USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Studium Generale BK USD
“YOU ARE A LEADER: Bertumbuh menjadi Pemimpin yang Otentik dan Reflektif”

diupdate: 1 bulan yang lalu




Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma (USD) mengadakan Studium Generale dengan tema “YOU ARE A LEADER: Bertumbuh menjadi Pemimpin yang Otentik dan Reflektif” melalui aplikasi Zoom dan disiarkan secara langsung di kanal YouTube Humas USD. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 6 Oktober 2021 ini  diikuti oleh mahasiswa aktif, dosen, dan juga alumni BK USD, serta menghadirkan dua pembicara, yaitu Dra. Maria Josepha Retno Priyani, M.Si., Dosen BK USD dan Petrus Sudiyono, S.Pd., M.M., Guru BK SMA Kolese Loyola Semarang.  Acara dimoderatori oleh Vincent Eddy Kuncoro Hartono, S.Psi., M.Psi., Psikolog, BK USD.

Dra. M. J. Retno Priyani, M.Si. sebagai pembicara pertama menyampaikan bahwa kepemimpinan adalah suatu hal yang penting tetapi banyak orang kurang berminat untuk menjadi pemimpin. Dosen yang sering disapa Bu Retno ini juga menyampaikan hal yang perlu diperhatikan dalam berkemimpinan, yaitu kita harus mengembangkan spirit dan personal beliefs agar kita bertumbuh tidak hanya sekadar menjadi seorang pemimpin, tetapi juga menjadi pemimpin yang otentik dan reflektif. Pemimpin juga tidak terikat pada status sosial atau jabatan formal, tapi yang terpenting adalah maukah kita menjadi seorang pemimpin yang menggerakkan orang lain.

Bu Retno menambahkan bahwa sebelum menjadi seorang pemimpin bagi orang lain, kita harus menjadi pemimpin untuk diri sendiri. Pemimpin juga mempunyai berbagai peran, antara lain memotivasi dan mengaktualisasikan dirinya, mengembangkan potensi dirinya, menginspirasi orang lain melalui tindakannya, mengelola berbagai pribadi yang ada di sekitarnya untuk bekerjasama, dan berani tegas dalam mengambil keputusan. Dalam berkemimpinan terdapat banyak pengaruh yang dapat kita rasakan maupun dalam kelompok, antara lain adanya rasa puas, bangga, bahagia, meningkatkan motivasi bertumbuh, mewarnai dunia (kelompok), dan kehadiran kita menjadi poin yang sangat signifikan. Selain itu, juga terdapat beberapa aspek agar kita bisa menjadi seorang pemimpin yang kita inginkan, yaitu melalui spirit. Kita harus mempunyai roh, api yang menggerakkan, semangat dalam diri kita sendiri. Spirit roh semangat itu perlu dinyalakan dan dipantau setiap saat dan dinyalakan kembali. Kemudian aspek selanjutnya adalah personal beliefs, menyangkut tentang hal-hal yang diyakini oleh seseorang, keyakinan pribadi ini terbentuk melalui pengalaman dan perlu diperiksa kembali kebenarannya. Dan aspek yang terakhir adalah perilaku, perilaku seseorang ditentukan oleh spiritnya sendiri dengan kata lain roh, api atau semangat yang menggerakkan dan semakin bersedia untuk orang lain. Ketiga aspek inilah yang membuat kita menjadi seorang pemimpin otentik dan reflektif.

Sementara itu, ada hal lain yang tak kalah penting dalam menjadi pemimpin, yaitu emosi positif. Emosi positif ini merupakan daya yang menggerakkan pribadi kita dalam beraktivitas. Yang menjadi hambatan dalam pengembangan diri kita adalah kita sering tidak mampu untuk mengelola atau mengendalikan emosi kita sendiri. Menurut psikologi emosi, seseorang mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ada banyak sekali pengalaman di masa lalu yang menyandera kita, misalnya hidup di zaman lalu, trauma pengalaman buruk, dikucilkan, dimarahi, ditertawakan. Jika kita masih disandera oleh masa lalu, jika kita tidak bisa memaafkan masa lalu maka kita juga tidak bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Sedangkan mengenai masa depan, kita cenderung memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi di masa depan. Hal ini membuat kita enggan untuk menjadi seorang pemimpin, oleh karena itu sambutlah masa depan dengan penuh harapan dan optimis. Sedangkan untuk yang masa sekarang, hiduplah dalam setiap momennya.

Petrus Sudiyono, S.Pd., M.M. sebagai pembicara kedua membagikan kisahnya mengenai kepemimpinan otentik dan reflektif dalam profesi BK di lingkungan sekolah. Petrus menuturkan bahwa menjadi seorang pemimpin adalah hal yang  mudah dan enak. Jika ada orang yang lain tidak suka atau kurang nyaman dalam berkomunikasi, cukup dibuat menyenangkan saja. Sebagai seorang pemimpin yang dilihat dari sisi intrapersonal harus berfokus pada diri sendiri. Bagaimana kita mau menyatakan kalau kita mempunyai konsep diri yang positif dan pengetahuan yang kita miliki adalah pengetahuan yang benar adanya. Kemudian dari sisi interpersonal adalah mengenai bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain dalam suasana yang mendukung dan menerapkan etika yang ada. Proses aku membangun konsep diri dan juga bagaimana mengembangkan diri saya serta bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain masih bisa dikembangkan.

Hal ini dipertegas dengan perspektif perkembangan di mana kita bisa mengembangkan sisi psikologis positif kita. Beberapa hal yang harus dimiliki oleh pemimpin yang otentik adalah memiliki tujuan, memiliki nilai-nilai yang kuat, membangun hubungan saling percaya dengan orang lain, menunjukkan disiplin diri, dan bersemangat dengan misi kasih sayang. Contoh tokoh yang mempunyai karakteristik seorang pemimpin yang otentik antara lain Terry Fox yang mempunyai hasrat tentang tujuannya dan juga Nelson Mandela yang merupakan seorang dengan nilai-nilai yang kuat. Hal-hal penting dalam kepemimpinan yang otentik antara lain adanya kesadaran diri, perspektif moral yang diinternalisasi, proses yang seimbang, dan juga transparansi relasional. Kepemimpinan juga berkaitan dengan berpikir dan bersikap reflektif. Komponen sikap reflektif adalah membuka pikiran secara lugas, mempunyai sikap tanggung jawab, dan kesungguhan dalam bertindak. “Setiap pengalaman harus direfleksikan, harus dimaknai, supaya hidup menjadi bermakna”, tutur Petrus di akhir sesi.

(ASB & GGZ)

  kembali