"Although I am not from English Department, I will be the moderator of this seminar. This is because I am ex-Jesuit”, demikian kata pembukaan dari Pak Adi Massana, dosen FKIP, selaku moderator dalam seminar bertajuk “Heroic Leadership” dengan pembicara Chris Lowney mantan Jesuit yang beralih profesi menjadi pebisnis. Ucapan tadi disambut oleh gelak tawa para peserta seminar yang memenuhi Auditorium lantai IV Gedung Administrasi Kampus III Paingan hari Sabtu (21/5). Setelah dibuka dengan doa oleh Rm. Mutiara Andalas dan sambutan dari Rm. Rektor Paul Suparno, S.J. , Chris Lowney pun memaparkan pemikirannya yang terangkum dalam sebuah buku dengan judul “Heroic Leadership: Best Practices from 450-Year-Old Company That Changed The World” terbitan Loyola Press Chicago tahun 2003. “Leadership is neither status nor tricks/tactics. However, it is fundamentally about who we are. So leadership begins with self-leadership”, demikian kata Chris dalam mengawali pembicaraannya. Kepemimpinan bukanlah terkait dengan hal status, misalnya Jendral, Presiden, atau Rektor, tetapi lebih merupakan kualitas diri kita, siapa kita. Kita ini semua merupakan pemimpin. Kepemimpinan muncul dari dalam diri kita dan menyangkut tentang siapa diri kita serta nilai-nilai yang kita hidupi untuk memerankan peran kita baik di rumah, di tempat kerja, atau di manapun. Untuk diketahui walaupun Chris Lowney keluar dari Jesuit, namun dalam pekerjaaannya dia menemukan bahwa nilai-nilai yang ia hidupi sewaktu ia menjadi Jesuit merupakan nilai-nilai yang sungguh bermanfaat bahkan bisa menjadi acuan dalam melakukan usaha bisnisnya maupun pekerjaannya. Di samping itu melalui penelitiannya dia mengungkapkan bahwa lembaga Jesuit adalah lembaga yang dapat bertahan dengan sukses selama hampir 450 tahun dalam berbagai bidang usaha dan misinya. Untuk itulah dia membagikan apa yang ia alami melalui buku itu. Menurut Chris, ada 4 pilar visi kepemimpinan, yaitu self awareness, ingenuity, heroism, dan love. Yang dimaksud dengan self awareness adalah bahwa pemimpin harus mampu mengenali kekuatan dan kelemahan, nilai-nilai, dan wawasannya. Pemimpin harus terus meng-update hal-hal itu setiap hari. Sedang ingenuity artinya pemimpin harus mampu beradaptasi diri dengan rasa percaya diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di dunia luar. Sementara Heroism menurut Chris adalah bahwa pemimpin mampu menggerakkan dirinya serta yang dipimpinnya dengan ambisi dan hasrat yang menggebu-gebu untuk menjadi unggul. Sedang Love di sini berarti bahwa pemimpin harus memiliki pandangan positif terhadap orang lain, termasuk yang dipimpin, sehingga mereka dapat mengenal dan mengeksplorasi potensi mereka. Dalam sesi tanya jawab, dari pantauan WK paling tidak ada 9 penanya yang mengkritisi dan meminta informasi lebih jelas mengenai pemikiran Chris tersebut.




