Seminar dalam rangka Dies ke-49 Sanata Dharma hari ini, Jumat (17/12) digelar di Gedung Perpustakaan Lantai 3. Dengan mengambil tema "Pendidikan Tinggi dan Kepemimpinan Transformatif Bangsa Indonesia", seminar ini menghadirkan dua nara sumber, yaitu Prof. Dr. B.S. Mardiatmadja, S.T. dan Prof. Dr. H.A.R. Tilaar. Tema seminar ini merupakan buah refleksi Sanata Dharma yang mempertanyakan dirinya tentang sejauh mana seumbangannya dalam turut mengurai dan menyelesaikan masalah kehidupan berbangsa yang penuh konflik, korupsi, krisi moral, dan krisis kedisiplinan. Demikian diungkapkan oleh Rm. Rektor Paul Suparno, S.J. dalam sambutannya. Dalam sesi pertama, Bapak Tilaar mengupas beberapa kebijakan pemerintah yang justru salah dalam mengelola pendidikan, misalnya konsep HELTS-IV: Visi 2010, neo-liberalisme pendidikan, serta pandangan terhadap pendidikan itu sendiri. Idealnya, pendidikan di Indonesia harus membangun "with a human face", bukan "Techno-Idiot". Dari sanalah akan lahir peimpimpin yang utuh. Sementara itu, Rm. Mardi memaparkan, bahwa untuk menghasilkan kepemimpinan yang baik dan mengoptimalkan peran Perguruan Tinggi dalam kehidupan berbangsa, Perguruan Tinggi harus memiliki corak dasar aktivitas komunitas yang disebut solidaritas intelektual yang bukan emosi ideologis. Artinya universitas dituntut untuk menciptakan mekanisme kelembagaan dan telaah ilmiah yang mendalam agar telaah tentang manusia tidak bersifat partisan.




