
USD — Sebuah pohon yang selama ini hanya dikenal sebagai peneduh di pematang sawah kini berubah peran menjadi sumber penghidupan baru bagi warga Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta mendampingi warga mengolah daun dan biji pohon gayam (Inocarpus fagifer) menjadi produk pangan dan jamu bernilai jual, pada hari Kamis, 16 Juli 2026.
Program bertajuk "Lingkungan Lestari, Rakyat Berseri Melalui Pemanfaatan Pohon Gayam (Inocarpus fagifera) sebagai Bahan Makanan dan Jamu Bernilai Ekonomis" ini digagas oleh tiga dosen lintas program studi: Dr. apt. Dewi Setyaningsih, M.Si. dan Yohanes Dwiatmaka, M.Si., Apt., keduanya dari Fakultas Farmasi USD, bersama Kristio Budiasmoro, M.Si. dari Pendidikan Biologi USD. Kegiatan ini terlaksana berkat pendanaan hibah kompetisi Pengabdian kepada Masyarakat dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sanata Dharma untuk tahun pelaksanaan 2026.
Gayam, Ikon Desa yang Terlupakan
Pohon gayam dipilih bukan tanpa alasan. Di Desa Mulyodadi, pohon ini telah lama menjadi ciri khas sekaligus penjaga sumber air, karena umumnya tumbuh di pinggir sungai dan pematang sawah. Sayangnya, potensi ekonominya belum banyak dimanfaatkan. Melalui program ini, tim USD mendorong agar pohon gayam tidak sekadar berfungsi sebagai sarana konservasi lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomis langsung bagi warga sekitar.


Dari Daun Muda Hingga Biji, Semua Dimanfaatkan
Sasaran utama program ini adalah Kelompok Desa Preneur Mulyodadi yang beranggotakan 39 orang, yang sebelumnya telah mencoba berproduksi, namun masih membutuhkan pendampingan teknis. Dalam pertemuan bersama warga, tim dosen dan kelompok pelaku usaha bertukar pengalaman tentang berbagai cara mengolah gayam.
Menurut informasi dari Bpk Yuli sebagai penggerak program Desa Preneur, daun muda gayam ternyata bisa dimanfaatkan sebagai lalapan, campuran sayur lodeh. Beberapa penduduk juga mencoba mengolah menjadi keripik renyah. Untuk keripik, daun perlu direbus dengan sedikit garam terlebih dahulu agar rasa sepetnya hilang. Pak Yohanes sebagai dosen biologi farmasi mengusulkan pemanfaatan daun gayam sebagai jamu tradisional untuk meredakan diare karena daun gayam banyak mengandung tanin.
Sementara itu, bijinya diolah menjadi berbagai varian, mulai dari gayam rebus, gayam ketan, gayam ampyar, hingga keripik biji gayam dengan inovasi bumbu ketumbar-kencur. Warga juga tengah menyempurnakan resep nastar dan bakpia berbahan dasar gayam untuk mengikuti lomba ketahanan pangan tingkat desa, meski proses uji cobanya tidak selalu mulus — mulai dari kendala menghilangkan bau tengik pada kulit biji, hingga produk yang mudah berjamur jika disimpan lebih dari tiga hari.
Harga 1 kg biji gayam dari simbah-simbah pemanen biji gayam adalah Rp 14.000 – 16.000. Setelah diolah mejadi bapia, kelompok usaha mampu memproduksi belasan dus kudapan dengan harga jual sekitar Rp22.000 untuk rasa original dan Rp25.000 untuk varian cokelat maupun keju per boks isi 15 buah.

Tantangan Musiman dan Rencana Lanjutan
Dalam diskusi, Ibu Upik sebagai anggota desa preneur juga menyampaikan sejumlah kendala teknis, mulai dari pohon gayam yang tinggi sehingga menyulitkan panen, sifat panen yang musiman (sekitar enam bulan sekali), hingga kebutuhan alat pengolah seperti chopper berkapasitas lebih besar. Pertanyaan seputar kandungan gizi biji gayam dan cara mengurangi efek kembung setelah mengonsumsinya turut menjadi bahan diskusi yang akan ditindaklanjuti oleh tim dosen dalam pendampingan berikutnya.
"Kami ingin pohon gayam ini betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun kelestarian lingkungan. Potensinya besar, tinggal bagaimana kita bersama warga menemukan cara pengolahan dan pengemasan yang tepat agar produknya lebih tahan lama dan bernilai jual lebih baik,"ujar Dewi Setyaningsih, yang juga menjabat Dekan Fakultas Farmasi USD.
Yohanes Dwiatmaka menambahkan bahwa pendampingan ke depan akan difokuskan pada perbaikan proses pengolahan dan penyimpanan produk, sementara Kristio Budiasmoro menyoroti pentingnya menjaga kelestarian pohon gayam sebagai bagian dari ekosistem yang menopang ketersediaan air di desa tersebut.
Program pengabdian ini masih berlangsung dan tim dosen USD berencana menyusun laporan kemajuan sekaligus mendokumentasikan seluruh proses pendampingan sebagai bahan pembelajaran bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi pangan lokal serupa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh LPPM Universitas Sanata Dharma melalui skema hibah kompetisi Pengabdian tahun pelaksanaan 2026.
Tim Dosen Universitas Sanata Dharma
Editor : Jean Pierre
Tim Dosen Universitas Sanata Dharma
Editor : Jean Pierre




