Sabtu (08/12), Ruang Koenjono, Gedung Pusat, Kampus 2 Universitas Sanata Dharma dipenuhi 128 mahasiswa dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma dan 12 orang praktisi dari berbagai aspek (dosen FE USD, Dinas Pariwisata Kulon Progo, Dinas Pariwisata Gunung Kidul, dan Dinas Pariwisata DIY). Mereka mengikuti Seminar Nasional Kepariwisataan yang bertajuk Creative Economy and Creative Tourism Destination yang terselenggara berkat kerja sama antara Pusat Pengembangan dan Pelatihan Kepariwisataan Universitas Sanata Dharma (P3Par USD) dengan Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif.
Dalam seminar ini, Lucia Kurniawati, S.Pd., M.S.M. yang juga merupakan dosen Manajemen Fakultas Ekonomi USD bertindak sebagai moderator dengan pembicara Hengky Hermantoro dari Sekeretaris Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ike Janita Dewi, S.E., M.B.A., Ph.D. dari prodi manajemen FE USD dan peneliti yang tergabung dalam anggota pengembangan Destinasi Pariwisata DIY. “Tujuan seminar ini adalah untuk memunculkan ide-ide kreatif dari rekan-rekan muda yang ada di DIY khususnya rekan-rekan dari prodi Manajemen Fakultas Ekonomi USD guna memajukan pariwisata yang ada di DIY.” demikian disampaikan Antonius Diksa Kuntara., S.E., MFA. dalam sambutannya mewakili Dekan FE USD saat membuka acara.
Dalam paparannya Hengky mengatakan bahwa pariwisata yang sekarang berkembang adalah wisata untuk mendapatkan sesuatu seperti makanan atau barang, sementara pariwisata yang ingin dicapai adalah pariwisata yang apabila kita berkunjung adalah kita melakukan sesuatu bukan hanya mendapatkan sesuatu di mana nantinya dibutuhkan ide-ide kreatif dari masing-masing pelaku bisnis untuk memajukan daerah wisatanya masing-masing sehingga daerah wisata tersebut semakin banyak dilirik para wisatawan. Hengky juga mengajak rekan-rekan muda untuk memunculkan ide-ide kreatif dengan berpikir keluar dari kotak yang sudah ada karena biasanya ide-ide kreatif muncul apabila kita memikirkan sesuatu di luar kebiasaan yang ada.
Di sisi lain, Ike Janita mengatakan bahwa faktor yang membentuk kota yang kreatif menurut Florida, 2002 adalah Lifestyle Options, Cultural Diversity, dan Tolerant Attitude. Ike juga menambahkan bahwa ide kreatif bisa disalurkan melalui berbagai cara seperti penentuan nama wisata yang akan dijual dengan nama yang juga menjual dan membuat orang penasaran. Memberikan kemasan atau bungkus yang unik pada item barang yang menjadi buah tangan untuk para wisatawan, sehingga para wisatawan selalu ingin membeli barang tersebut berapapun harganya dan merindukan untuk kembali lagi ke tempat tersebut.
“Seminar ini baik untuk mahasiswa terutama untuk mahasiswa Manajemen USD yang terdapat mata kuliah tentang pariwisata”, ujar Eka salah satu peserta seminar. Eka menambahkan bahwa orang muda seperti mahasiswa harus punya pikiran kreatif dan cerdas mencari peluang untuk mengembangkan wisata yang ada di DIY. Selain itu Eka menghimbau untuk orang-orang yang ada di birokrasi kepariwisataan untuk tidak mempersulit apabila kita sebagai orang muda menemukan ide kreatif yang dapat memajukan pariwisata DIY.
Dalam akhir acara, Lucia selaku moderator menyimpulkan tiga hal atas apa yang sudah didiskusikan dalam acara seminar ini. Pertama adalah bagaimana memunculkan ide-ide kreatif dan ide-ide kreatif ini masih banyak diperlukan untuk memajukan pariwisata DIY. Kedua para pelopor ide kreatif ini harus berani untuk mengambil risiko agar ide yang ada bisa terealisasi dengan baik, dan ketiga adalah adanya perlindungan hak cipta atas suatu produk atau barang yang sampai sekarang masih dianggap sepele, padahal sangat merugikan para pembuatnya. Bagi kaum muda USD apakah sudah ada ide-ide kreatif untuk memajukan pariwisata DIY? (abcd)




