Satu semester belakangan ini (Semester Gasal Tahun Akademik 2011/2012), mungkin menjadi pemandangan yang baru bagi kita untuk melihat semakin padatnya area parkir sepeda motor di kampus I Mrican dan kampus III Paingan. Bahkan area pejalan kaki di sekitar lapangan Realino menjadi alternatif tempat parkir karena jumlah sepeda motor tidak cukup ditampung di area lama. Mungkin tambahnya jumlah mahasiswa karena pemindahan dua area prodi menjadi faktor pemicu hal tersebut. Akan tetapi, benarkah hal tersebut menjadi satu-satunya faktor pemicu? Atau adakah indikasi lain yang menyebabkan deretan motor berjejal pada tempat yang semestinya menjadi area untuk para pejalan kaki atau area yang bisa disebut sebagai jalur hijau Sanata Dharma?
Fenomena tersebut yang mendorong Tim SLP 2011 untuk mencoba melakukan survei kecil mengenai kesadaran lingkungan mahasiswa-mahasiswi Universitas Sanata Dharma. Selain fenomena padatnya area parkiran sepeda motor, tim juga menyoroti dua aspek lain yang menarik untuk ditilik, yakni masalah area merokok dan pengelolaan sampah. Survei ini diadakan dengan 100 mahasiswa di kampus I Mrican dan kampus III Paingan sebagai responden. Dengan membagi angket survei kepada 100 mahasiswa angkatan 2008, 2009, 2010, dan 2011, dari bermacam-macam jurusan, tim mencoba menggali seberapa jauh kepedulian mahasiswa-mahasiswi Universitas Sanata Dharma terhadap tiga aspek tersebut. Patut dicermati juga bahwa aspek area merokok dan pengelolaan sampah diikutsertakan karena di sudut-sudut kampus seperti di area Student Hall (kampus I Mrican), Hall Selatan (kampus III Paingan) dan juga kelas-kelas (kampus I dan III) pada jam-jam tertentu lekat dengan pemandangan abu rokok dan sampah-sampah yang tidak berada pada tempat semestinya. Pemandangan tersebut sangat kontras dengan tulisan-tulisan "Jagalah Kebersihan" yang ditempel rapi di tembok-tembok. Seolah-olah tulisan-tulisan itu dipasang hanya untuk para petugas kebersihan kampus.
Tolak ukur yang digunakan dalam melihat kepedulian mahasiswa-mahasiswi terhadap padatnya area parkir sepeda motor, area merokok, dan pengolahan sampah masih berupa hal-hal kecil yang tetap dapat dilakukan mahasiswa-mahasiswi di lingkup kampus sekalipun sedang dalam kesibukan. Hal-hal yang berkaitan dengan area parkir sepeda motor antara lain tentang seberapa sering mahasiswa-mahasiswi menggunakan sepeda motor untuk menempuh jarak yang relatif dekat di dalam atau di sekitar area kampus seperti jarak kampus I Mrican ke gedung perpustakaan. Dalam kasus tersebut, mereka juga diberi opsi apakah lebih memilih untuk naik sepeda motor, bersepeda, atau berjalan kaki. Kasus tersebut juga berlaku bagi mahasiswa-mahasiswi yang memiliki jarak tempuh cukup dekat antara rumah tinggal dengan area kampus. Hal-hal kecil semacam itu digunakan untuk mengukur seberapa peduli mahasiswa-mahasiswi akan penghematan energy dalam hal ini BBM dan juga pengaruh pengeluaran emisi kendaraan bermotor mereka terhadap pemanasan global.
Dalam melihat kepedulian mahasiswa-mahasiswi mengenai area merokok, tim memakai tolak ukur tentang apakah mereka yang aktif merokok peduli terhadap respon perokok pasif. Beberapa poin memberikan opsi perlukah dibuatkan semacam smoking area di kampus. Selain itu mereka juga diajak untuk menanggapi kepedulian mereka sendiri tentang pembuangan "sisa" rokok seperti puntung dan abunya.
