USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kegiatan Prodi Bimbingan & Konseling USD:
SEMINAR NASIONAL, PENINJAUAN KURIKULUM, DAN REUNI AKBAR

diupdate: 14 tahun yang lalu


 
Seminar Nasional “Revitalisasi Peran Konselor dalam Pendidikan Karakter di Sekolah”
"Bangsa yang berjaya adalah bangsa yang memiliki intelektual dan karakter, dalam hal ini peran konselor sangatlah vital karena sebagai pionir pengembangan karakter di sekolah" hal inilah yang disampaikan oleh Rohandi, Ph.D (Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USD) dalam sambutannya sekaligus membuka seminar nasional program studi Bimbingan dan Konseling dengan tema "Revitalisasi Peran Konselor Dalam Pendidikan Karakter di Sekolah". Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu pagi 30 Juni 2012 di ruang Koendjono dan diikuti oleh mahasiswa serta alumni program studi Bimbingan dan Konseling USD.
Kegiatan yang dihadiri juga oleh Rm. WS Winkel, SJ seorang tokoh Bimbingan dan Konseling yang juga pernah menjadi dosen prodi BK USD ini dibagi dalam 2 tahap. Pada tahap pertama pembicaranya adalah Prof. Dr. H. Mungin Eddy Wibowo M. Pd, Kons (Ketua ABKIN). ABKIN adalah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Pada tahap pertama ini dimulai dengan pertanyaan refleksi "apakah selama ini peran konselor di sekolah belum vital sehingga dibutuhkan revitalisasi?" berdasarkan pengalaman Prof Mungin sebagai Ketua ABKIN mensharingkan bahwa vital atau tidaknya peran konselor di sekolah ditentukan oleh 2 hal, yaitu profesionalitas konselor dan pemahaman Kepala Sekolah mengenai BK. Ada beberapa sekolah yang BKnya belum baik karena peran konselornya kurang profesional. Misalnya untuk mengadakan kegiatan bimbingan seorang konselor meminta fasilitas kepada kepala sekolah tetapi tidak diberikan karena selama ini kepala sekolah menilai bahwa konselor kurang proaktif atau tidak terlihat kinerjannya sehingga peran BK tidak berjalan dengan baik. Kurangnya pemahaman kepala sekolah terhadap BK juga dapat menjadikan peran konselor tidak vital, misalnya di satu sekolah hanya terdapat satu orang konselor dan mengampu lebih dari 250 siswa. Hal ini tidak efektif karena berdasarkan peraturan bersama Mendiknas dan KBKN Nomor 14 tahun 2010 tentang Petunjukan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Pasal 22 ayat (5) Penilaian kinerja guru BK (Konselor) dihitung secara proporsional bardasarkan beban kerja wajib paling kurang 150 orang siswa dan paling banyak 250 orang siswa per tahun. Oleh karena itu sebenarnya peran konselor di sekolah sudah vital tetapi perlu lebih divitalkan.
Kaitannya dengan revitalisasi peran konselor dalam pendidikan karakter di sekolah yaitu bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UUSPN No.20/2003 Pasal 3), konselor sebagai pendidik melalui konseling bertugas dan bertanggungjawab untuk mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Konseling merupakan proses yang menunjang pelaksanaan program dan tujuan pendidikan di sekolah, program-program konseling meliputi aspek-aspek perkembangan individu dalam kawasan: kematangan pendidikan, kematangan karier, kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial. Hasil-hasil konseling pada kawasan itu menunjang keberhasilan: pendidikan karakter dan pendidikan bermutu. Pendidikan bermutu akan dapat diwujudkan oleh konselor bermutu. Oleh karena itu di sekolah: konseling harus dianggap penting, konselor mempunyai peran penting dan strategis dalam pendidikan karakter di sekolah, perlu revitalisasi peran konselor, konselor harus kompeten dan bermartabat. Revitalisasi peran konselor dapat dilakukan dengan pencapaian standar kualifikasi akademik konselor (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.27 Tahun 2008 tanggal 11 Juni 2008) yang menjelaskan bahwa konselor adalah tenaga pendidik profesional sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang BK, berpendidikan profesi konselor. Hal ini seperti yang tertera pada Trilogi Profesi Konselor, bahwa konselor profesional harus menguasai dasar keilmuan, substansi profesi dan praktik profesi. Oleh karena itu pada kesempatan ini Prof Mungin juga mengusulkan kepada program studi Bimbingan dan Konseling USD agar dapat menyelenggarakan program PPK (Pendidikan Profesi Konselor) dan sepertinya pihak program studi Bimbingan dan Konseling USD sudah merencanakan hal ini dan akan segera terlaksana sehingga nantinya lulusan Program Studi Bimbingan dan Konselor USD semakin profesional.
