalan terbatas," jelasnya saat menerima tim di Balai Desa.

Selain infrastruktur, desa ini juga menghadapi masalah sosial berupa banyaknya 'KK tempel' – keluarga yang belum memiliki Kartu Keluarga sendiri. Potensi ekonomi seperti wisata Curug juga terhambat karena longsor dan masalah kepemilikan lahan.

"Saat ini yang masih memungkinkan adalah pengembangan kerajinan batik," tambah Sarjono tentang potensi ekonomi desa.

Tim pengabdian masyarakat yang terdiri dari Ir. Petrus Setyo Prabowo, M.T., Ir. Eko Arianto, M.T., Beni Utomo, M.Sc., dan Dominikus Arif Budi Prasetyo, M.Si., melakukan diskusi intensif selama hampir tiga jam dengan perangkat desa.

"Kami datang bukan membawa program jadi, tetapi untuk memahami kondisi desa secara komprehensif. Supaya solusi yang ditawarkan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat," ujar Petrus Setyo Prabowo, mewakili tim.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma dengan perangkat Desa Tegalrejo, Selasa 29 Juli 2025 (dok. Tim PkM)

Sekretaris Desa Sugianto menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai kunci keberhasilan. "Kalau SDM tidak siap, program hanya jadi proyek jangka pendek. Setelah bantuan selesai, program pun bubar," tegasnya.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USD dengan Kementerian Sosial RI. Data yang dikumpulkan dari kunjungan ini akan menjadi dasar perencanaan kegiatan jangka panjang.

Tahap selanjutnya akan melibatkan wawancara mendalam dengan masyarakat, pemetaan partisipatif, dan keterlibatan kelompok seperti Karang Taruna, PKK, dan perangkat padukuhan.

"Ini bukan sekadar penelitian, tapi komitmen jangka panjang untuk membangun strategi pemberdayaan yang berkelanjutan," tegas Petrus.

Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah pusat, dan masyarakat lokal ini diharapkan dapat mengatasi akar masalah kemiskinan struktural di Tegalrejo. Pendekatan berbasis data dan kearifan lokal menjadi kunci strategi yang akan diterapkan.

Program ini adalah bagian dari komitmen USD dalam mendukung pembangunan nasional melalui pemberdayaan masyarakat di tingkat grassroot, khususnya dalam menangani kemiskinan ekstrem yang masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah.

(EA-FV)
 

  kembali