USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Ditanya, Malah Berpantun!

diupdate: 14 tahun yang lalu

Makan pisang di pinggir rawa, datang serombongan burung belibis.Rasanya tegang diuji terbuka apalagi yang dibahas soal teroris
Karena pisangnya dicuri kera, terpaksa beli sekilo manggis.
Agar tegang tidak mendera, izinkan hamba berpantun sebaris.

Itulah pantun yang dilantunkan oleh Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. (biasa dipanggil Pak Ari) saat mengawali jawabannya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Jumat (13/7/2012), di Ruang Multimedia, Gedung Margono Djojohadikoesoema, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), UGM. Peristiwa itu memang unik alias lain dari biasanya. "Baru kali ini terjadi di UGM, promovendus ditanya, malah berpantun", komentar Dr. Ida Rochani Adi, S.U., Dekan FIB UGM selaku Ketua Tim Penguji, yang disambut tawa 100-an hadirin.
"Saya memang sengaja berpantun. Selain supaya suasananya lebih cair, ini juga strategi saya untuk mengatasi grogi," aku Pak Ari sambil tersenyum, selepas Ujian Terbuka. Suasana memang menjadi cair. Ketegangan jauh berkurang. Dosen Prodi Sastra Indonesia itu bahkan sesekali mengundang tawa 9 orang Tim Penguji dan hadirin dengan humor-humor bermuatan kritik sosial yang berkaitan dengan disertasi atau pertanyaan Tim Penguji.
"Antiterorisme" vs "Kontraterorisme"
Terlepas dari suasana Ujian Terbuka yang mencair, topik disertasi Pak Ari sesungguhnya memang serius. Judulnya "Bingkai dalam Wacana Tajuk tentang Terorisme: Kajian Pragmatik Kritis atas Editorial Suara Pembaruan dan Republika". Menurut Jan Renkema (2004), bingkai (frame) adalah knowledge about concept (pengetahuan tentang konsep). Ide tentang bingkai juga dapat dijumpai dalam kajian antropologi dan komunikasi. Intinya, realitas merupakan hasil konstruksi. Sebuah fenomena dapat dikonstruksi secara berbeda jika dilihat dengan bingkai berbeda. Perang, misalnya, bisa dianggap suatu perjuangan suci, tetapi bisa pula disebut agresi. Bingkai merupakan transformasi dari ideologi, kepentingan, keberpihakan, atau motif ideologis.
Konsep bingkai selaras dengan gagasan T.A. van Dijk tentang kognisi sosial sehingga diadopsi oleh Pak Ari untuk menganalisis wacana tajuk (editorial) tentang terorisme. Intinya, bagaimana Suara Pembaruan dan Republika mengkonstruksi fenomena terorisme di Indonesia. Data meliputi 13 tajuk Suara Pembaruan dan 22 tajuk Republika, mencakup 7 peristiwa selama 6 tahun, mulai bom Bali I (12/10/2002) hingga eksekusi mati Amrozi, dkk. (9/11/2008).
Terbukti, Suara Pembaruan menggunakan bingkai "antiterorisme" (dalangnya Jemaah Islamiyah, motifnya melakukan kejahatan atas nama Islam), sedangkan Republika memiliki bingkai "kontraterorisme" (dalangnya intelijen Barat, motifnya melemahkan kekuatan Islam). Bingkai itu dipengaruhi latar belakang ideologis Suara Pembaruan dan Republika yang berbeda. Pembingkaian dilakukan dengan memanfaatkan berbagai strategi beropini dan bentuk-bentuk ekspresi bahasa.
Linguistik Berurusan dengan Word Order maupun World Order
Selain membongkar "ideologi" di balik editorial tentang terorisme, Pak Ari juga mencoba menawarkan sebuah pendekatan analisis wacana bernama "pragmatis kritis". Menurut pria kelahiran Bantul pasca-G-30-S itu, linguistik (ilmu bahasa) tidak hanya berurusan dengan word order (tata kata), tetapi juga world order (tata dunia). Bukan hanya awalan, akhiran, subjek, dan predikat yang perlu dicermati oleh para ahli bahasa, tetapi juga bagaimana bahasa digunakan untuk mengartikulasikan kepentingan, keberpihakan, dan motif-motif ideologis tertentu.
Profisiat Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. Selamat melanjutkan karya untuk turut menata hidup bersama dengan wacana dan bahasa. (PAS)
 

  kembali