Pada tahap kedua diisi oleh Drs. Nasarius Sudaryono, M. Si (Pemerhati pendidikan). Dalam tahap kedua ini  Drs. Nasarius membahas mengenai "Menakar peran konselor: di antara pesimisme dan optimisme praktisi pendidikan karakter disekolah. Drs. Nasarius menjelaskan bahwa berdasarkan kontinuum pesimisme dan optimesmenya terhadap praksis pendidikan karakter, terbentang semesta rimba raya tantangan bagi peran konselor. Karena terlihat bahwa kebanyakan praksis pendidikan karakter masih sebatas formalisme belaka; sebagaimana active learning,  pembelajaran kontekstual, kurikulum berbasis kompetensi yang berhenti di ruang penataran dan administrasi pelajaran? Dan strategi pendidikan semacam ini hanya akan berujung pada pemborosan dan penghamburan energi tanpa hasil yang memadai. Beberapa hal yang dapat dilakukan konselor adalah (1) Menjadi partner kepala sekolah. Bersama kepala sekolah, konselor dapat memikirkan grand desain pendidikan karakter yang hendak dilakukan di sekolah. (2) Memfasilitasi pegembangan kompetensi guru dengan workshop pelatihan. (3) Menyajikan bahan. Kurangnya bahan animasi dan modul-modul yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan perilaku positif adalah kesempatan bagi para konselor untuk berperan. Dari beberapa gagasan ini dapat disimpulkan bahwa peran utama konselor dalam konteks pendidikan karakter justru adalah sebagai eksplorator utama yang menjamin bahwa pendidikan karakter tidak akan berhenti pada kulit-kulitnya saja, tapi sungguh tajam berdaya dalam membentuk keadaban hidup bersama.

Peninjauan Kurikulum
"Agar lulusan program studi Bimbingan dan Konseling USD tidak ketinggalan atau dapat menjawab tuntutan di dunia kerja, maka butuh kurikulum baru" hal ini yang disampaikan Dr. Gendon Barus, M.Si (Ketua Program Studi BK) dalam sambutannya pada kegiatan peninjauan kurikulum program studi Bimbingan dan Konseling USD bersama ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), pengguna lulusan dan alumni. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu siang 30 Juni 2012 di Ruang Driyarkara Kampus II USD.
Kegiatan yang di fasilitatori oleh Dr. MM. Sri Hastuti, M.Si dibagi dalam 3 tahap, yaitu: (1) Presentasi dari Dr. Gendon Barus mengenai kurikulum BK yang sudah ada dan di rancang sebagai kurikulum untuk periode berikutnya. Beliau memprensentasikan bahwa berdasar pemikiran rasional dapat dirumuskan visi: menjadi program studi yang unggul dalam mengembangkan ilmu Bimbingan dan Konseling, dan menghasilkan tenaga bimbingan dan konseling yang profesional dan berkarakter tangguh dalam upaya mewujudkan pendidikan yang lebih bermartabat. Dari visi ini dan mengacu pada KKNI / Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (Perpres RI No.8/2012) serta Standar kompetensi (Permendiknas RI No.27/2008)  maka di rumuskan dalam mata kuliah yang dapat menjadi bekal memenuhi kebutuhan dan tantangan di dunia kerja.
(2) Presentasi Prof. Dr. H. Mungin Eddy Wibowo M. Pd, Kons (Ketua ABKIN) mengenai pengembangan kurikulum dan pemberian masukan kepada program studi Bimbingan dan Konseling mengenai kurikulum yang direncanakan. Beliau menjelaskan mengenai perlunya mengembangkan kurikulum yaitu untuk pengendalian mutu pendidikan, memberikan layanan pendidikan bermutu, terwujudnya pendidikan bermutu, peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan dan terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pendidikan. Setelah memberikan materi tentang kurikulum pendidikan Prof. Mungin memberikan masukan kepada kepada program studi Bimbingan dan Konseling mengenai kurikulum yang direncanakan yaitu agar jumlah mata kuliah yang diberikan tidak terlalu banyak tetapi "netes" atau efektif menunjang 4 kompetensi utama program sarjana yaitu menguasai dasar ilmiah disiplin ilmu, mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan displin ilmu, bersikap dan berkarya sesuai norma dan mampu mengikuti perkembangan IPTEK.
