Pertama di Indonesia! Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma dan Panitia Dies Natalis USD ke-56 mengadakan seminar nasional mengenal dan mempraktikkan Hypnocounseling dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Pada tanggal 7 Desember 2011 bertempat di Ruang Drost Kampus III USD Paingan, acara ini diikuti oleh para Guru BK, mahasiswa BK dan Mahasiswa Psikologi dari Universitas Sanata Dharma maupun dari luar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Guru Bimbingan dan Konseling (konselor sekolah) semakin dituntut kepiawaiannya dalam menangani masalah-masalah siswa, oleh karena itu penguasaan konselor untuk menerapkan teknik Hypnocounseling akan menjadi sebuah terobosan baru.
Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor III USD Romo Dr. C. Kuntoro Adi, S.J., M.A., M.Sc., dalam sambutannya beliau menceritakan bahwa minuman Beer bisa membuat orang berbicara mengenai apa saja. Dalam hal ini Prodi Bimbingan dan Konseling bisa melakukan itu dengan Hypnocounseling.
Pembicara dalam seminar ini adalah R. Budi Sarwono yang merupakan alumni Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam pengantarnya dibahas mengenai Hynocounseling, ilmu atau 'Ngelmu'?. di Indonesia, ilmu gendam sudah dipraktekan orang sebelum sigmund Freud menegaskan ilmu kesadaran. Tidak heran kalau hypnosis digolongkan sebagai ilmu hitam, karena kegunaannya cenderung untuk tujuan-tujuan negatif. Di tengah masyarakat yang masih tradisional, semua fenomena yang tidak bisa dicerna dengan akal budi (nya) akan digolongkan sebagai suatu yang mistik, klenik, dan sebangsannya.
Hypnosis oleh sebagian masyarakat juga masih digolongkan sebagai 'ngelmu' yaitu kesaktian yang dapat digunakan untuk mempengaruhi orang lain. Padahal hypnosis adalah sebuah teknik psikologis biasa yang bisa dijelaskan dari sudut pandang psikologi dan neuropsikologi. Hypnosis bisa dipelajari dengan gampang tanpa harus melalui ritual tapa brata, puasa, menggunakan kembang kemenyan dan sebagainya. Hypnocounseling adalah sebuah upaya memanfaatkan teknik terapeutik hynosis untuk digunakan dalam praktek konseling.
Seminar ini dibagi dalam 3 sesi, pengenalan Hypnocounseling, pembahasan Hypnocounseling dalam telaah Teologi Moral dan Simulasi. Pada pembahasan Hypnocounseling dalam telaah Teologi Moral yang disampaikan oleh Romo Mateus Mali dijelaskan bahwa agama Katolik tidak mendukung tetapi juga tidak menolak adanya Hypnocounseling karena Hypnocounseling tujuannya untuk membantu tetapi pada prosesnya klien berada pada ketidaksadaran, dalam agama Katolik orang tidak sadar berarti tidak bermoral. Seminar ini berlangsung dengan penuh antusias dari pesertanya dengan adanya banyak pertanyaan yang dikemukakan oleh peserta yang membuat waktu acara kurang dan perlu ditambah oleh panitia. Ketika di penghujung acara, paserta juga dibekali kemampuan untuk melakukan affirmation dan ini dipraktekkan juga langsung oleh peserta kepada diri mereka sendiri yang membuat mereka merasa segar, rileks, penuh semangat dan tenang. Sebagai tindaklanjut seminar ini, R. Budi Sarwono akan mengadakan pelatihan Hypnocounseling kepada 20 mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma secara gratis agar nantinya mereka mahir mempraktikan dan mengembangkannya. (Agz)




