USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Service Learning Program 2026 Timor Leste, Mahasiswa USD Belajar Makna Perdamaian dan Rekonsiliasi

diupdate: 1 bulan yang lalu

1

USD - Pada tanggal 2 sampai 16 Agustus 2026 yang lalu, 6 mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengikuti Service Learning Program (SLP) di Timor Leste. Keenam mahasiswa itu adalah Helga Kinanti Arumsih (Pendidikan Bahasa Inggris), Mikhael Kunses Bani (Pendidikan Bahasa Inggris), Anugrah Frumensius Gansalangi (Informatika), Maria Grasia Plena Br Purba (Informatika), Andrea Calista Jasmine (Sastra Inggris), dan Venivia (Sejarah). Mereka didampingi Rooselina Ayu Setyaningrum, M.Pd., (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) sebagai faculty companion.

Mengusung tema "Peace and Reconciliation: A Perspective of Post-Conflict Country Experience," program yang rutin dilaksanakan oleh Association of Jesuit Colleges and Universities in Asia Pacific (AJCU-AP) kali ini mempertemukan delegasi mahasiswa dari 9 institusi Jesuit di 6 negara. Selain Universitas Sanata Dharma, ada pula peserta yang berasal dari Jepang (Sophia University), Thailand (Saengtham College, Xavier Campus), Hong Kong (Ricci Hall), Filipina (Ateneo de Manila University, Ateneo de Davao University, Ateneo de Cagayan Xavier University, dan Ateneo de Naga University), dan Timor Leste (Instituto São João De Brito) sebagai tuan rumah.

Selama dua pekan, peserta dibimbing untuk memahami secara lebih mendalam arti perdamaian dan rekonsiliasi dari perspektif dan konteks negara Timor Leste. Terdapat beberapa tokoh penting di Timor Leste yang berkesempatan hadir dan membagikan kekayaan intelektual dan pengalaman mereka terkait tema dimaksud. Tokoh-tokoh itu antara lain Pastor Eric John J. Gerilla, SJ (pimpinan Serikat Yesus di Timor Leste), Sr. Guilhermina Marcal, FdCC (seorang pejuang kemanusiaan di Timor Leste), Xanana Gusmão (Perdana Menteri Republik Demokratik Timor Leste), José Ramos-Horta (Presiden Republik Demokratik Timor Leste) dan lain sebagainya.

Dari tokoh-tokoh tersebut, peserta diingatkan bahwa perdamaian bukan hanya keadaan tanpa perang. Lebih dari itu, perdamaian adalah sesuatu yang diupayakan melalui pengalaman belajar terus-menerus, membangun dialog, toleransi dan saling menghormati. Perdamaian adalah harta berharga yang perlu dijaga dan dirawat setiap hari melalui relasi antar-manusia. "Jika hati kita damai, kita pun bisa membagikan rasa damai itu kepada sesame", imbuh Suster Guilhermina Marcal, FdCC.

Akan tetapi, pelajaran tentang perdamaian dan rekonsiliasi tidak hanya berhenti pada pandangan para pemimpin. Para peserta pun berkesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berbicara jauh lebih kuat dari suara manusia. Andrea mengungkapkan dalam tulisannya, "Saya menyadari bahwa memilih perdamaian dan rekonsiliasi tidaklah mudah. Dibutuhkan keterbukaan, keberanian dan kesediaan untuk melangkah maju meskipun ada kenangan yang menyakitkan."

2

Pelajaran mengenai perdamaian dan rekonsiliasi semakin mendalam ketika para peserta memperoleh kesempatan untuk melakukan immersion selama 3 hari bersama host family yang merupakan veteran dan survivor yang berhasil selamat dari konflik di masa lalu. Nilai perdamaian dan rekonsiliasi kemudian dihadirkan melalui pertunjukan budaya. Masing-masing delegasi dari setiap negara diberikan kesempatan untuk melakukan pertunjukan budaya. Delegasi dari Indonesia membawakan medley tarian Nusantara yang menggambarkan upaya untuk memperjuangkan dan merawat perdamaian. Maria dalam tulisan refleksinya mengungkapkan, "Melalui berbagai kegiatan yang ada, termasuk pertunjukan budaya, saya belajar untuk keluar dari zona nyaman diri saya sendiri dan menjadi lebih percaya diri."

Rangkaian kegiatan selama SLP mengingatkan para peserta bahwa segala sesuatu saling terhubung. Perdamaian dan rekonsiliasi mesti selalu dibangun dalam kesadaran akan interkonektivitas antara diri sendiri, sesama, dan alam lingkungan. Mikhael dalam refleksinya mengungkapkan, "Aktivitas-aktivitas kebersamaan dan kunjungan yang saya ikuti dan lakukan itu membantu saya menjadi seorang yang rendah hati, dapat diandalkan, bertanggung jawab dan tulus."

Program yang berlangsung selama dua minggu ini pun berakhir. Akan tetapi, pengalaman dan komitmen untuk merajut persaudaraan tidak berhenti di Timor Leste. Salah satu delegasi, Kinanti, menyampaikan kesannya, "Saya sangat bahagia bisa berkenalan dan merajut persaudaraan dengan peserta SLP dari negara lain, bahkan mereka menganggap saya sebagai keluarga." Selain itu, Anugerah pun mengutarakan isi hatinya, "Pengalaman SLP ini membuat saya belajar untuk tidak menyebabkan penderitaan bagi orang lain."

3

Bagi mahasiswa Sanata Dharma, pengalaman SLP 2026 di Timor Leste menjadi kesempatan berharga untuk belajar merajut persaudaraan dan perdamaian dalam kehidupan setiap hari. Dari setiap kunjungan, perjumpaan, sharing dan refleksi, mereka belajar bahwa perdamaian perlu dibangun melalui kesediaan untuk mendengarkan, menghormati, adil dan mau bersaudara dengan yang lain.




Delegasi Service Learning Program 2026
Editor : Jean Pierre

  kembali