Semakin tua semakin produktif, tepat rasanya bagi Drs. G. Sukadi alias Jalu Suwangsa, dosen Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID), Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Setahun sekali beliau menerbitkan buku yang bernuansa arti kehidupan mulai dari cerita, pantun, dongeng, dan yang lainnya. Dosen kelahiran 17 Agustus 1945 ini kembali meluncurkan buku karangannya pada hari Sabtu (31/3) yang lalu mulai pukul 09.00 - 12.00 WIB, di Ruang Sidang LPPM USD yang berjudul "Belalang pun Ingin Memuliakan Penciptanya".
Pembicara atau winasis pada peluncuran buku yang bertajuk bawa rasa ini adalah Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. (dosen Sastra Indonesia USD), Drs. J.B. Adimassana, M.A. (dosen PGSD USD), dan Drs. J. Prapta Diharja, SJ., M.Hum (dosen PBSID USD), dimoderatori oleh Setya Tri Nugraha, S.Pd., M.Pd. (dosen PBSID USD). Bawa rasa diartikan oleh Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. sebagai "rembugan dengan saling menghargai, tidak ada yang lebih pintar dan lebih bodoh".
Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum. sebagai pembicara pertama, menuangkan dalam sekapur sirih "Bagi masyarakat yang tergesa, tindakan diam, merenung, berkontemplasi, tunduk kepala, atau hening menjadi tampak aneh dan membuang-buang waktu. Apalagi ngobrol atau glenak-glenik melewati tengah malam untuk membicarakan harkat hidup dan sangkan-paraning dumadi (maksud-tujuan manusia sebagai titah Allah). Hanya orang gendheng atau setengah gila yang mau melakukannya".
Drs. J.B. Adimassana, M.A. sebagai pembicara kedua, menuangkan dalam sekapur sirih "Kita boleh yakin Ki Jalu menulis dan mempublikasikan buku ini dengan maksud yang baik demi membantu orang-orang lain, sanak kerabat, dan handai-tolan, agar tergerak untuk melakukan laku atau olah rasa demi memperoleh "pencerahan" tentang misteri kehidupan ini sebagaimana telah ia alami."
Drs. J. Prapta Diharja, SJ. M.Hum. sebagai pembicara ketiga, menuangkan dalam sekapur sirih "Katak dalam cerita di atas sudah mencapai taraf ma'rifat atau manunggaling Kawula Gusti. Makhluk yang sudah mencapai taraf mistik, yaitu kesatuan dengan Tuhannya, tidak perlu lagi mencari Tuhan ke mana-mana. Tidak perlu lagi mengatakan apa-apa mengenai Tuhan. Pernyataan tidak diperlukan lagi. Yang diperlukan hanyalah diam di dalam keheningan".
Drs.G. Sukadi sang katak alias Jalu Suwangsa mengatakan "Saya orang Jawa. Katak yang tinggal di Jogja. Katak bukan muslim, bukan katolik, bukan kristen, bukan hindu, bukan budha. Katak ya katak yang tinggal di Jawa, konkritnya di Jogja. Yang dikatakan katak bukan agama atau apa-apa, tapi lakune katak dalam mencari kebenaran. Katak tua melihat sorga dunia itu sungguh-sungguh sorga dunia. Semua orang saudara, semua baik, tidak takut apapun, tidak ada kecemasan, tidak ada kelakuan negatif. Hidup seperti memukul angin. Katak tua tak akan berhenti bernyanyi memuliakan penciptanya". (Ag)




