USD – Suara gergaji tangan yang memotong lembaran multipleks terdengar bersahutan di Balai Kalurahan Pringombo, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul. Di sudut ruangan, beberapa peserta sibuk mengukur papan, sementara yang lain mulai merakit rangka mesin tetas ayam otomatis. Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui praktik langsung yang menyelesaikan persoalan masyarakat.

Peserta pelatihan memotong multipleks sebagai tahap awal pembuatan mesin tetas ayam otomatis pada kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat terintegrasi KKN Universitas Sanata Dharma di Balai Kalurahan Pringombo, Rongkop, Gunungkidul.
Pada Senin, 20 Juli 2026, melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang terintegrasi dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sanata Dharma, tim yang dipimpin Eko Arianto, dosen Fakultas Vokasi sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan KKN Kalurahan Pringombo, menyelenggarakan pelatihan pembuatan mesin tetas ayam otomatis di Balai Kalurahan Pringombo sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam bidang peternakan berbasis teknologi tepat guna.
Program ini pada awalnya dirancang untuk anggota Karang Taruna sebagai sasaran utama. Namun, dalam pelaksanaannya tim menemukan bahwa para pamong kalurahan dan para dukuh menunjukkan antusiasme yang jauh lebih tinggi untuk mengikuti pelatihan. Melihat potensi tersebut, sasaran kegiatan kemudian disesuaikan agar pelatihan dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.
"Pengabdian yang baik adalah pengabdian yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi nyata di lapangan. Ketika melihat siapa yang benar-benar siap belajar dan akan mengembangkan teknologi ini, maka disitulah program harus dijalankan," ujar Eko Arianto.
Belajar Memahami Cara Ayam Mengerami
Pelatihan diawali dengan sesi teori selama kurang lebih 50 menit. Peserta diajak memahami kondisi peternakan ayam di Kalurahan Pringombo serta peluang peningkatan produktivitas melalui penggunaan mesin tetas.
Materi kemudian berlanjut pada proses reproduksi ayam, mekanisme induk ayam mengerami telur secara alami, hingga bagaimana kondisi tersebut dapat direkayasa menggunakan teknologi. Peserta mempelajari pentingnya menjaga suhu inkubasi, kelembaban udara, sirkulasi udara, serta mekanisme pembalikan telur agar embrio berkembang secara optimal.
Untuk memudahkan praktik, seluruh peserta memperoleh modul panduan yang telah disiapkan tim pengabdian dan dicetak oleh pihak kalurahan.
Belajar dengan Tangan Sendiri

Peserta didampingi dosen dan mahasiswa KKN Universitas Sanata Dharma saat merakit kabinet mesin tetas serta memasang komponen elektronik pengendali suhu, kelembaban, dan sistem pembalik telur.
Bagian yang paling menarik justru terjadi saat sesi praktik. Alih-alih hanya menyaksikan demonstrasi, setiap peserta secara langsung membangun mesin tetas mulai dari nol. Berbekal desain yang telah disiapkan, mereka memotong multipleks setebal 15 mm sebagai bahan utama pembuatan kabinet mesin.
Setelah rangka selesai dirakit, peserta mulai memasang berbagai komponen elektronik seperti sensor suhu, sistem pengendali, timer, serta motor penggerak yang berfungsi membalik telur secara otomatis. Mereka juga membuat pintu inkubator, memasang wadah air sebagai pengatur kelembaban, hingga melakukan proses penyetelan dan kalibrasi agar kondisi ruang inkubasi memenuhi standar penetasan.
Pendekatan learning by doing tersebut membuat peserta tidak hanya memahami konsep kerja mesin, tetapi juga memiliki keterampilan untuk membuat, memperbaiki, bahkan mengembangkannya secara mandiri.
Antusiasme Tinggi dari Pemerintah Kalurahan
Pelaksanaan pelatihan mendapatkan sambutan yang sangat baik dari Pemerintah Kalurahan Pringombo. Meskipun tidak ikut merakit secara langsung, Lurah Pringombo tetap mendampingi jalannya kegiatan hingga selesai sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan keterampilan masyarakat.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis teknologi tepat guna masih sangat dibutuhkan, terutama untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat di wilayah pedesaan.
Sinergi Dosen dan Mahasiswa KKN
Kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa KKN Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pendamping teknis selama proses perakitan, tetapi juga belajar bagaimana teknologi dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan pemerintah kalurahan menjadi contoh implementasi tridarma perguruan tinggi yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan solusi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Dosen, mahasiswa KKN, dan peserta pelatihan menunjukkan mesin tetas ayam otomatis hasil perakitan bersama pada penutupan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kalurahan Pringombo.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mereplikasi pembuatan mesin tetas ayam secara mandiri sehingga produktivitas peternakan unggas di Kalurahan Pringombo dapat terus meningkat. Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah mesin, kegiatan ini menjadi langkah awal membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Eko Ariyanto - Dosen Program Studi Mekatronika
Editor : Jean Pierre

