
USD - Ada yang berubah, tetapi ada pula yang harus tetap menyala. Perpindahan kampus Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma dari Kotabaru ke Kampus I USD di Mrican bukan sekadar perpindahan ruang belajar. Di balik perubahan tempat itu, tersimpan sebuah perjalanan sejarah, kenangan, dan cita-cita pendidikan yang telah lama bertumbuh: Pradnya Widya, kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan.
Kotabaru bukan sekadar nama sebuah tempat. Bagi mereka yang pernah belajar, mengajar, dan bertumbuh di sana, Kotabaru menyimpan cerita tentang persahabatan, pergulatan intelektual, pencarian makna panggilan hidup, serta proses menjadi pribadi yang semakin matang. Di ruang-ruang kelasnya, para mahasiswa tidak hanya belajar memahami ajaran iman, tetapi juga belajar memahami manusia, kehidupan, dan tanggung jawab untuk melayani sesama.
Kini, halaman sejarah itu berlanjut di Mrican. Wajah kampus boleh berubah, suasana belajar boleh berbeda, dan lingkungan baru menghadirkan pengalaman yang baru pula. Namun, perubahan tempat tidak semestinya mengubah api yang selama ini menjadi jiwa Pendidikan Keagamaan Katolik Sanata Dharma. Justru di tempat yang baru inilah semangat lama itu memperoleh kesempatan untuk menemukan bentuk pengabdian yang semakin relevan dengan tantangan zaman.


Pradnya Widya bukan sekadar nama yang diwariskan, melainkan nilai yang harus terus dihidupi.
Pradnya mengingatkan kita pada kebijaksanaan: kemampuan untuk melihat persoalan dengan jernih, mengambil keputusan dengan hati nurani, dan memperlakukan setiap manusia dengan hormat. Widya mengingatkan kita pada ilmu pengetahuan: keberanian untuk terus belajar, kesediaan untuk berpikir kritis, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan manusia selalu dapat diperdalam. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa kebijaksanaan berisiko kehilangan arah, sedangkan kebijaksanaan tanpa pengetahuan dapat kehilangan pijakan. Pendidikan sejati mempertemukan keduanya agar manusia tidak hanya menjadi cerdas, tetapi juga semakin humanis – motto Universitas Sanata Dharma.
Di sinilah letak panggilan penting Pendidikan Keagamaan Katolik Sanata Dharma. Kampus ini tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang menguasai teori pedagogi dan ilmu Pendidikan, kateketik, ajaran Gereja, teologi, dan Kitab Suci. Lebih dari itu, kampus ini memikul tanggung jawab untuk membentuk katekis dan calon guru agama Katolik yang memiliki kedalaman iman, keluasan wawasan, kematangan kepribadian, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.


Seorang katekis tidak cukup hanya mampu menjelaskan ajaran Gereja. Ia perlu menghadirkan iman melalui kesaksian hidup, membangun dialog, mendampingi mereka yang bergumul, dan menumbuhkan harapan di tengah-tengah masyarakat. Demikian pula seorang guru agama tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Ia dipanggil untuk mendidik hati nurani, menumbuhkan karakter, membuka ruang dialog, dan membantu generasi muda menemukan makna kehidupan.
Tugas semacam ini tidak pernah sederhana. Dunia terus berubah. Generasi muda tumbuh dalam arus informasi yang deras, perkembangan teknologi yang cepat, perbedaan pandangan yang semakin kompleks, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang menuntut jawaban bijaksana. Dalam situasi seperti ini, pendidikan agama tidak boleh berhenti pada hafalan dan rutinitas. Pendidikan agama harus menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kehidupan, antara pengetahuan dan pengalaman, serta antara nilai-nilai Injili dan realitas manusia sehari-hari.
Karena itu, perpindahan ke Mrican hendaknya tidak hanya dipahami sebagai babak baru dalam sejarah fisik kampus, tetapi juga sebagai momentum untuk memperbarui komitmen pendidikan. Gedung dan ruang belajar yang baru akan memperoleh maknanya ketika di dalamnya tumbuh semangat belajar yang hidup, percakapan yang membebaskan, penelitian yang bertanggung jawab, persaudaraan yang tulus, dan pelayanan serta pengabdian yang nyata.
Kampus yang baik bukan semata-mata kampus dengan fasilitas yang memadai. Kampus yang baik adalah tempat manusia bertumbuh, gagasan dipertemukan, perbedaan dihargai, dan panggilan hidup dipertajam. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa menjadi pendidik agama bukan hanya soal profesi, melainkan juga tentang kesediaan mengambil bagian dalam membangun manusia dan masyarakat yang lebih bermartabat. Maka, Kampus I Mrican bukan sekadar alamat baru. Mrican adalah ruang baru untuk meneruskan warisan lama dengan semangat yang terus diperbarui. Kenangan Kotabaru tidak perlu ditinggalkan; kenangan itu dapat dibawa sebagai sumber kekuatan, sekaligus sebagai pengingat akan tanggung jawab yang harus diteruskan oleh setiap generasi.

Bagi para dosen, semangat Pradnya Widya menjadi undangan untuk terus mengajar dengan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan. Bagi mahasiswa, semangat itu menjadi panggilan untuk belajar dengan tekun, bertanya dengan berani, dan bertumbuh dengan rendah hati. Bagi para alumni, semangat itu menjadi pengingat bahwa identitas Pradnya Widya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan kampus. Justru di sekolah, paroki, komunitas, dan tengah masyarakatlah nilai-nilai itu diuji dan diwujudkan.
Pada akhirnya, yang menentukan masa depan Pradnya Widya bukanlah semata-mata di mana kampus itu berdiri, melainkan apa yang terus dihidupi oleh orang-orang di dalamnya. Bangunan dapat berubah, generasi dapat berganti, dan zaman dapat bergerak ke arah yang tidak selalu mudah diprediksi. Namun, selama ilmu tetap dicari dengan jujur, kebijaksanaan terus ditumbuhkan, iman dihayati secara reflektif, dan pelayanan kepada sesama menjadi orientasi, semangat Pradnya Widya akan tetap menemukan jalannya.
Dari Kotabaru menuju Mrican, tempat boleh berganti, tetapi panggilan tidak boleh berhenti. Wajah baru, semangat yang tetap menyala. Pradnya Widya terus hidup dalam setiap katekis dan calon guru agama yang belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi juga untuk menjadi bijaksana, mendidik dengan hati, dan melayani dengan kasih.
Sebab, pada akhirnya, warisan terbesar sebuah lembaga pendidikan bukanlah bangunan yang ditinggalkannya, melainkan manusia-manusia yang dibentuknya dan kebaikan yang mereka teruskan kepada dunia. Selamat belajar di kampus baru Mrican. Kaum muda yang bersemangat dan mau melayani Gereja dan sesama, mari bergabung dengan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Universitas Sanata Dharma.
Dr. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ - Dosen Pendikkat USD
Editor : Jean Pierre




