USD - Sesi "Bincang Bareng Penulis" dalam rangkaian Pekan Sastra Sadhar 2026 sukses menghadirkan penulis, blogger, dan kreator konten Agus Mulyadi di Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD), pada 27 Oktober 2026. Berlangsung di bawah naungan tema besar "Menyalakan Ruang Sastra di Tengah Keterasingan," sesi ini menghadirkan mantan penjaga warnet yang juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi tersebut untuk membagikan perjalanan karyanya. Dalam acara ini, penulis buku Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih tersebut membagikan dapur kreatifnya dalam mengolah pengalaman personal dan realitas hidup sederhana menjadi tulisan jenaka yang dekat dengan pembaca.

Mengulas kilas balik kariernya, Agus mengenang masa lalunya ketika terinspirasi oleh sosok lelaki idaman zaman dulu seperti tokoh Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta? maupun serial Tutur Tinular yang pandai berpuisi. Dari sanalah lahir prinsip jenaka yang memicu motivasi awalnya untuk belajar menulis. "Wong lanang nek raine elek minimal kudu iso gawe puisi," atau “Orang jelek, minimal harus bisa membuat puisi” seloroh Agus yang disambut gelak tawa penonton. Dari keberanian menulis puisi tersebut, ia mulai beralih membagikan pengalaman pribadi di blog, khususnya perihal dinamika kehidupan sederhana dan kemiskinan. Menurutnya, tulisan bertema kemiskinan rupanya sangat diminati karena "orang miskin suka nonton orang miskin lainnya agar merasa ada teman senasib” ujar Agus Mulyadi.
Pendekatan realitas ini juga ia tuangkan dalam buku Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih yang mengisahkan perjalanan asmaranya bersama sang istri, Kalis Mardiasih. Menjauhi pakem cerita romantis yang ideal atau serba lewat kemewahan, Agus secara jujur memotret hubungan mereka melalui tuturnya, "Saya tuh orang miskin, kebetulan pacar saya (sekarang istri saya) juga miskin." Menurutnya, romansa yang dibalut realitas ekonomi kelas bawah justru terasa sangat jujur dan perlu diberi ruang di masyarakat. Kejelian Agus dalam menangkap dinamika kehidupan sehari-hari ini bahkan melahirkan anekdot ikonik di salah satu bukunya, yakni saat ia bercita-cita menjadi orang kaya hanya demi bisa membeli merek pasta gigi Close Up yang pernah ia kagumi di iklan televisi.

Di balik kesuksesan karya-karyanya, Agus tak menampik adanya beban ekspektasi untuk selalu tampil humoris. Ia mengaku harus berburu punchline sebelum menuliskan pengalaman, sebab gaya jenaka adalah kunci utamanya dalam menghibur pembaca di tengah ketiadaan spesialisasi ilmu tertentu. Namun, bagi siapa saja yang ingin mulai menulis, ia menyarankan agar tidak terbeban tuntutan kesempurnaan pada draf awal. "Tulisan bagus berasal dari tulisan jelek yang terus dikoreksi," tegas mantan redaktur Mojok tersebut. Ia menambahkan bahwa tulisan tidak harus selalu berbobot filosofis yang mendaki-daki, sebab kisah dari pengalaman sehari-hari pun punya daya pikatnya sendiri jika terus diasah.
Sesi bincang santai ini ditutup dengan dorongan semangat bagi seluruh mahasiswa USD yang ingin terjun ke dunia kepenulisan. Agus berpesan agar calon penulis untuk tidak ragu mengekspresikan gagasannya sendiri. Semangat ini sangat selaras dengan atmosfer kampus USD yang senantiasa memberi ruang bagi kreativitas mahasiswa dalam merayakan sastra dan merekam realitas hidup di sekitarnya.
AK/WR - Humas




