USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pagelaran Sastra "Jamila dan Sang Presiden" Sebagai Ajang Eksplorasi Diri

diupdate: 10 tahun yang lalu


Jumat (19/05) Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) mengadakan sebuah drama  yang diadakan di Aula Kampus I Universitas Sanata Dharma (USD). Drama tersebut diadakan dalam rangka penilaian mata kuliah Pagelaran Sastra mahasiswa PBSI angkatan 2014 kelas B. Dengan diadakannya pagelaran ini, mahasiswa PBSI diharapkan mampu berkreasi dan berani mengeksplorasi diri.
Pagelaran yang dimulai pada pukul 19.00 WIB tersebut dibuka dengan kata sambutan dari dosen pengampu mata kuliah Pagelaran Sastra Drs. J. Prapta Diharja, SJ, M.Hum. dan Ketua Program Studi PBSI Dr. Yuliana Setyaningsih, M.Pd. Beliau mengatakan bahwa pagelaran tersebut dapat dijadikan sarana untuk mencari pengalaman. Menurut beliau tanpa pengalaman orang  muda kurang mengenal diri mereka sendiri, pengalaman juga bisa menjadi titik tolak untuk maju.
Judul pagelaran yang diangkat adalah “Pelacur dan Sang Presiden” yang diangkat dari “Jamila & Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet. Karya tersebut diangkat karena memiliki tema yang berbeda dari drama pada umumnya. Awal pagelaran dimulai dengan apik, diawali dengan beberapa pemain yang memikul keranda mayat dengan iringan musik bernuansa mistis dan lighting yang mendukung. Pada awal pagelaran narator mengisahkan latar belakang  cerita. Jamila  sebagai tokoh utama adalah seorang pelacur, ia menyerahkan dirinya kepada polisi dan mengaku telah membunuh pejabat negara yang menjadi langganannya. Untuk perbuatannya itu, Jamila dijatuhi hukuman mati. Sebelum dieksekusi ia justri meminta untuk dipertemukan dengan presiden dan seorang ulama tersohor. Hal itu, membuat masyarakat semakin geram.
Drama ini menceritakan tentang kisah Jamila yang terlahir di lingkungan masyarakat di mana perdagangan anak perempuan merupakan hal yang biasa. Untuk itu, orang tua Jamila menyerahkannya kepada keluarga yang berada dengan harapan Jamila bisa memiliki kehidupan yang layak. Akan tetapi, Jamila mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari ayah dan saudara tirinya. Semenjak itu ia berusaha mencari pekerjaan sebagai tenaga kerja di luar negeri, akan tetapi ia dijerumuskan ke dalam dunia pelacuran.
Drama “Pelacur dan Sang Presiden” tidak memberikan petunjuk tentang jalan keluar ataupun bersifat menggurui. Sang sutradara yaitu Dewi Puji Lestari menawarkan refleksi untuk membuka mata kita semua dengan menggunakan kisah mengenai pelacuran dan perdagangan seks anak-anak di bawah umur.
Pagelaran tersebut dihadiri oleh banyak penonton, tidak hanya dari mahasiswa PBSI melainkan juga dari berbagai prodi lainnya. Pagelaran Sastra “Pelacur dan Sang Presiden” diharapkan menjadi titik tolak mahasiswa PBSI untuk menyelenggarakan pagelaran yang lebih besar ke depannya.
(YMN & NRP) 

  kembali