Sabtu (19/6) kembali Sadhar Peduli Pemilu 2004 menggelar acara sarasehan dengan tajuk "Politik Seni dan Seni Berpolitik" di Gedung LPUSD Kampus 2 Mrican. Hadir sebagai nara sumber adalah Rm. Dr. Budi Susanto, SJ (Lembaga Studi Realino) dan Nirwan Arsuka (Kompas) dengan moderator Rm.Dr. Baskoro, SJ. Sarasehan ini dihadiri oleh para pemerhati seni, mahasiswa, dan dosen USD dan beberapa PTS lain. Dalam makalahnya yang berjudul "Politik Massa(l) Rakyat: Bandit Kesenian, Bukan Sebaliknya", Rm. Budi menggarisbawahi bahwa seniman dan politikus memiliki kemampuan untuk menghimpun rakyat dan menyambung lidah rakyat. Kesenian mampu menghasilkan kekuasaan dan sebaliknya. Di samping itu kesenian memiliki daya untuk membuat orang patuh, bungkam, lupa, tapi bebas dan kreatif. "Yang terjadi dalam masa kampanye Pemilu ini adalah para politikus memakai seni untuk menarik (suara) massa. Tetapi perlu diingat bahwa kekuasaan juga bisa menghasilkan kemegahan (kesenian)", kata Rm. Budi. Dia mengilustrasikan para konglomerat yang memapu memiliki modal untuk mengadakan pertunjukkan dan menampilkan jenis kesenian yang mereka mau. Sementara itu Nirwan dalam kesempatan yang sama menyoroti nasib seni rakyat yang kurang diperhatikan. Dia justru tertarik pada fungsi seni yang melampaui fungsi praktis politis, tetapi sayangnya seni itu sendiri tidak digali secara mendalam oleh masyarakat. Bahkan tanpa dipolitisasi, seni bisa berkembang asal masyarakat memiliki pengetahuan yang dalam tentang khasanah budaya dan menjadi bagian dalam muatan kultural masyarakat.




