Globalisasi yang ada sekarang ini disinyalir sebagai penyebab munculnya mitos dan kebebasan media yang mendorong berkembangnya pemikiran yang salah tentang seksualitas, khususnya di kalangan generasi muda. Hal ini terungkap dalam Talk Show Sex Education: Harga Sebuah Cinta di Ruang Koendjono Perpustakaan USD, Sabtu (3/9). Miranda, penulis yang juga pembicara talk show menyatakan bahwa globalisasi yang ada sekarang ini memunculkan mitos di kalangan generasi muda yang menyatakan bahwa seks bebas adalah gaya hidup, mereka yang tidak melakukannya dianggap ketinggalan jaman. Kondisi semacam ini tidak lepas dari peran media sebagai propagandist globalisasi. "Seks dan cinta, dewasa ini dimaknai dalam sebuah mitos di mana generasi muda menganggap seks itu cool, seks itu keren", paparnya. Lebih lanjut, Andreas Setyawan S.J., rohaniwan dan penulis menyatakan bahwa kita sekarang berada dalam dunia di mana seks dan agama dibedakan tapi tidak lagi terpisahkan. Hal ini, menurut beliau, disebabkan karena ada konsepsi yang menyatakan bahwa seksualitas adalah karunia dan merupakan dimensi hidup yang tak terpisahkan, seks bukan perusak dan seks adalah karya keselamatan Tuhan. Menurut beliau, seks dan ekspresi fisik dalam percintaan tidak dikategorikan sebagai dosa jika tidak merusak hubungan batin kita dengan Tuhan. Nurul Arifin, artis dan aktivis perempuan, juga hadir sebagai pembicara dalam talk show tersebut. Beliau lebih menyoroti bahwa penyadaran diri dan komitmen sebagai penangkal perilaku seks pra-nikah. Menurutnya keintiman dalam percintaan memunculkan gairah yang bermuara pada seksualitas. Hal ini dapat ditangkal dengan penyadaran diri akan resiko yang mungkin akan muncul dan komitmen interen pasangan. Talk Show ini adalah salah satu kegiatan yang diprakarsai oleh Campus Ministry dalam rangkaian peringatan pesta emas USD.




