"Kalimat yang senantiasa kita dengar pada perayaan Ekaristi: Inilah Hasil Bumi Atas Usaha Manusia dan Karena Kemurahan-Mu, sesungguhnya merupakan filsafat kaum tani yang menjadi kearifan hidup manusia di muka bumi ini. Filsafat inilah yang dihidupi dan diwariskan oleh almarhum Rm FX Tan Soe Ie, SJ," demikian dikatakan Al. Indra Gunawan dalam sarasehan Peringatan Seribu Hari Wafatnya Rm FX Tan Soe Ie, SJ yang berlangsung di Ruang Koendjono, Kampus I USD Mrican, Sabtu, 26 November 2011.
"Makna filsafat petani itu adalah memberikan yang terbaik dari usahanya kepada sesama, sekalipun pekerjaan petani itu tidak diperhatikan banyak orang. Lebih-lebih pekerjaan petani itu menghasilkan sesuatu yang dipersembahkan untuk Tuhan dalam bentuk roti dan anggur," lanjut Indra Gunawan.
Sarasehan menghadirkan empat pembicara, yakni Rm. Dr. Ir. Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J., M.Sc. (Rektor USD) dengan presentasi berjudul "Urip Lan Nguripi: Peringatan Seribu Hari Wafatnya Rama F.X Tan Soe Ie, SJ"; Prof. Dr. A. Sudiarja, SJ. (Ketua Pusat Studi Ignasian), "Spiritualitas Ignasian dalam Hidup Rm. Tan Soe Ie, SJ"; Al. Indra Gunawan (Ketua Komunitas Pangkal Sejahtera) "Uripku Urip lan Ono Gunane"; dan Dr. Lindayani (Ketua Program S2 Universitas Sugyopranoto Semarang) "Tanah Air-ku: Uri plan Nguripi".
Rm FX Tan Soe Ie, SJ lahir di Yogyakarta, 16 Desember 1928. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Tan Liem Gwan dan Maria Nyo Gwat Nio. Setelah ditahbiskan menjadi imam Jesuit, Romo Tan menjadi staf pengajar dan pamong di Seminari Mertoyudan, Romo Tan pernah bekerja sebagai Pastor Paroki Baciro, Pastor Paroki di Daerah Tangerang, mengurus Pusat Pelatihan Wirausaha Tani (Puslawita) di Timor Timur. Meninggal dunia dalam usia 81, tepatnya di RS Panti Rapih, Rabu, 25 Februari 2009.
Mencintai Bumi dan Alam
Ada banyak keutamaan yang dihidupi dan diwarisi oleh Romo Tan, antara lain: sikapnya yang terus-terang, suka menolong, selalu memberikan harapan, bekerja keras, optimis, bergaul dengan semua kalangan. Akan tetapi sikap dan teladan hidup yang terutama dari beliau adalah mencintai bumi dan alam.
"Apa yang kita ambil dari bumi, harus kita kembalikan ke bumi. Manusia banyak mengambil dari alam. Karena itu, pada saat kematiannya, jazadnya dipersembahkan kembali kepada alam. Inilah kiranya yang dipesankan oleh Romo Tan," demikian diungkapkan Dr. Lindayani dalam sarasehan tersebut. (y2t)




