Jumat, 1 Juni 2012, pentas drama "Malam Pengantin di Bukit Kera", berhasil menghipnotis penonton yang hadir di Panggung Terbuka, Kampus II Universitas Sanata Dharma, Mrican, Jl. Affandi, Yogyakarta. Sorot lampu temaram dan atraksi siluet para pemain membuat penonton terpukau hingga decak kagum bermunculan. Pentas karya sastra Motinggo Boesje ini dihadirkan mahasiswa-mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.
Pentas kelas dari mata kuliah Kajian Drama ini dihadirkan sebagai upaya apresiasi karya sastra dari sastrawan asli Indonesia yang hampir tidak digubris oleh maraknya budaya pop yang sedang melanda Indonesia. Pentas ini diawali dari kelas kecil yang mencoba mengkaji karya sastra realis dan non-realis. Hingga akhirnya diputuskan untuk mementaskan karya realis yang dianggap sebagai dasar dari pementasan karya sastra surealis.
Pentas drama ini dibuat sekaligus sebagai ujian sisipan dari dosen pengampu S. E. Peni Adji, S. S., M. Hum. "Kita harus punya dasar realis untuk dasar pementasan karya surealis dan absurd. Jadi mata kuliah kali ini berguna untuk mahasiswa yang nantinya akan mencoba menganalisis dan mementaskan karya surealis," tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa karya sastra khususnya karya sastra Indonesia harus terus dihidupkan, salah satunya dengan pementasan. USD termasuk kampus yang sering mengadakan pertunjukkan drama, jadi ini semacam budaya yang harus terus dilestarikan apalagi USD memfasilitasi mahasiswanya untuk terus melestarikan karya sastra Indonesia.
Drama aliran realis ini menceritakan kehidupan Bujang Tambun dan Maya, sepasang pengantin yang baru berbulan madu di daerah terpencil. Maya khawatir terhadap nenek Bujang Tambun yang dianggap gila oleh penduduk sekitar. Sang nenek tidak gila, hanya menahan amarah hingga akhirnya sang nenek membalaskan dendam suaminya dengan membunuh Masroi.
Drama ini dimainkan oleh Suyanti, Dery Risto, Joko Briyandewo, Antonius Hendryanto, dan Diana Mariska Y. Mereka sudah berusaha melestarikan karya yang hampir tidak kita kenal. Bukan dengan sekedar lakon, melainkan dengan kolaborasi teknologi dan musikalisasi yang patut diacungi jempol. Kapan giliran kita? (Cello)




