USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Mahasiswa Tingkat IV Teologi USD Ekspresikan Trinitas Dalam Karya Seni

diupdate: 15 tahun yang lalu


Kamis (24/5/2012) aula Seminari Tinggi Kentungan dihiasi lukisan-lukisan bertema Trinitas dan tertempel sebuah slogan "siapa bilang Trinitas itu sulit untuk dipelajari dan diekspresikan?" Suasana tersebut memberi warna baru pada pembelajaran Trinitas di ranah Teologi Universitas Sanata Dharma selama ini yang hanya terbatas pada pembahasan akan sejarah dan dogma Trinitas dalam tradisi gereja. Situasi tersebut tercipta atas inspirasi Dr. Mutiara Andalas, SJ yang memulai mengajarkan Trinitas pada mahasiswa Teologi USD dengan cara baru. Bagi dosen muda ini, pembelajaran akan trinitas bukanlah sekedar pembahasan dogma, melainkan suatu penelusuran akan proyek kehidupan setiap hari. Pada awal semester (bulan januari 2012), dosen lulusan Berkeley ini mengajak 54 mahasiswa tingkat IV untuk membentuk kelompok sesuai bakat dan hobby masing-masing. Dari situ terbentuk kelompok koor, lukis, musik, imajinasi, teater, dan membaca.
Selama satu semester (Januari-April, 2012), setiap kelompok mempersiapkan tampilan trinitas sesuai dengan bakat dan hobby mereka. Usaha keenam kelompok tersebut berpuncak pada kamis siang jam 11. Selama sekitar dua jam, seratusan mahasiswa teologi datang menyaksikan tampilan mereka. Kelompok koor menampilkan sebuah dramatisasi lagu berjudul "Puji syukur pada Bapa, Putra,  dan Roh Kudus". Kelompok lukis mewarnai ruang pentas dengan gambar Trintas kreatif berupa gambar setangkai mawar dengan tiga warna bunga, jalur kereta api bertuliskan trinitas, satu mata berpupil tiga, tiga cangkir kopi, dan tiga ikan berkepala satu. Satu per satu mereka menjelaskan makna gambar mereka kepada para penonton. "Saya melukis Trinitas dengan cangkir kopi, sebab saya yakin satu biji kopi bisa saja dihidangkan di kedai kopi yang berbeda-beda. Begitupun karya Trinitas (Bapa, Putra, dan Roh Kudus) bisa dirasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan setiap hari", jelas Hendy atas gambarnya. Selanjutnya,  Kolaborasi antara team musik dan teater menampilkan teater Trinitas bertema "Karya Bapa, Putra, dan Roh Kudus dalam mencipta dan memperbaharui dunia". Pementasan trinitas dalam karya seni itu ditutup dengan sebuah rangkuman atas hasil pembelajaran dan eksplorasi tentang tema trinitas dari kelompok yang hobby membaca. Mereka menampilkan ide-ide atau konsep Trintas yang berkembang sejak abad para bapa Gereja sampai diskusi Trinitas di abad 20an.
Setelah semua kelompok menantilkan hasil kreasi trinitas mereka, Mbak Damian Alma dan Mas Iwan memberikan penilaian dan saran atas kreativitas mahasiswa. "Terus terang, aku merinding ketika mendengar suara merdu dari kelompok koor", komentar Mbak Alma. "Namun kalau lagu ini mau dinyanyikan saat misa di gereja, maka perlu diperhatikan keterlibatan umat dalam menyanyikannya", saran aktivis penulis lagu Kota Baru ini. Terhadap lukisan, dosen kedokteran Gigi UGM ini mengugkapkan bahwa dia jatuh cinta pada lukisan mata berpupil tiga, meski lukisan itu tidak sesuai dengan anatomi tubuh, namun telah menggingatkan dia pada pengalaman jatuh cinta pada pandangan pertama.
Selanjutnya giliran Mas Iwan berkomentar terhadap tampilan teater kolaborasi antara team musik dan teater. "Bagi saya, ini sebuah tampilan yang kreatif, sudah terjadi kolaborasi yang serasi antara seni gerak dan musik", komentar dosen ISI Yogyakarta ini. Namun yang perlu diperhatikan lagi adalah pemilihan busana yang seragam dan sesuai dengan jenis gerak dalam tari. Apabila ingin menggunakan tari Jawa, maka busana pun harus busana Jawa. "Ini adalah sebuah tampilan perdana yang sukses dan kita menanti kreativitas dari angkatan berikutnya", ungkap Rm. Andalas, SJ pada sambutan penutupnya sambil menantang semangat para mahasiswa yang hadir saat itu. (Polce)

  kembali