
USD - Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (APTIK) bersinergi dengan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se Indonesia (BKSPTIS) menyelenggarakan forum wicara akademik bertajuk "PTS Mendidik Bangsa: Merefleksikan Kontribusi, Peluang, dan Tantangan". Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 8 September 2026 di Ruang Kadarman, Gedung Pusat Kampus II Universitas Sanata Dharma, Sleman, Yogyakarta ini dihadiri oleh 20 perwakilan perguruan tinggi swasta guna merumuskan pemikiran konstruktif bagi penataan sistem pendidikan tinggi nasional.
Jalannya forum wicara dipandu oleh Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. selaku moderator. Pertemuan lintas asosiasi tersebut menyoroti pentingnya penataan ekosistem regulasi yang lebih proporsional bagi seluruh penyelenggara pendidikan. Kendati perguruan tinggi swasta memikul tanggung jawab besar dengan mengelola 3.944 institusi dan mendidik sekitar 4,58 juta mahasiswa, dibandingkan 359 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang menampung sekitar 3,88 juta mahasiswa, perlakuan kebijakan serta skema dukungan dinilai masih perlu diselaraskan agar tercipta kesetaraan tata kelola.


Ketua Umum BKSPTIS yang juga merupakan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa forum ini menjadi wadah konsolidasi gagasan untuk merespons dinamika serta tantangan terkini yang dihadapi perguruan tinggi swasta. Dalam sesi jumpa pers usai pembukaan forum, Prof. Fathul Wahid menyampaikan keterangan langsung mengenai semangat kebersamaan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut: "Ini acara merupakan kerja bareng antara APTIK, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia dan BKSPTIS, Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se Indonesia. Dan kami juga mengundang kawan kawan dari komunitas lain termasuk dari Kristen, Hindu, Buddha, dan lain lain. Harapannya adalah ini mewakili lintas sektor kira kira gitu. Dan ternyata dalam diskusi awal tampaknya ada kegelisahan yang serupa terkait dengan perkembangan mutakhir perguruan tinggi swasta Indonesia dan kita berharap dari ini nanti akan muncul selain identifikasi masalah juga ada banyak rekomendasi ya," kata Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D..
Sementara itu, Ketua APTIK Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma menyampaikan pandangannya mengenai perlunya evaluasi terhadap tata kelola penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Ia mengamati bahwa kelonggaran daya tampung pada kampus negeri hendaknya tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Langkah penyesuaian regulasi dinilai penting agar keberlanjutan perguruan tinggi swasta yang telah hadir sejak sebelum kemerdekaan dan melayani masyarakat hingga ke wilayah terluar tetap terjaga dengan baik.


Perspektif mendalam juga disampaikan oleh Yulia Wardani, MAN, Ketua STIKes Panti Rapih Yogyakarta. Mewakili institusi pendidikan tinggi bidang kesehatan non universitas, Yulia Wardani, MAN menguraikan pentingnya kejelasan diferensiasi misi antara perguruan tinggi negeri dan swasta. Menurutnya, kampus negeri idealnya berfokus pada program studi strategis atau langka yang menjadi penugasan khusus negara, sedangkan perguruan tinggi swasta terus diperkuat dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan masyarakat luas. Ia berharap gagasan yang lahir dari forum ini diwujudkan secara nyata melalui rumusan tertulis serta langkah komunikasi kebijakan yang santun namun konsisten.
Rangkaian forum wicara akademik yang dipimpin oleh moderator Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. ini diakhiri dengan penyusunan poin poin rekomendasi strategis. Hasil pemikiran dari 20 perwakilan institusi swasta tersebut rencananya akan dirangkum menjadi dokumen rekomendasi resmi, publikasi artikel opini di media massa, hingga penyampaian aspirasi secara berkala kepada kementerian terkait demi mendorong terwujudnya kemitraan yang setara dan bermartabat antara pemerintah dan perguruan tinggi swasta.
SH/AC/WL - Humas USD
SH/AC/WL - Humas USD




