"Marx is in fashion again!" begitu kata Jorn Schutrumpf, manajer penerbit Karl-Dietz di Berlin yang mencetak dan mengedarkan buku-buku karya Karl Marx dan Friedrich Engels. Ini dikatakannya pada tahun 2008 ketika tiba-tiba orang berbondong-bondong membeli buku-buku karya Marx, dan penyebabnya adalah krisis ekonomi dunia yang mulai merambah benua Eropa," demikian disampaikan Dr. Benny Hari Juliawan, SJ, dalam Studium Generale Program Pascasarjana USD, Selasa, 13 Desember 2011. Acara yang berlangsung di Ruang Driyarkara, Gedung Pusat Kampus II Mrican itu dipenuhi peminat dari USD dan dari luar USD. Studium Generale yang bertema "Metodologi Penelitian dengan Perspektif Marxis" ini sedianya menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Benny Hari Juliawan, SJ yang membawakan makalah berjudul "Ontologi Materialis dan Analisis Kelas" dan Dr. George Junus Aditjondro yang menulis kertas kerja berjudul "Metodologi Penelitian dengan Perspektif Marx." Akan tetapi, karena Dr. George Junus Aditjondro berhalangan, Dr. Benny Hari Juliawan, SJ menjadi narasumber tunggal.
"Marx dan Weber adalah orang-orang yang pertama-tama mengajukan pertanyaan mengenai perkara-perkara ekonomi dan politik masyarakat yang sedang menggangu pikiran banyak orang saat itu. Ketika Marx mengatakan bahwa yang pokok adalah kesadaran diri manusia konkret dalam relasinya dengan manusia lain dan alam, pendapat ini radikal karena melawan idealisme yang mengharu-biru ranah filsafat Eropa abad ke-18 hingga 19," terang Romo Benny sambil menambahkan bahwa pada saat itu manusia konkret sehari-hari, apalagi rakyat kebanyakan, termasuk detil yang tidak penting. Yang penting waktu itu adalah totalitas sejarah, bukan detilnya. Totalitas seringkali diwakili oleh raja, pangeran, manusia setengah dewa yang dapat bertindak atas nama seluruh umat manusia.
Kunci Metodologis
Dalam acara yang dipandu oleh Devi Yustina, dosen S2 IRB Sanata Dharma itu, Romo Benny memaparkan tiga kunci metodologis Marx, yakni: (1) manusia yang berinteraksi dengan manusia lain dan alam sekitarnya, (2) tindakan produktif sebagai tindakan paling hakiki yang membangun realitas sosial, dan (3) relasi sosial sebagai objek ilmu pengetahuan.
Sementara itu, Dr. George Junus Aditjondro dalam kertas kerjanya membahas berturut-turut hakikat perspektif Marxian, bagaimana proses penggusuran pemikiran Marxian dari Ilmu-ilmu Sosial di Nusantara, sejarah revival pemikiran Marxian di Indonesia, dan diakhiri dengan usaha menghidupkan kembali metodologi penelitian berperspektif Marxian. "Analisis terhadap korupsi kepresidenan di Indonesia, yang menggunakan konsep oligarki, mulai dari era Soeharto sampai dengan era Yudhoyono ke-2 menunjukkan bahwa oligarki tersebut berkaki tiga, yakni istana, tangsi, dan partai penguasa," tulis George dalam kertas kerjanya. (PT)




