
Universitas Sanata Dharma kembali menyelenggarakan Konferensi Internasional tahunan Language and Language Teaching Conference (LLTC) untuk yang ke-12 kalinya. Tahun ini, LLTC mengusung tema ‘Bridging Digital Frontiers: AI, Multimodality, and Cultural Transformation in Language and Language Teaching', yang berfokus pada perkembangan kecerdasan buatan (AI), multimodalitas, serta transformasi budaya dalam bidang bahasa dan pengajaran bahasa di era digital.
LLTC ke-12 diselenggarakan pada tanggal 6 - 7 November 2025 bertempat di Ruang Seminar Driyarkara, Universitas Sanata Dharma (USD). Kegiatan ini merupakan acara rutin yang diinisiasi oleh Program Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) sebagai penyelenggara utama dan bekerja sama dengan program Magister Pendidikan Bahasa Inggris (MPBI) dan Magister Kajian Bahasa Inggris (KBI), serta didukung oleh Lembaga Bahasa USD. Konferensi ini berfokus pada perkembangan kecerdasan buatan (AI), multimodalitas, serta transformasi budaya dalam bidang bahasa dan pengajaran bahasa di era digital.
Tema yang diusung LLTC 2025 sangat relevan dengan kondisi dunia pendidikan saat ini karena menyoroti bagaimana dunia pendidikan sedang memasuki era digital baru. Hal ini tentunya sangat berguna untuk mengubah cara kita dalam belajar dan mengajar bahasa. LLTC 2025 menekankan pentingnya menjembatani batas antara metode tradisional dan inovasi digital agar pengajaran bahasa tetap relevan dan bermakna di era modern ini. Selain itu, transformasi budaya yang muncul akibat kemajuan teknologi menuntut pendidik untuk menanamkan kesadaran lintas budaya, sehingga pembelajaran bahasa tidak hanya berfokus pada aspek linguistik, tetapi juga pada pemahaman nilai dan identitas budaya di tengah perubahan global.
Pada tahun ini, LLTC mengundang empat pembicara utama, yaitu Professor Peter De Costa dari Michigan State University, Assoc. Prof Victor Lim Fei dari Nanyang Technological University, Made Hery Santosa S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Pendidikan Ganesha, dan Carla Sih Prabandari M.Hum., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma. Keempat pembicara utama memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tema LLTC 2025.


Presentasi yang disampaikan oleh pembicara utama pertama yaitu Professor Peter De Costa dari Michigan State University membahas materi terkait pergeseran dari literasi digital ke literasi digital kritis, pentingnya memahami emosi, kekuasaan, dan bias dalam penggunaan AI di pendidikan, serta membahas pentingnya literasi etis kritis di era digital. Selanjutnya, presentasi yang disampaikan oleh pembicara utama kedua yaitu Carla Sih Prabandari M.Hum., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma menyoroti pentingnya menjaga identitas bahasa Indonesia dalam pembelajaran pengucapan Bahasa Inggris di era AI. AI membantu melatih pelafalan, tetapi perlu digunakan secara bijak agar tidak menghapus ciri khas lokal. Fokusnya pada perbedaan bunyi Indonesia–Inggris dan cara memanfaatkannya untuk meningkatkan kejelasan tanpa kehilangan identitas. Pada hari kedua, Assoc. Prof Victor Lim Fei dari Nanyang Technological University membahas materi terkait Multimodalitas, yaitu penggunaan berbagai cara seperti teks, gambar, suara, dan gerak untuk menyampaikan makna dalam pembelajaran. Kemudian, sesi keynote ditutup oleh presentasi dari Made Hery Santosa S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Pendidikan Ganesha yang membahas materi terkait pentingnya menjaga peran guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris di era AI. Teknologi membawa banyak peluang, namun tidak boleh menggantikan kendali manusia dalam proses belajar. Guru dan siswa sama-sama diharuskan untuk memiliki literasi AI, berpikir kritis, serta mampu menggunakan teknologi secara etis agar tetap menjadi pengendali utama dalam proses pendidikan.
Sesi tanya jawab berlangsung begitu interaktif, ditandai dengan semangat para peserta yang aktif mengajukan pertanyaan. Setidaknya ada dua pertanyaan yang dijawab oleh para pembicara utama saat sesi tanya jawab. Pertama, bagaimana guru menyeimbangkan pedagogi tradisional dengan teknologi agar siswa mampu memahami tingkat emosional mereka? Kedua, “Apa prinsip dasar yang dimiliki guru dalam kelas dan sejauh mana guru memperbolehkan siswa menggunakan AI secara pedagogis, teknis, dan etis?” Jawaban dari pertanyaan pertama yaitu guru perlu fokus pada tujuan mata pelajaran. Jawaban untuk pertanyaan kedua yaitu “Setelah memahami aturan, guru tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai guru, Anda perlu memiliki kompetensi pedagogis yang kuat.” ujar Made Hery Santosa S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Pendidikan Ganesha pada Jumat (07/11/2025).


Dari laporan ketua panitia LLTC tahun 2025 yaitu Ibu Yuseva Ariyani Iswandari, Ph.D., terdapat 78 judul presentasi sesuai dengan isu yang diangkat pada tahun ini, dengan 81 presenter dari 41 institusi (Perguruan tinggi, sekolah dan pendidikan non formal) di Singapura, Thailand, Filipina, Timor-Leste, Australia, dan Jerman yang berpartisipasi secara luring dan daring dan dan 37 presenter dari Universitas Sanata Dharma (USD), Selain itu, konferensi ini dihadiri oleh 116 mahasiswa RP (Research Proposal) yang memiliki latar belakang berbeda-berbeda.
Pada akhirnya, LLTC 2025 tidak hanya menjadi forum bertukar ilmu dan pengalaman, tetapi juga wadah kolaborasi yang mendorong terciptanya inovasi dalam pengajaran bahasa di era digital. Melalui diskusi dan pertukaran gagasan antara para pengajar, peneliti, dan praktisi, konferensi ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman terhadap peran teknologi dan dinamika budaya dalam proses pembelajaran bahasa, sekaligus membuka peluang kerjasama lintas disiplin dan institusi untuk kemajuan pendidikan bahasa di masa depan.
TWPM - Pendidikan Bahasa Inggris
TWPM - Pendidikan Bahasa Inggris




