Kepala Pusat Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Universitas Sanata Dharma, Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum. menggagas sebuah agenda kegiatan baru yang dinamakan Apresiasi Budaya. Kegiatan yang rencanya akan dilaksanakan secara rutin setiap tahun itu dimaksudkan memberikan apresiasi yang komprehensif terhadap pelaku budaya Indonesia.
“Saya melihat bahwa Indonesia memiliki dua kekayaan utama yang tak tertandingi negara-negara lain, yaitu kekayaan alam dan kekayaan budaya. Kekayaan alam Indonesia sudah banyak digali – terutama oleh orang asing. Akan tetapi kekayaan budaya Indonesia ini sangat jarang digali dan diapresiasi secara serius oleh orang-orang Indonesia sendiri,” demikian pernyataan Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum. “Akibatnya, kekayaan budaya kita yang melimpah-limpah itu terpendam atau hilang begitu saja ditelan jaman. Hasil-hasil kebudayaan kita juga tidak jarang didaku negara lain sebagai milik mereka,” kata Prof. Praptomo.
“Pusat Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia Universitas Sanata Dharma mulai tahun ini akan menyelenggarakan kegiatan Apresiasi Budaya dengan maksud mendorong para pelaku budaya Indonesia menggali, merumuskan, mentransformasi, bahkan merevitalisasikan kekayaan budaya kita,” lanjut mantan Dekan Fakultas Sastra dan Kepala LPPM Universitas Sanata Dharma ini. “Kita patut mengapresiasi, misalnya, iklan-iklan berbasis budaya di televisi nasional seperti Iklan Kuku Bima,” terang Praptomo.
Terobosan Baru
Pembentukan wadah bagi Apresiasi Budaya ini merupakan sebuah terobosan baru untuk mengintervensi membanjirnya budaya asing yang tak dapat dibendung. Prof. Praptomo menjelaskan bahwa studi bahasa, sastra, dan budaya Indonesia seharusnya tidak hanya sekadar kajian akademis yang bersifat kognitif belaka. Sebagaimana prinsip pedagogi Ignasian, pendidikan perlu melibatkan tiga ranah sekaligus, yaitu head (kognitif), heart (afektif), dan hand (psikomotorik). Pendidikan kita selama ini lebih terfokus pada aspek head dan belum secara serius mengembangkan heart apalagi hand atau ranah psikomotorik.
“Kami telah mengkaji dengan cermat penerima Apresiasi Budaya 2012 tahun ini. Kami memutuskan memberikan apresiasi pada dua karya dosen Universitas Sanata Dharma. Pertama apresiasi diberikan kepada kumpulan puisi Tanah Lot (2011) dan Balairung (2012) karya Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana. Selain dosen luar biasa pada USD, Prof. Putu Wijana adalah dosen tetap Universitas Gadjah Mada. Kedua, apresiasi juga diberikan pada buku Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya (2011) karya Yoseph Yapi Taum.
“Puisi-puisi I Dewa Putu Wijana mengangkat berbagai budaya lokal di Indonesia, terutama kebudayaan Bali dan Jawa. Sedangkan buku Studi Sastra Lisan memberikan dorongan yang kuat bagi pembacanya untuk menggali kekayaan sastra lisan dari seluruh komunitas kebudayaan di tanah air,” demikian ditegaskan Prof. I. Praptomo Baryadi.
Untuk tahun-tahun mendatang, kegiatan Apresiasi Budaya dapat diisi dengan Pidato Budaya, Pameran Budaya, Seminar Budaya, Diskusi Budaya, ataupun Pentas Budaya. (y2t)




