Tim USD yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah (HMPSPS) dan sejumlah mahasiswa Universitas Sanata Dharma dari beberapa program studi bersama Komunitas Kopi Liar melakukan penghijauan di lereng gunung Sindoro, yaitu padukuhan Sikatok, Desa Sigedang, Perkebunan Tambi, Wonosobo. Lokasi desa ini berada satu jalur menuju tempat wisata Dieng. Bukit-bukit menjulang menemani sang gunung Sindoro. Di antara bukit-bukit itu Tim USD mendaki salah satu bukit yang dinamakan bukit Sitelerep, ketika sampai di pertengahan badan bukit, ternyata tanah sangat labil dan sangat mudah untuk longsor. Hamparan hijau yang terlihat dari bawah ternyata hanyalah rumput-rumput, bukan tanaman pohon.
Tim USD yang sejak pagi sudah mulai menanam bibit tanaman masih nampak menanam bibit di beberapa titik bukit Sitelerep ini. Bapak-bapak yang berseragam oranye-hitam bertuliskan BPHD (Badan Pelestarian Hutan Desa) nampak berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain sambil mencangkul untuk menyiapkan tempat menanam benih. Beberapa di antara mereka mengungkapkan sudah berkali-kali naik turun bukit untuk mengambil bibit. Brury, salah satu mahasiswa pendidikan sejarah yang sejak hari Rabu (14/11) berada titik bukit Sitelerep menuturkan sudah naik turun bukit 3 kali untuk mengambil bibit. Hal serupa juga disampaikan oleh beberapa mahasiswa pendidikan sejarah yang sudah berada di sana sejak hari Rabu.
Menurut Dimas, Ketua HMPS Pendidikan Sejarah, acara ini merupakan program penghijauan.”Semula pemrakarsa acara ini adalah Angga (mahasiswa pendidikan sejarah), dia meminta tolong kami untuk membantu dalam program penghijauan di lereng gunung Sindoro,” kata Dimas saat berbincang di sekretariat BPHD. Dimas juga menuturkan, dirinya dan teman-teman pendidikan sejarah sudah sejak pagi membantu warga sekitar untuk menanam bibit. “Bibit yang ditanam dalam kegiatan ini ada hampir mencapai 1000 bibit. Bibit-bibit itu bantuan dari Komunitas Kopi Liar ada 400 bibit, dari Pendidikan Sejarah USD 400 bibit, dan dari BPHD 100 bibit.” ujar Dimas. Dimas juga mengungkapkan dana yang dikeluarkan untuk kegiatan ini didanai dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) atas nama dosen–dosen Program Studi Pendidikan Sejarah USD bersama mahasiswanya yang ikut dalam program penghijauan berjumlah 40 orang. Kegiatan ini diantar langsung oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Sejarah USD.
Bukit Rawan Longsor
Ada beberapa bukit di desa Sigedang, Wonosobo. Menurut Bapak Slamet, salah satu anggota dari BPHD, beberapa bukit nampak hijau, namun ketika diamati lebih seksama bukit-bukit tersebut hanya ditumbuhi oleh rumput dan mudah sekali longsor. “Beberapa sisi bukit sudah ditanami bibit pohon, tapi masih banyak bukit yang belum ditanami dan rawan longsor, seperti bukit Kendil di sebelah bukit yang ditanam tadi.”, kata pak Slamet di teras sekretariat sambil menunjukkan bukit-bukit yang dimaksud. Pak Slamet juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat dilanjutkan lagi pada masa-masa mendatang dengan usulan agar penghijauan selanjutnya lebih ditekankan pada jenis tanaman kopi. Dengan harapan selain penghijauan bukit, juga dapat menghidupi masyarakat yang menanamnya.
Kekurangan Air
Berdasarkan pengamatan Dra. Theresia Sumini, M.Pd. (Kaprodi Pendidikan Sejarah USD), dukuh Cikatok yang terletak di perbukitan Sindoro dengan penduduk yang cukup padat, ternyata masih kekurangan air. Setiap harinya penduduk harus bersabar antri untuk mengambil air di bak penampungan yang dimiliki oleh perusahaan teh yang ada di dekat dukuh itu. Dukuh ini sebenarnya memiliki 2 bak penampungan air yang terletak di tepi jalan menuju padukuhan, namun kedua bak tersebut dalam keadaan kering.
Sementara itu menurut Slamet penduduk setempat mengatakan bahwa sebenarnya padukuhan Cikatok memiliki sumber mata air yang ada di puncak perbukitan dan bisa dialirkan untuk keperluan penduduk, namun sampai sekarang belum ada pihak-pihak yang dengan suka rela untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.
“Bagaimana mungkin suatu desa yang terletak di lereng gunung penghasil air mineral terkenal dan diminum oleh banyak orang di Indonesia masih ada yang kekurangan air? Siapa yang bersedia berpartisipasi membantu mereka? Program Studi Pendidikan Sejarah USD siap bekerjasama, kami tunggu.” demikian disampaikan oleh Sumini. (ths & marhaendra)




