USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pascasarjana IRB Gelar Konferensi Internasional Pertunjukan Budaya

diupdate: 17 tahun yang lalu


“Penting agar kita sadar untuk tidak hanya memamerkan, tetapi juga memikirkan budaya kita sendiri.” Begitulah pendapat kritis Barbara Hatley, seorang profesor dari School of Asian Languages and Studies, the University of Tasmania, Australia. Pendapat kritis tersebut disampaikan pada konferensi pers dalam rangka pelaksanaan konferensi internasional bertajuk Cultural Performance in Post-New Order Indonesia: New Structures, Scenes, Meanings, yang akan berlangsung selama empat hari mulai dari hari Senin, 28 Juni sampai dengan 1 Juli 2010 bertempat di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Lebih lanjut, antropolog yang juga menjadi pakar seni ketropak ini menggarisbawahi bahwa pemikiran kritis diperlukan untuk membahas situasi cultural performance atau pertunjukan budaya terutama yang pada era paska orde baru. Lalu, pada kesempatan yang sama, ia juga mencontohkan bagaimana seni pertunjukan menggambarkan tidak hanya identitas dan nilai- nilai local tetapi juga kritik sosial dan politik, seperti dalam seni ketoprak sendiri.

Di sisi lain, Dr. Bart Barendregt dari Leiden University, Belanda yang juga turut hadir dalam konferensi pers tersebut menekankan pelaksanaan konferensi semacam ini sangat relevan untuk melihat perkembangan dan perubahan cultural performance yang terjadi dalam 10 terakhir sejak pudarnya control pusat kekuasaaan rejim Orde Baru karena, menurut pengamatannya, sudah begitu banyak kelompok kreatif lokal yang dapat berkarya secara bebas. Ekspresi- ekspresi budaya yang ditampilkan juga tidak hanya berkutat pada ekspresi ide yang terinspirasi dari fenomena lokal, namun juga fenomena internasional yang kemudian masuk kedalam seni pertunjukan lokal. Pandangan lain yang menarik juga disampaikan oleh Rm. Dr. Gregorius Subanar, SJ. Menurut salah satu dosen pascasarjana IRB (Ilmu Religi dan Budaya) USD tersebut, seni pertunjukan yang dimaksud tidak selalu berupa seni hiburan, tetapi lebih dari itu dapat menjadi sebuah seni yang mewakili kehidupan masyarakat sehari-hari dan apa saja yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Ruang Driyarkara, Gedung Administrasi Pusat, Kampus II Mrican, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta itu, dijelaskan juga bahwa media seni pertunjukan pun tidak hanya eksis di panggung saja tetapi juga berkembang di dunia musik, film, bahkan jejaring sosial. Dan inilah bentuk dari promosi kebudayaan yang perlu disadari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, konferensi yang didanai oleh beberapa lembaga studi internasional ini juga menargetkan 3 hasil akhir yang betul- betul bermanfaat untuk perkembangan budaya bangsa, dari buku dwibahasa, membangun jaringan dan sharing para peneliti dan praktisi, sampai memberi rekomendasi dan usulan kepada pemerintah.

Dalam rangkaian pelaksanaannya, konferensi internasional tersebut akan dibagi menjadi 3 macam kegiatan. Pertama adalah workshop dengan peserta terbatas dari tanggal 28 – 30 Juni 2010 di Ruang Driyarkara, Gedung Administrasi Pusat Lt 4, Kampus II Mrican, USD. Kedua adalah malam kesenian yang dikemas dalam bentuk konser budaya pada tanggal 30 Juni 2010, pukul 19.00 – 22.00 WIB. Konser yang akan berlangsung di panggung terbuka lapangan Realino, Kampus II Mrican, Universitas Sanata Dharma tersebut akan menampilkan kelompok – kelompok seni: Ayodya Art Dance (Jathilan Gaul), Sahita, Teater Temmu, Armada Racun, dan Jogya Hip Hop Foundation. Konser akan dibuka untuk umum secara gratis. Ketiga adalah Seminar Terbuka yang dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2010, pukul 08.30 – 13.00 WIB, di Ruang Driyarkara Lt4 dengan tema “Teater, Modernitas, dan Identitas: Beberapa Perspektif dari Australia, Belanda, Indonesia”. Konferensi ini diikuti para pengamat dan praktisi petunjukan dari berbagai negara khususnya Australia, Belanda, Taiwan, dan Singapura. Acara ini terselenggara atas kerjasama School of Asian Language and Studies The University of Tasmania Australia, Institute for Cultural Anthropology and Development Sociology Leiden University Belanda, dan Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Bunga)

  kembali