Bukan lagi sekedar wacana namun sudah merupakan realita inovatif bahwa "proses pendidikan tidak hanya dibatasi ruang kelas". Realita pendidikan di luar kelas memberikan hasil dan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman sebagai salah satu mahasiswa dalam Tim SBED Program (Social Business and Entrepreneurship Development Program) di Muara Wahau Kalimantan Timur benar-benar menjadi "study for real life", demikian ujar Yoris sebagai salah satu pemakalah dalam "Seminar Sosial, Ekonomi dan Budaya Wehea, Kayan dan Kutai" 9 Juni 2012 di LPPM Universitas Sanata Dharma.
Seminar merupakan kerjasama Pusat Pengembangan Manajemen (PPM) dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) USD menghadirkan Tim SBED Program Angkatan II yang beranggotakan Theo, Devi, Wigit, Yoris, Pandu, Nando, Bryan, Vinta, Diah, dan Uciek. Mereka telah menyelesaikan penugasan selama 3 (tiga) bulan hidup bersama masyarakat dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Muara Wahau. Seminar terbagi dalam dua (2) sesi. Sesi pertama menampilkan "Belajar dari Kehidupan Budaya Masyarakat Wehea, Kayan, dan Kutai" dengan moderator Dr.Gregorius Budi Subanar, S.J. Selanjutnya pada sesi ke-dua menampilkan "Panorama Transisi Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Wehea, Kayan, dan Kutai", dengan Moderator T.Handono Eko Prabowo, MBA, Ph.D. Seminar diikuti 100an peserta seminar sampai akhir acara dengan antusias. Pada akhir acara seminar dilakukan pendaftaran calon peserta seleksi anggota Tim SBED Angkatan III yang akan diberangkatkan sekitar bulan Agustus 2012.
Pada sesi pertama, Tim SBED menyajikan berbagai aspek "Budaya" di Muara Wahau. Tim dengan atraktif memaparkan sekuensis budaya masyarakat mulai dari era sebelum logging, era logging, era kelapa sawit, dan masa depan budaya pasca kelapa sawit. Dominasi kapitalisme (korporasi) atas kehidupan dan lahan masyarakat Wahau dirasakan sangat jelas mengusik keberlanjutan "budaya". Ada indikasi kuat masyarakat mengalami "kesulitan" termasuk untuk menyelenggarakan aktivitas budaya. Sejumlah penyelenggaraan "aktivitas budaya" terselenggara berkat sponsor beberapa perusahaan yang ada di sekitar masyarakat. Sementara dari aspek transisi sosial ekonomi masyarakat ada indikasi tingkat kesejahteraan semakin menurun. Pada satu sisi "budaya konsumtif" sudah sangat menonjol. Pada sisi lain sumber pendapatan masyarakat pada umumnya tidak menentu bahkan ada peningkatan upaya "menjual lahan". Kemakmuran sejauh ini hanya dinikmati oleh elit-elit desa dan "orang kuat" di desa. Masyarakat miskin semakin termarginalisasi dan terpuruk. Kondisi inilah kehadiran dan keterlibatan Tim-tim SBED Universitas Sanata Dharma menjadi begitu "signifikan dan relevan" dalam upaya pemberdayaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat Wehea, Kayan, dan Kutai. (thep)




