Dapatkah anda membayangkan jika instrumen Jawa dengan jenis nada Slendro digabungkan dengan instrumen Barat. Dalam rangkaian kegiatan Pesta Emas Sanata Dharma digelar konser musik dengan mengawinkan Cello (musik Barat) dan Gender (musik tradisional Jawa) oleh Asep Hidayat dan Arifin Yuana. Konser ini digelar di lantai 3 Perpustakaan Mrican Kampus II Senin (23/5) malam. Resital malam hari itu diawali oleh Asep Hidayat dengan membawakan karya Toshiro Mayuzumi berjudul Bunraku dengan cellonya. Lalu disusul oleh penampilan Yuana Arifin dengan karya cipataannya sendiri berjudul Jumeno Mbalelo. Yang meanrik dari permainana Asep adalah dia tidak hanya menggunakan teknik gesek dalam memainkan cello, tetapi juga dengan petikan (pizzicato) dengan berbagai tempo, mulai dari sangat slow hingga dengan beat yang keras dan menghentak. Sedang dalam mengawali permainannya, Yuana melakukan monolog namun sangat interaktif sehingga sering membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Dia meyakinkan penonton bahwa segala nada yang ada di dunia ini baik musik barat maupun tradisinal mengacu atau berasal dari nada slendro. Dia mencontohkan lagu Jealousy karya Queen dan lagu-lagu daerah dari Betawi maupun Jawa Tengah. Puncak penampilan mereka adalah pada karya yang berjudul “Suite No 1 For Cello and Gender”. Kolaborasi untuk menyatukan dua alat musik dengan warna nada yang berbeda ini sungguh luar biasa. Secara telinga awam mungkin agak terasa aneh dan terdengar tidak match. Gender sangat terbatas dalam nadanya sedang Cello mampu menjangkau nada yang begitu luas. Namun dengan keneranian dan inovaso mereka, nada-nada yang diciptakan mampu membentuk alunan irama yang bisa dirasakan keindahan perpaduannya. Diakhir konsernya, Yuana Arifin bertanya kepada Asep Hidayat, “Bagaimana perkawinan dua alat musik kita? Bisa mencapai puncak kan? Wah saya sampai orgasme. Bagaimana kalau kita kawinkan lagi?”. “Mari”, jawab Asep bersemangat. Akhirnya mereka memainkan lagi satu karya mereka.




