Kondisi keterbelakangan guru, baik akademis ataupun finansial memunculkan diskusi panjang tentang nasib dan jatidiri guru. Hal ini muncul dalam diskusi majalah Basis edisi khusus "Keterpurukan Guru" hasil kerjasama USD dengan majalah Basis di Ruang Driyarkara USD, Jumat (29/7). Dalam ulasannya, pembicara pertama Dr. M.M. Sri Hastuti, menggaris bawahi bahwa artikel dalam Basis edisi khusus ini adalah kumpulan tulisan para akademis dari berbagai lapisan, mulai dari rektor sampai pemerhati pendidikan. Studi Bimbingan dan Konseling, mengelompokkan artikel yang ada kedalam dua kelompok yang masing-masing menyoroti hal berbeda yang menjadi penyebab keterpurukan guru. Kelompok pertama yaitu praktisi pendidikan yang menyoroti rendahnya gaji guru sebagai penyebab keterpurukan. Yang kedua adalah para pemerhati pendidikan yang menyoroti kompetensi internal guru sebagai penyebab keterpurukan. Faktor gaji guru, menurut beliau, merupakan awal dari sekian banyak faktor eksternal yang menjadi penyebab keterpurukan guru. Gaji guru yang rendah memaksa guru mencari sumber pendapatan lain untuk mencukupi kebutuhannya, kesibukannya mencari sambilan membuat guru tidak memiliki waktu untuk memikirkan metode pembelajaran. Akibatnya kegiatan belajar mengajar tidak berjalan dengan baik. Hal ini bermuara pada keterpurukan dalam hubungan dengan kompetensi pribadi dan profesi guru. Faktor eksternal, yaitu kompetensi dan kesadaran belajar guru juga diasumsikan sebagai faktor dominan keterpurukan guru. Hal ini menyebabkan keterbatasan guru dalam hal akademis. Selain sependapat dengan pernyataan Mochtar Buchari, salah seorang kontributor di Basis, yang menyatakan bahwa perlu ada tekanan kepada elit untuk memperhatikan standarisasi gaji guru yang memadai, Sri Hastuti menggaris bawahi bahwa penguasaan materi belum cukup, tetapi harus juga diimbangi dengan pengembangan kompetensi pribadi yang semakin luwes den terbuka. Hadir juga dalam diskusi ini Ngatijan, Spd., yang memaparkan pengalaman beliau sebagai guru. Menurutnya, keterpurukan guru tidak akan terjadi bila yang bersangkutan dapat mengembangkan diri dan akrab dengan kemajuan zaman. "Guru tidak akan terpuruk bila ia menguasai IPTEK dan bersedia mengembangkan diri demi kemajuan profesinya" paparnya. Diskusi "Keterpurukan Guru" ini dilaksanakan dalam rangka rangkaian perayaan Dies Natalis USD ke-50. Seperti diketahui bahwa rangkaian pesta emas USD ini sudah berlangsung hampir 1 tahun.




