Waktu telah berjalan dua minggu sejak keberangkatan Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Rm Dr. P. Wiryono Priyotamtama, SJ (Rm Wiryono) mengikuti program Erasmus Mundus di Deusto University, Bilbao, Spanyol. Program ini secara keseluruhan akan memakan waktu satu bulan. Berikut penuturan Rm Wiryono selama berada di Deusto University, Spanyol.
Keberangkatan Rm Wiryono ke Spanyol harus melalui karantina dua malam di Jakarta. Hujan deras siang hari di Yogya pada tanggal 2 Maret 2012 mengakibatkan pesawat Garuda yang seharusnya berangkat jam 17.00 mengalami penundaan selama empat jam. Akibatnya Rm Wiryono ditinggal oleh pesawat Lufthansa yang terbang ke Spanyol. Beliau diinapkan di Hotel Mercure Ancol dan Hotel 7FM Resort untuk menunggu flight Lufthansa yang dapat memberikan tempat duduk.
Saat tiba di Bilbao, Rm Wiryono dijemput oleh Miss Nerea dari International Relation Office yang mengurusi pengaturan mobilitas para tamu atau mahasiswa internasional yang berjumlah 2000-an orang. Setelah tiga hari dua malam menginap di Student Residence Hall, Rm Wiryono dipindahkan ke Jesuit Residence yang menyatu dengan gedung perkuliahan dan kantor Universitas. Penghuni Jesuit Residence tidak banyak yang dapat berbahasa Inggris. Beruntung Rm Wiryono bertemu dengan Rm Fillipe Ortiz, SJ yang fasih berbahasa Inggris dan selalu menemaninya saat makan siang bersama.
Program Erasmus Mundus yang dijalani Rm Wiryono ini adalah bagian dari EMA2-LOT11 ASIA REGIONAL. Olga Benitez sebagai koordinator proyek menceritakan bahwa mahasiswa peserta program Erasmus Mundus yang berasal dari Indonesia memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sangat mengesankan. Ternyata, keduanya adalah mahasiswa USD. Mereka adalah Desmon Sekarbatu Ismoyo dari Sastra Indonesia dan Maria Agatha Rina Widhiastuti dari Sastra Inggris.
Deusto University adalah salah satu dari tiga Universitas yang dimiliki oleh Serikat Jesus di Spanyol. Dua universitas lainnya berada di Madrid dan Barcelona. Selama di Deusto, Rm Wiryono melakukan kegiatan penelitian, diskusi dengan para ahli, dan berbagi pengalaman di bidang yang dikuasai. Beliau menyiapkan dua materi. Materi pertama tentang bagaimana globalisasi dialami di Indonesia dan bagaimana dampaknya terhadap pembentukan identitas bangsa. Materi kedua terkait dengan pengembangan Ignatian Pedagogy di USD. Dalam dua minggu ini, Rm Wiryono diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan Prof Carmen Labrador Herraiz tentang Ignatian Pedagogy. Prof Carmen adalah seorang ibu berusia di atas 70 tahun yang masih aktif menjadi pembimbing disertasi atau menjadi nara sumber terkait keahliannya di bidang Ignatian Pedagogy. Beliau sering diundang untuk memberi training di bidang Ignatian Pedagogy di beberapa negara di Amerika Latin seperti Colombia, Cili, Mexico, Peru, dan Porto Rico.
Salah satu hal yang menarik dari Deusto University adalah perpustakaannya. Selain ketersediaan buku-buku atau majalah-majalah yang relevan dengan bidang studi Rm Wiryono yakni Adult Education atau Lifelong Learning, hal mengagumkan dari perpustakaan Deusto adalah pelayanannya yang sangat lengkap bagi segenap civitas academica. Selain pelayanan peminjaman buku-buku, foto-copy, akses e-library, dan pelayanan sejenisnya, ada juga pelayanan kafetaria. Mereka yang memiliki kartu anggota perpustakan mendapat discount khusus saat makan di kafetaria tersebut.
Terkait dengan kegiatan penelitian, Rm Wiryono telah menyelesaikan proposal penelitian unggulan tahun ketiga (2014) USD dari Prodi Pendiddikan Biologi berjudul Penguatan Diversifikasi Sistem Pangan Masyarakat Kabupaten Gunung Kidul DIY Berbasis Kearifan Lokal dan Prinsip-Prinsip Biologi Adaptif Melalui Jaringan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian-Pedesaan Swadaya). Kegiatan penelitian lainnya adalah memulai penulisan buku ajar untuk mata kuliah Budidaya Tanaman, Hewan, dan Ikan yang sudah dua tahun terakhir beliau ampu untuk mahasiswa Pendidikan Biologi.
Bagi Rm Wiryono, kota Bilbao adalah kota yang menarik. Selain mendapati bukit-bukit yang menghiasi, kota ini dialiri sungai yang airnya mengalami pasang-surut karena kedekatannya dengan laut. Pedestrian dibangun di sepanjang sungai dan di sepanjang jalan-jalan raya atau di jalur setapak menuju obyek-obyek wisata. Banyak museum dibangun khusus untuk menarik wisatawan. Selama berada di Bilbao, Rm Wiryono sempat beberapa kali berkunjung ke Basilika de Begona yang terletak di atas bukit. Tempat ini sangat tenang dan cocok untuk berdoa. Butuh waktu 40 menit jalan kaki untuk mencapai tempat yang dibangun pada tahun 1620 ini. (BST)




