USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Sarasehan

diupdate: 23 tahun yang lalu

Isu agama di dalam dunia politik Indonesia dari masa revolusi sampai Pemilu 2004 saat ini terus mengemuka dan tidak pernah terlepas dari dinamika politik di Indonesia. Namun jika agama dipakai sebagai kendaraan politik maka konsekuensi logisnya agama akan bersekutu dengan kekuasaan. Akibatnya agama tidak akan dapat lagi menjalankan fungsi kenabiannya. Demikian pernyataan Rm. Dr. Budi Subanar, SJ. dalam sarasehan Sadhar Peduli pemilu dengan bertajuk "Agama dalam Pemilu: Sumber Pembebasan atau Tudung Fasisme?" di gedung LPUSD Kampus 2 Mrican, Jumat pagi (30/7). "Agama akan mandul, tidak peka lagi, hanya akan dipakai untuk melakukan interest tertentu, dan tidak lagi mampu menjalankan kenabian untuk menyerukan pertobatan", tegas Romo Banar. Mengacu pada Gustavo Gutierrez, Romo Banar mengungkapkan bahwa agama harus menciptakan solidaritas bahkan pembebasan terhadap bagi yang tertindas, bukan hanya penghayatan pribadi yang mengarah ke surga. "Yesus sendiri adalah pembebas bagi yang miskin, tertindas, dan berdosa", lanjut Romo dosen Ilmu Religi dan Budaya ini. Sementara itu pembicara ke dua, yaitu Rm. Baskara T. Wardaya menyoroti perjalanan fasisme melalui ketokohan yang berkuasa yang cenderung menindas rakyat. Romo Baskara mengajak untuk berefleksi, "Mau kita hayati sebagai apa agama yang kita peluk?". "Sebagai sarana mencari dan melanggengkan kekuasaan atau titik pijak perjuangan yang membebaskan"?

  kembali