Peserta pelatihan memotong multipleks sebagai tahap awal pembuatan mesin tetas ayam otomatis pada kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat terintegrasi KKN Universitas Sanata Dharma di Balai Kalurahan Pringombo, Rongkop, Gunungkidul.
Pada Senin, 20 Juli 2026, melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang terintegrasi dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sanata Dharma, tim yang dipimpin Eko Arianto, dosen Fakultas Vokasi sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan KKN Kalurahan Pringombo, menyelenggarakan pelatihan pembuatan mesin tetas ayam otomatis di Balai Kalurahan Pringombo sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam bidang peternakan berbasis teknologi tepat guna.
Program ini pada awalnya dirancang untuk anggota Karang Taruna sebagai sasaran utama. Namun, dalam pelaksanaannya tim menemukan bahwa para pamong kalurahan dan para dukuh menunjukkan antusiasme yang jauh lebih tinggi untuk mengikuti pelatihan. Melihat potensi tersebut, sasaran kegiatan kemudian disesuaikan agar pelatihan dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat.
"Pengabdian yang baik adalah pengabdian yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi nyata di lapangan. Ketika melihat siapa yang benar-benar siap belajar dan akan mengembangkan teknologi ini, maka disitulah program harus dijalankan," ujar Eko Arianto.
Belajar Memahami Cara Ayam Mengerami
Pelatihan diawali dengan sesi teori selama kurang lebih 50 menit. Peserta diajak memahami kondisi peternakan ayam di Kalurahan Pringombo serta peluang peningkatan produktivitas melalui penggunaan mesin tetas.
Materi kemudian berlanjut pada proses reproduksi ayam, mekanisme induk ayam mengerami telur secara alami, hingga bagaimana kondisi tersebut dapat direkayasa menggunakan teknologi. Peserta mempelajari pentingnya menjaga suhu inkubasi, kelembaban udara, sirkulasi udara, serta mekanisme pembalikan telur agar embrio berkembang secara optimal.
Untuk memudahkan praktik, seluruh peserta memperoleh modul panduan yang telah disiapkan tim pengabdian dan dicetak oleh pihak kalurahan.
Belajar dengan Tangan Sendiri

Peserta didampingi dosen dan mahasiswa KKN Universitas Sanata Dharma saat merakit kabinet mesin tetas serta memasang komponen elektronik pengendali suhu, kelembaban, dan sistem pembalik telur.
Bagian yang paling menarik justru terjadi saat sesi praktik. Alih-alih hanya menyaksikan demonstrasi, setiap peserta secara langsung membangun mesin tetas mulai dari nol. Berbekal desain yang telah disiapkan, mereka memotong multipleks setebal 15 mm sebagai bahan utama pembuatan kabinet mesin.
Setelah rangka selesai dirakit, peserta mulai memasang berbagai komponen elektronik seperti sensor suhu, sistem pengendali, timer, serta motor penggerak yang berfungsi membalik telur secara otomatis. Mereka juga membuat pintu inkubator, memasang wadah air sebagai pengatur kelembaban, hingga melakukan proses penyetelan dan kalibrasi agar kondisi ruang inkubasi memenuhi standar penetasan.
Pendekatan learning by doing tersebut membuat peserta tidak hanya memahami konsep kerja mesin, tetapi juga memiliki keterampilan untuk membuat, memperbaiki, bahkan mengembangkannya secara mandiri.
Antusiasme Tinggi dari Pemerintah Kalurahan
Pelaksanaan pelatihan mendapatkan sambutan yang sangat baik dari Pemerintah Kalurahan Pringombo. Meskipun tidak ikut merakit secara langsung, Lurah Pringombo tetap mendampingi jalannya kegiatan hingga selesai sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan keterampilan masyarakat.
Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis teknologi tepat guna masih sangat dibutuhkan, terutama untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat di wilayah pedesaan.
Sinergi Dosen dan Mahasiswa KKN
Kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran nyata bagi mahasiswa KKN Universitas Sanata Dharma. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pendamping teknis selama proses perakitan, tetapi juga belajar bagaimana teknologi dapat diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan pemerintah kalurahan menjadi contoh implementasi tridarma perguruan tinggi yang tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan solusi yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Dosen, mahasiswa KKN, dan peserta pelatihan menunjukkan mesin tetas ayam otomatis hasil perakitan bersama pada penutupan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Kalurahan Pringombo.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mereplikasi pembuatan mesin tetas ayam secara mandiri sehingga produktivitas peternakan unggas di Kalurahan Pringombo dapat terus meningkat. Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah mesin, kegiatan ini menjadi langkah awal membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Eko Ariyanto - Dosen Program Studi Mekatronika
Editor : Jean Pierre