(3) Masukan dari pengguna lulusan dan alumni mengenai kurikulum BK agar dapat menjawab tuntutan dan tantangan di dunia kerja berdasarkan pengalaman mereka. Masukan yang diberikan antara lain adalah mengenai pentingnya kemampuan bahasa inggris aktif dalam dunia kerja, pembekalan mengenai administrasi di sekolah (misal untuk akreditasi), agar mahasiswa BK USD mempunyai ciri khas (misalnya Spritualitas Ignatian), memperdalam praktek-prektek membuat program bimbingan, membekali mahasiswa dengan soft skill karena untuk memasuki dunia kerja test yang diberikan menuntut soft skill ( Teknologi Informasi dalam BK). Dengan saran-saran ini diharapkan program studi Bimbingan dan Konseling USD dapat  menghasilkan mahasiswa yang semakin profesional, cerdas dan humanis.
Reuni Akbar "Kembali Untuk Berbagi"
Salah satu fasilitas pendukung yang dimiliki Universitas Sanata Dharma Yogyakarta adalah adanya ikatan alumni yang kuat. Oleh karena itu program studi Bimbingan dan Konseling ingin mempertahankan itu dengan kegiatan reuni akbar program studi Bimbingan dan Konseling dengan tema "Kembali untuk berbagi". Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu sore 30 Juni 2012 di Taman Beringin Soekarno, Kampus II USD, dihadiri oleh Dosen, alumni angkatan 1955-2007, serta Rm. WS Winkel, SJ (Tokoh BK yang juga Dosen BK USD)
Kegiatan yang penuh kehangatan, keceriaan dan kekeluargaan ini di meriahkan dengan adanya live music baik dari mahasiswa maupun para alumni, fun games, photo gallery dan festival angkringan. Selain mereka temu kangen mereka juga saling mensharingkan atau barbagi pengalaman yang mereka peroleh ditempat kerja kepada teman-teman yang lain dan dosen agar mereka dapat belajar dari pengalaman yang ada karena pengalaman adalah guru terbaik dan ini seperti yang biasa mereka lakukan saat kuliah yaitu belajar dari pengalaman (eksperensial learning). Memang untuk melaksanakan kegitan ini panitia agak kesulitan untuk mengumpulkan alumni karena mereka sudah berpisah cukup lama sehingga susah untuk menghubungi mereka. Oleh karena itu agar kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin dan terkoodinir dengan baik maka pada kegiatan ini juga diadakan pemilihan ketua yang nantinya dapat mengkoordinir para alumni dengan baik. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat membantu bagi Universitas Sanata Dharma karena dengan adanya alumni BK yang kuat maka ini akan membantu promosi penerimaan mahasiswa baru karena salah satu layanan bimbimngan yang diberikan oleh guru BK adalah layanan penyaluran yang berisi infomasi perguruan tinggi kepada siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Dengan adanya ikatan yang kuat dengan universitas maka guru-guru BK dapat mempresentasikan almamaternya dengan baik dan membimbing siswa agar bergabung menjadi keluarga besar USD.
Sebagai kegiatan penutup, para alumni diajak untuk campus tour dengan tujuan agar mereka dapat mengenang kembali kenangan-kenangan indah ketika mereka kuliah di program studi Bimbingan dan Konseling USD. Harta yang paling berharga adalah keluarga. Semoga keluarga besar program studi Bimbingan dan Konseling USD selalu ada komunikasi dan menjadi agent of change yang membanggakan dan mampu membuat para dosen bahagia karena kita dapat membuat mereka bahagia. Jangan pernah menyalahkan dosen ketika kita masih menjadi mahasiswa setelah lulus baru kita bisa menyalahkan tetapi kita akan menyadari bahwa sebenarnya yang dulu mereka lakukan adalah demi kebaikan kita. (Ars)

  kembali