Pusat Studi Ignasian Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Sabtu (14/7) yang lalu menyelenggarakan sarasehan Spiritualitas Ignasian dengan tema "A Deeper Relation in a Hurried World". Acara yang diselenggarakan pada pukul 08.00 - 13.00 WIB ini dilaksanakan di ruang Koendjono, lantai IV Gedung Pusat USD, Mrican, Yogyakarta. Acara yang bertujuan untuk memperkenalkan Spiritualitas Ignasian ini moderatori oleh Martha Hesty (mahasiswa Psikologi USD) dengan empat pembicara, yakni A. Dwi Prasetyo (perwakilan dari komunitas Magis), Dr. Beni Bevly (Pembicara Talk Show Bisnis radio PAS FM, Bussine Trainer, Consultant and Author Bermukim di Silicon Valley, California, USA), Dra. Maria Retno Priyani (Dosen Bimbbingan & Konseling USD), dan Rm. Mutiara Andalas, SJ. (Ketua Pusat Studi Ignasian USD).
A. Dwi Prasetyo, sebagai pembicara pertama, mengangkat topik dalam sarasehan ini "Sik Asik Sik Asik Kenal Dirimu". Banyak orang senang dapat menjalin relasi di social network. Bahkan ada orang yang pacaran di dunia maya. Awalnya terasa hebat dan normal, tetapi setelah direnungkan ternyata ada kekosongan dalam menjalin relasi. Banyak orang merasa minder dan mereka memerlukan media supaya mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Menurutnya, pertumbuhan seseorang tidak dapat berjalan dengan instan. Dunia boleh tergesa-gesa tetapi orang harus memiliki waktu untuk menumbuhkan relasi yang lebih bermutu dan mendalam. Dewasa ini "mendengarkan dan didengarkan" merupakan hal yang mahal. Dari pengalaman yang pernah terjadi, orang lain akan merasa dimengerti, dipahami, dan diterima apa adanya saat kita mau mendengarkannya.
Dr. Beni Bevly, sebagai pembicara kedua, mengangkat topik dalam sarasehan ini "Hubungan yang Mendalam di Tengah Ketergesa-gesaan". Inti dari pembicaraan sesi ini adalah bahwa ketergesa-gesaan telah menjadi internalized dalam banyak individu, termasuk sebagian dari kita sebagai manusia modern. Lebih jauh lagi orang sudah terjebak dalam ketergesa-gesaan kronik, suatu situasi dimana gerakan seseorang individu secara mental dan pikiran (state of mind), serta tindakan fisik selalu dilakukan dengan cepat walaupun sebenarnya kecepatan tersebut tidak dibutuhkan. Ketergesa-gesaan nampaknya menjadi gaya hidup bagi banyak individu, terutama di kota-kota besar dan negara maju. Cara untuk membina hubungan yang mendalam adalah menghindari tempat yang selalu membawa situasi tergesa-gesa.
Dra. Maria Retno Priyani, sebagai pembicara ketiga, mengangkat topik dalam sarasehan ini "Dunia Boleh Bergegas, Relasi Pribadi Jangan Amblas". Pembicaraan dalam sesi ini membahas, di tengah arus jaman yang bergegas, relasi antar pribadi sangatlah penting. Relasi pribadi adalah hubungan antara pribadi dengan pribadi. Relasi pribadi terjadi apabila pribadi menerima yang lain atau berelasi tanpa syarat. Di tengah sibuknya pekerjaan, sangatlah penting meluangkan sedikit waktu untuk menjalin relasi pribadi. Modal awal untuk berelasi dengan orang lain adalah penerimaan diri, yaitu mensyukuri dan menerima diri sendiri.
Rm. Mutiara Andalas, SJ., sebagai pembicara keempat, mengangkat topik dalam sarasehan ini "You and I: Dialog Cinta Lady Gaga dan St. Ignatius Loyola". Pembicaraan dalam sesi ini membahas, bahwa Lady Gaga dan St. Ignatius Loyola sama-sama ingin menyampaikan Spiritualitas Cinta. Lady Gaga menyampaikan dalam karya lagu-lagunya, dan St. Ignatius Loyola menyampaikan dalam latihan Rohani. Lokasi yang cocok bagi keduanya adalah Griya hening bagi St. Ignatius Loyola dan diskotik bagi Lady Gaga. Diskotik dapat menjadi griya hening sejauh di tengah-tengah kebisingan telinga pengunjung dapat mendengarkan hentakan hatinya. Cinta itu mensyaratkan kesederhanaan. Aku mencintai Tuhanku, berarti aku juga mencintai sesamaku. (Ag-Bst)




