USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kurikulum Direvisi, Guru pun Perlu Direvitalisasi

diupdate: 14 tahun yang lalu


Revisi kurikulum sekolah mungkin tak lagi dapat dihindari. Hal tersebut dilakukan pemerintah sebagai bentuk respons atas berbagai fakta di lapangan yang  menunjukkan adanya kemerosotan rasa kemanusiaan dan berbagai permasalahan sosial yang bersifat akut lainnya sebagai penanda belum tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Ada 2 arah revisi (penyempurnaan) kurikulum 2012 saat ini: penguatan kurikulum dan penataan kurikulum. Dalam hal penguatan kurikulum,  upaya dilakukan dengan mengintegrasikan konten nilai-nilai Pancasila, karakter, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif. Di Sekolah Dasar, misalnya, revisi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ditandai dengan penyederhanaan jumlah mata pelajaran dan integrasi mata pelajaran IPA dan IPS ke mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kurikulum juga diharapkan menekankan pada sejumlah karakter yang diharapkan diinternalisasi siswa melalui pembelajaran guru-siswa di kelas. Sementara dalam hal penataan ulang kurikulum yang bersifat hirarkis-fungsional akan dilakukan dengan mensinergikan kurikulum tingkat nasional, daerah, dan sekolah.
Secara substansi, konten kurikulum mungkin tidak akan berubah secara drastis seperti halnya kurikulum-kurikulum sebelumnya. Toh tak ada (atau jika ada mungkin tidaklah banyak) perkembangan terbaru dari bidang keilmuan (seperti: ekonomi dan akuntansi) sebagai objek pembelajaran di kelas.  Jumlah mata pelajaran kemungkinan besar akan semakin berkurang, namun dalam hal jumlah jam di sekolah justru diduga akan lebih banyak. Oleh sebab itu, hadirnya kurikulum hasil revisi hendaknya tidak perlu disikapi dengan penuh kekhawatiran. Ada dua kemungkinan pilihan dalam menyikapi kurikulum baru: berdasarkan pengalaman sebelumnya dan normatif. Berdasarkan pengalaman, hampir pasti banyak guru akan bertanya-tanya: materi apa yang berubah, bagaimana silabus dan RPP-nya, buku apa yang diacu. Dalam perspektif ini atmosfir pembelajaran mungkin tak akan berubah, meski kurikulum telah berubah. Pembelajaran oleh guru di kelas kembali bersifat rutin dan berkecenderungan mekanistis. Sementara dalam perspektif normatif, diandaikan seseorang guru masih memiliki idealisme. Guru secara intens mengembangkan keterampilannya dengan menerapkan metode/teknik/strategi pembelajaran di kelas. Jika dalam perspektif kedua inilah yang terjadi dalam praksis pendidikan, tentu ada harapan pelaksanaan kurikulum akan menuai keberhasilan. 
Di antara 2 pilihan di atas, seorang guru punya kebebasan memilih. Oleh sebab sesempurna apapun kurikulum jika guru tetap susah untuk berubah, maka tujuan pendidikan akan susah untuk direalisasikan. Itulah intisari dari materi yang disampaikan oleh Dr. C. Teguh Dalyono, M.S. dalam seminar alumni yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Ekonomi, FKIP, Universitas Sanata Dharma bagi alumni prodi lintas angkatan, pada Sabtu (17/11) di R. Driyarkara, Lantai 4 Gedung Pusat Kampus 2 USD. Seminar alumni yang pertama ini menghadirkan pembicara dari salah satu alumni yang sekaligus sebagai dosen tetap Prodi Pendidikan Ekonomi, FKIP USD, Dr. C. Teguh Dalyono, M.S. dengan makalahnya yang berjudul “Membedah Rencana Revitalisasi KTSP”.
Ketua Program Studi Pendidikan Akuntansi, FKIP, USD L. Saptono, S.Pd., M.Si. menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan sebagai: (1) sarana mempererat tali silaturahmi di antara para alumni P.Ak dan PE (PDU, PEK), (2) wahana saling belajar di antara para alumni tentang berbagai perkembangan praksis pendidikan di tanah air. Hadir dalam seminar ini 70 alumni yang telah bekerja sebagai guru di berbagai sekolah di DI Yogyakarta, Klaten, Purworejo, Magelang. Dalam seminar alumni ini juga telah disepakati bahwa Drs. Ignas Suryadi, S.E.,M.Pd. (SMA N 1 Ngaglik, Sleman) sebagai Ketua Alumni Prodi P.Ak dan PE, dan Koordinator Alumni per wilayah sebagai berikut: Bantul (Dwi Subekti, S.Pd. - SMA N 1 Bantul); Sleman (FX. Agus Hariyanto, S.Pd.,S.E. - SMA Kolese De Britto); Gunungkidul (Markus Eko Apriyanto - SMP N 3 Girisubo); Kulonprogo (Marsiyati, S.Pd. - SMK N 1 Samigaluh); Kota Yogyakarta (FX. Suryantomo, S.Pd. - SMA Santo Thomas); Purworejo dan Kebumen (Imam Sujono, S.Pd. - SMA N 9 Purworejo); Magelang dan sekitarnya (Martina  Susilowati, S.Pd.- SMA PL van Lith). Disepakati pula oleh para alumni bahwa seminar akan diselenggarakan 2 kali dalam 1 tahun (April dan Nopember). (Espete-P.Ak)

  kembali