
USD - Selama tiga minggu, sejak 5 hingga 27 Juli 2026, suasana Wisma Lansia Panti Rukmi, Pati, tampak berbeda. Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma hadir menetap untuk melayani para lansia, perawat, hingga staf Panti Rukmi. Bukan sekedar menjalankan tugas akademik, para peserta terlibat langsung dalam rutinitas harian panti.
Mulai dari membantu pelayanan fisik seperti memandikan, menyuapi, membersihkan kamar, dan mengecek tekanan darah, hingga mendampingi aktivitas rohani melalui rekoleki bersama lansia. Di luar bantuan fisik, fokus utama kegiatan ini berpusat pada pendampingan emosional melalui "pastoral mendengarkan". Para lansia diajak berbagi kisah hidup, mulai dari kenangan keluarga, dinamika duka, hingga cerita lama yang acap kali diulang

Pengabdian sosial yang dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Teologi USD bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk memiliki kontak langsung dengan kelompok masyarakat tertentu yang kelak akan menjadi medan kerja mereka, mempraktekkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sudah dipelajari di bangku kuliah, dan melatih bekerjasama dan tinggal dalam masyarakat yang bergerak dan berubah dengan cepat.
Guna menjiwai proses pelayanan ini, para peserta menerapkan pendekatan berjuluk TEDUH (Temu yang Empatis, Dengar dengan Tulus, Utus, dan Membawa Harapan). Melalui Temu yang Empatis, peserta diajak menerima latar belakang tiap lansia tanpa menghakami. Langkah Dengar yang Tulus menjadi ruang bagi lansia untuk mengurai kesepian mereka. Sementara spirit Utus dan Membawa Harapan diwujudkan nyata lewat aksi pelayanan sehari-hari.

Peserta menyadari bahwa pengabdian kepada masyarakat ini merupakan ajakan sekaligus panggilan untuk "bertolak ke seberang", keluar dari zona nyaman diri sendiri menuju wilayah pelayanan yang kerap kali dipenuhi kerapuhan dan ketidakpastian. Pengalaman di Panti Rukmi ini menegaskan bahwa pelayanan sejati tidak cuma diukur dari seberapa banyak bantuan materi yang disalurkan, melainkan dari kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan berjalan bersama mereka yang membutuhkan.
Pelayanan ini bukan sekadar pelayanan biasa, tetapi pelayanan untuk terus menghargai hidup apa adanya, bukan ada apanya. Cinta itu pengorbanan. Pengorbanan membutuhkan cinta yang tulus dan ikhlas. Dan keikhlasan berasal dari sikap rendah hati untuk menerima dan melayani sesama.
Fakultas Teologi Wedhabakti
Editor: Jean Pierre




