Untuk melihat kembali dan merefleksikan pergulatan keluarga besar Sanata Dharma dalam mengarungi perjalanan pelayanannya yang penuh dengan tantangan, Panitia Pesta Emas Sadhar bidang Akademik mengadakan sarasehan dengan tema "Sanata Dharma 1955-1993: Mendidik Calon Pendidik" Senin (6/6) di lt. 3 gedung perpustakaan Mrican. Sebagai nara sumber adalah para alumni Sanata Dharma, yaitu Drs. A. Tutoyo, M.Sc., Dr. J. Bismoko, dan P. Swantoro. Pak Tutoyo dalam sesi pertama menelaah kilas balik perjalanan Sanata Dharma dari PTPG, FKIP Universitas Katolik Indonesia, IKIP Sanata Dharma, sampai pada masa perubahan menjadi universitas, yang dikenal dengan nama USD. Melalui perjuangan dan pergumulan yang berat penanaman benih PTPG yang dilakukan oleh Rm. Driyarkara akhirnya tumbuh menjadi pohon yang makin besar dengan cabang-cabangnya yang semula tidak direncanakan justru tumbuh dan berkembang juga. Sedangkan Pak Bis dalam paparannya yang bertajuk "Refleksi Pendidikan Indonesia: Kasus USD" menyatakan bahwa tantangan terbesar USD sebaga lembaga yang meluluskan calon pendidik adalah kualitas lulusan karena banyaknya FKIP. Untuk meningkatkan kualitias, ide penggabungan FKIP kedalam rumpun masih belum terpecahkan karena masing-masing argumen cukup kuat. Selain itu juga disoroti akhir-akhir ini Sanata Dharma kurang bisa bersuara dalam mengatasi problem pendidikan di Indonesia. Untuk itu Pak Bismoko mengusulkan adanya Fakultas/Jurusan khusus Ilmu Pendidikan yang akan melakukan kajian untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Sementara itu P. Swantoro menegaskan bahwa menjadi pendidik jangan dibatasi dengan 4 dinding ruang kelas. Pendidika juga berarti orang yang mendidik masyarakat luas, misalnya melalui karya di media massa, seperti beliau yang berkarya di Kompas. "Jangan menyempitkan arti pendidikan hanya di kelas", sambung Pak Swantoro.