Pembuangan "sisa" rokok juga erat kaitannya dengan kepedulian mahasiswa-mahasiswi mengenai pengelolaan sampah. Karena di area kampus belum memungkinkan mereka untuk mengolah sampah maka opsi-opsi yang dihadapkan berupa kesadaran mereka untuk membuang sampah pada tempatnya. Beberapa opsi mencoba menggelitik tindakan membuang sampah di meja-meja kantin dan kelas. Opsi yang lain menanyakan perlunya kampus menyediakan bak-bak sampah yang diberi penggolongan.
Hasil yang dicapai memperlihatkan bahwa 100 mahasiswa-mahasiswi reponden tersebut "peduli" terhadap lingkungan di area kampus khususnya aspek parkiran sepeda motor, area merokok, dan pengelolaan sampah. Hal tersebut ditunjukkan dengan presentase yang "peduli" mencapai lebih dari 70%. Pada fenomena lahan parkir, responden yang "peduli" mencapai 80,8%, untuk masalah area merokok 86,9%, dan 79,4% untuk pengelolaan sampah. Dari ketiga aspek tersebut, aspek area merokok menempati urutan paling tinggi sebagai hal yang paling disoroti para responden. Para responden menganggap smoking area perlu disediakan di kampus. Untuk perkara area parkir, kebanyakan responden menyarankan agar lahan parkir diperluas. Sedangkan untuk pengelolaan sampah, mereka menginginkan agar ada penggolongan bak-bak sampah di kampus.
Jika melihat kepedulian 100 responden agaknya menjadi pertanyaan mengapa hasil tersebut kontras dengan fakta-fakta di lapangan. Mungkin juga, hasil tersebut masih berupa harapan yang belum sempat terealisasi. Akan tetapi, jika dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya saja banyak yang tidak peduli, akankah pengadaan bak-bak sampah dengan penggolongan tertentu akan signifikan? Mungkin dengan memperluas lahan parkir, jumlah sepeda motor bisa tetampung. Akan tetapi, akankah hal tersebut mampu mengatasi kesadaran mahasiswa-mahasiswi akan pengaruh gas emisi terhadap lingkungan? Atau akankah penyediaan smoking area memberi hasil yang berarti untuk membentuk pribadi-pribadi yang peduli lingkungan? Banyak orang bersaing untuk menyuarakan hal-hal besar hal-hal yang penuh daya juang dan sangat intelektual namun siapa yang peduli bahwa memperhatikan hal-hal kecil dapat melatih kepekaan kita?
Tidak ada salahnya mulai mempertimbangkan bahwa berjalan kaki atau kalau memungkinkan naik sepeda akan menjadi kontribusi kecil namun bila dilakukan oleh banyak orang akan menjadi sumbangsih kepedulian kita terhadap lingkungan. Merokok adalah pilihan hidup namun alangkah baiknya jika pilihan tersebut tetap memperhatikan keadaan lingkungan sekitar. Melihat kebiasaan merokok dari segi kesehatan sudah menjadi hal umum tetapi membuang abu dan puntung rokok pada tempat yang semestinya adalah hal lain yang mencerminkan tindakan peduli lingkungan. Mungkin juga tidak setiap orang bisa memberi andil yang cukup besar untuk gerakan pengolahan sampah seperti yang sering diserukan dalam kampanye-kampanye peduli lingkungan beberapa tahun belakangan. Akan tetapi, bukan tidak mungkin untuk membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya saat kita "belum bisa" melakukan pemilahan maupun pengolahan sampah secara langsung. Di luar hal-hal tersebut masih banyak cara-cara lain yang berslogan Small Act, Big Impact bermula dari hal-hal kecil tetapi memberi pengaruh besar yang bisa kita lakukan untuk membangun kesadaran lingkungan. Akankah Small Act, Big Impact menjadi cerminan aksi yang berujung pada kesadaran kita terhadap pelestarian lingkungan? Ataukah justru slogan tersebut merefleksikan sikap-sikap acuh tak acuh yang berujung pada semakin rusaknya lingkungan? Beragam pilihan ditawarkan, wujud nyatanya adalah niat setiap pribadi. (SP)




